
Di dalam kamar yang terasa sangat rapi ini, Dina dan Sendi baru saja menutup pintu kamar dengan menguncinya rapat.
Kamar yang sudah seminggu mereka kosongkan sejak pergi bulan madu, kini sudah kembali mereka tempati.
"Huh...akhirnya sampai juga di kamar kita." tutur Dina yang ingin meluruskan pinggangnya di kasur empuk itu.
"Sendi..." pekiknya kala merasakan sang suami sudah menghambur memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu, Din." suara Sendi terdengan berat di ceruk leher sang istri kala itu.
Dina tampak menggeliat kegelian karena ulah sang suami.
"Aku bau loh, lepasin. Kita harus mandi dan turun ke bawah kembali." ujarnya memperingati sang suami jika di bawah sana para keluarga tengah menunggu mereka.
"Ah...nanti-nanti saja. Bolehkan aku meminta itu lagi saat ini? Sekali saja?" tanya pria itu dengan mengedipkan sebelah matanya genit pada sang istri.
"Apa kurang seminggu di sana? Hingga kau memintanya lagi saat kita baru saja sampai di sini." ujar Dina merasa suaminya tengah mengerjainya dengan menggoda.
Namun, ternyata itu hanyalah dugaannya. Karena sang suami benar adanya saat ini tengah menginginkan dirinya.
"Masih kurang. Bahkan sangat kurang." jawab Sendi mulai mengungkung tubuh wanita itu dengan kedua tangan miliknya yang menjadi tumpuan tubuh kekarnya itu.
"Kau serius?" tanya Dina.
Namun bukanlah jawaban yang ia dapatkan melainkan sentuhan hangat dan lembut yang Sendi berikan dari bibirnya saat ini.
__ADS_1
Keduanya tampak saling bertautan lidah di sana dengan suara erangan yang mulai terdengar jelas lambat laun. Seiring tangan pria itu bergeriliya di kedua bukit kembar indah milik sang istri.
"Sen..." Dina mendesis sembari menggeliatkan tubuhnya.
Terasa jelas di bawah sana bagian tubuhnya seakan menuntut untuk sang pria melakukan hal yang beberapa hari belakang ini terus mereka jadikan rutinitas hangat. Hal yang sangat memabukkan siapa pun jika sudah mencapai pada puncak kenikmatan.
Hingga tanpa sadar, mereka sudah sukses menyatukan tubuh mereka menjadi satu dan mulai menciptakan suara-suara merdu pada benda persegi panjang yang terasa empuk di bawah mereka.
Di sisi yang berbeda.
"Bunda, sebaiknya bawa saja Ayah untuk beristirahat. Sepertinya mereka tidur di kamar karena kelalahan. Lagi pula masih ada hari esok untuk kita berkumpul lagi." tutur Dava yang menduga sama persis dengan yang sebenarnya terjadi di dalam kamar Dina dan Sendi saat ini.
"Iya, benar kata Jeff. Sya, ayo kita istirahat saja. Oh iya, Sarah, Wuri, sebaiknya tinggallah di sini sampai sore nanti. Kalian harus ikut makan malam dengan kami setidaknya malam ini." titah Tuan William yang melihat kedua wanita itu tampak tidak sempat bertemu lama dengan Sendi dan juga Dina lebih tepatnya pada Wuri sebagai ibu angkat dari anaknya.
Mendengar perintah dari sang pemilik rumah, keduanya pun mengangguk setuju. "Baik, Tuan." jawabnya dengan serentak.
Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa kini usia pernikahan Dava dan Ruth sudah menginjak usia satu bulan.
Pagi ini Dava dengan wajah segar sehabis mandi tampak menghampiri sang istri yang tengah mengurus sang baby Rava di kamarnya. Ia baru saja selesai memandikan anak bayi tampan itu.
Tiba-tiba saja Ruth di kejutkan oleh dua tangan besar melingkar di pinggangnya. "Dav, lepaskan tanganmu. Nanti Rava akan marah." sahutnya dengan ketus tanpa mau menoleh ke arah sang suami yang jelas ia tahu siapa pemilik tangan itu.
Mendapatkan respon dingin dari sang istri, membuat Dava melepaskan tangannya seketika. "Hei..." godanya kembali pada sang istri dengan mencolek dagu lancip milik wanita bermata cokelat itu.
Sekali lagi, usaha Dava justru tidak berhasil. Ruth memutar malas bola matanya yang indah itu. Pertanda jika ia sedang kesal pada sang suami.
__ADS_1
"Menjauhlah. Setelah ini aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian." tuturnya tetap fokus memberikan wewangian di tubuh sang anak.
Dava terdiam dan menatap sang istri dengan kening yang mengernyit. Ada apa dengan istrinya pagi ini, pikirnya menerka-nerka.
Dava mengingat semalaman, rasanya tidak ada yang salah yang ia lakukan selama tidur. Tetapi mengapa saat pagi yang seharusnya mendapatkan sambutan hangat, kini justru ia mendapatkan sahutan-sahutan ketus dari sang istri. Tidak bisa di biarkan ini, pikirnya lagi.
"Sayang, ada apa? Apa kau tertendang olehku semalam? Jika memang iya, maafkan aku, Ruth. Pagi ini ada meeting penting di perusahaan, jika pikiranku kacau bagaimana aku bisa fokus. Ayolah jangan buat suamimu ini menderita. Kasihan perusahaan Ayah, Ruth." tutur kata yang penuh dengan kelembutan sukses membuat Ruth melemah seketika.
Ia dengan bijaknya menyingkirkan rasa egonya demi perusahaan sang ayah yang tidak mungkin ia korbankan hanya karena sesi ngambek-ngambekkan ala istri di pagi hari.
"Apa kau lupa ini minggu keberapa?" tanyanya dengan wajah di buat sebaik mungkin. Tidak ada lagi tatapan cuek seperti awal Dava menghampirinya.
Seketika Dava mengernyitkan dahinya semakin dalam lagi. "Minggu ke empat. Oh...kau ingin kita merayaka anniv pernikahan kita? Astaga sayang...apa itu harus setiap bulan? Bukankah kita akan merayakannya setahun sekali?" lagi-lagi Dava terkekeh mendengar saat dugaannya terarah ke sana.
Dan hal itu justru menjadikan Ruth yang berusaha menahan egonya menjadi semakin geram.
"Dav, berhenti membuatku kesal. Apa kau tidak merindukan aku? Apa kau tidak menginginkan aku lagi? Apa begini kisah pernikahan yang sudah pernah bercerai? Aku bahkan sudah menunggumu menyentuhku mulai kemarin lusa." tiba-tiba saja seluruh ucapan yang berusaha ia tahan sejak kemarin terlontarkan begitu saja dengan lancar tanpa hambatan.
Dava terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Wajah yang semulai begitu girang kini terdiam tanpa kata. Kedua netra hitam miliknya pun tak berkedip sama sekali menatap sang istri.
Ruth yang kesal setelah mengucapkan semua isi hatinya segera membawa baby Rava dengan wajah yang bertopeng penuh bedak bayi keluar dari kamar itu. Entah kapan tangan itu memoleskan bubuk putih itu, yang jelas sang bayi pun tak merasakan risih saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang ibu.
Ia hanya asik bermain dengan jemari kecilnya yang di masukkan ke dalam mulutnya.
"Ruth, tunggu." Dava segera mencekal tangan sang istri yang baru saja ingin melewatinya ke luar kamar itu.
__ADS_1
Ia buru-buru mengambil sang anak dan keluar setelah menutup pintu kamar. Sedangkan Ruth hanya berusaha mengatur napasnya di dalam kamar. Antara malu dan kesal bercampur menjadi satu saat itu. Wajahnya memerah, dadanya terasa bergemuruh merasakan panas karena sangat malu harus berucapn hal intim pada sang suami.
Tentu saja, selama sebulan ini ia begitu merindukan sang suami, semua itu berusaha ia tahan demi kebaikan mereka berdua. Tak di sangka waktu yang begitu lama justru membuat Dava melupakan hal itu karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang begitu padat.