Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 103. Kembalinya Dava


__ADS_3

Tidak ada yang tahu, bagaimana Dava di seberang telepon. Bahkan ia membungkam bibirnya kala mendengar suara siapa yang memintanya untuk tetap di sana.


"Hiks...hiks...hiks." Isakan tangis Dava tak terbendung lagi. Ia sudah tidak bisa menahan segala sakit yang ada di hatinya.


Dava terus membungkam bibirnya mendengar racauan di seberang telepon itu.


"Aku mohon, jangan membuatku terluka lagi, Dav. Aku mohon dengan sangat. Aku sudah lelah menjalani semuanya. Aku mohon jangan kembali membuka luka di hatiku."


"Kau berjanji akan memberikan senyuman untukku dan anak kita, bukan?" Ruth berucap lirih dan perlahan ia pun tak bersuara lagi.


Dua pria yang mendengarkan racauan itu kini sama-sama merasakan sakit yang teramat dalam.


"Kenapa harus dia, Ruth?" Sendi bergumam merasa sangat iri. Jika saja dengan dirinya, mungkin kali ini Sendi tidak akan membiarkan air mata itu untuk jatuh begitu saja.


Namun Dava, cinta yang sangat besar ia berikan pada Ruth ternyata justru akan sangat menorehkan luka yang mendalam. Bagaimana ia memberikan cinta yang begitu sempurna bahkan tidak ada luka sekecil apa pun sebelumnya, kini takdir tidak berpihak pada cinta suci mereka.


"Segeralah kembali." ucap Sendi pada akhirnya usai melepaskan segala sakit hatinya dengan tangisan tanpa suara.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Dava dengan wajah sembab yang barusan ia usap kasar.

__ADS_1


"Hem. Semua baik. Tapi jika seperti ini terus, kandungannya adalah hal yang paling terancam. Depresi sangat berakibat buruk untuk keadaan janinnya, Dav."


"Aku harus segera kembali ke Jakarta. Kembalilah paling lambat besok." lanjut Sendi segera mengakhiri panggilan tanpa mau mendengar apa ucapan Dava di seberang sana.


Sambungan telepon pun terputus begitu saja.


Terdengar decitan pintu terbuka lalu tertutup kembali.


Muncullah sosok pria yang berwajah sangat lesu dan sembab dari arah pintu tersebut.


Tarisya menatap penuh tanya pada sosok tampan di depannya kini.


"Jeff, ada apa Nak?" tanyanya dengan suara serak nan lemas.


"Perusahaan Ayah? Apakah semuanya masih ada, Jeff?" tanya Tarisya yang begitu syok mendengar perusahaan sang suami masih di tangani oleh sang anak.


Yah, ia sangat mengingat dengan jelas jika saat di sekap, dirinya dan sang suami terpaksa harus memberikan seluruh perusahaan tersebut dengan dalih jika Deni Sandoyo akan mengakuisisi perusahaan D Group.


Dava terdiam beberapa saat. Dirinya saat ini sangat tidak berdaya untuk menjelaskan semuanya. Hatinya jauh lebih banyak masalah kali ini.

__ADS_1


"Huh..." Dava menghela napasnya dengan pelan lalu tersenyum.


Bagaimana pun, wanita di depannya ini harus tetap melihat kekuatannya sebagai anak pertama.


"Bunda, semuanya nanti akan Dava...Jeff jelaskan. Untuk saat ini Jeff harus segera mengatasi semuanya terlebih dahulu. Bundah harus segera sembuh." Dava mencium hangat kening sang Bunda dan mengusap kedua pipi keriput itu.


Tarisya tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Hati-hati anakku..." tuturnya lembut.


Sungguh ucapan Tarisya semakin membuat kekuatan Dava terenyuh seketika.


'Anak'. Kata itu membuatnya semakin sakit mengingat sang istri saat ini sudah mengandung darah dagingnya. Apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan sang istri ke depannya nanti? sungguh Dava tak pernah memikirkan jika kehidupan keluarga kecilnya yang selalu ia impikan akan sangat bahagia dengan kesederhanaan akan hancur begitu saja hanya karena ikatan darah yang terpecah belah sebelumnya.


Tok Tok Tok


Di sinilah saat ini Dava, setelah menempuh perjalanan cukup lama dengan mobil menuju bandara dan pesawat untuk menuju sang istri berada saat ini. Akhirnya ia berhasil menghampiri sang istri yang masih dalam pengawasan sang kakak ipar.


Decitan pintu ruang rawat pun terdengar meski pelan.

__ADS_1


Wajah lelah usai tidur dengan keadaan terus mengigau, kini tersenyum cerah saat melihat siapa sosok yang datang kali ini.


"Sayang..." Ruth berteriak girang seraya merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan sang suami yang masih berdiri diam di ambang pintu ruang rawatnya.


__ADS_2