
Tangis haru kini terdengar di halaman rumah bak istana itu. Semua wajah yang cerah pagi ini menjadi sembab. Semua bukan tanpa alasan. Tetapi hanya karena dua lembar kertas yang berisi tiket honeymoon untuk sepasang suami istri yang bukan pengantin baru.
Tepat setelah seminggu pernikahan Dava dan Ruth, mereka berdebat tentang tiket pemberian sang paman dan bibi yang begitu baik membelikan tiket ke swiss.
Meski awalnya tiket itu akan di tambah dengan dua orang lagi, namun atas permintaan sang pengantin baru akhirnya Tuan dan Nyonya Fredi luluh dan menyetujui permohonan Dava dan Ruth.
"Sendi, jaga Dina di sana yah?" tutur Nyonya Wuri yang tak henti-hentinya meneteskan air mata melihat sang anak ingin pergi jauh dari mereka.
"Ibu sudahlah jangan menangis terus. Nanti sakit, kami akan membatalkan keberangkatan ini." ucap Sendi yang merasa enggan untuk pergi dari sisi keluarganya.
"Berson, hati-hati. Jagalah menantu Bunda, Nak. Kau jangan memikirkan dirimu sendiri lagi. Perjalanan kalian sangatlah jauh." Tarisya ikut mendekat pada anaknya dan memeluknya begitu erat.
Hati Sendi benar-benar hangat memeluk dua wanita yang begitu menyayanginya dengan tulus. Di jarak yang tak jauh, Dina pun tersenyum melihat pemandangan yang mengharukan kini.
"Hati-hati yah Sayang? Ibu akan menunggu kabar kalian sampai di sana. Jangan berkelahi lagi di sana." tutur Wuri yang sudah beranjak memeluk sang anak perempuan usai melepaskan pelukannya dari sang menantu.
__ADS_1
"Iya, Bu. Ibu jangan khawatir. Di sana itu Dina sudah terbiasa sendiri." ucapnya mengingat saat dulu dimanjakan sang ayah. Ia tak pernah libur untuk berjalan-jalan keluar negeri.
Tinggal menyebutkan saja negara mana yang ingin ia tuju, dengan senang hati Tuan Deni langsung memberikan uang tiket untuknya.
Setelah selesai pamitan dengan semua orangtua, Dina dan Sendi mendekati Ruth dan Dava. Mereka tersenyum begitu bahagia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hati-hati, Kak dan juga Kakak ipar. Semoga dengan tiket ini kalian bisa menghabiskan waktu lebih baik lagi bersama." ucap Ruth dengan tulus.
Ia tahu hati Sendi masih begitu besar untuknya. Namun, melihat sikap Dina yang sangat baik, ia tidak ingin membuat hubungan itu hanya berjalan sia-sia tanpa ada yang berubah.
Dina tak bisa mengatakan apa pun lagi. Bagai terasa mimpi bisa kembali ke luar negeri setelah perjalanan hidupnya yang sangat menyakitkan selama kepergian sang ayah.
Ia pun mengangguk tersenyum. Air matanya jatuh, dan kedua tangannya segera memeluk erat tubuh sang adik ipar dan juga tubuh baby Rava yang berada di gendongan Ruth.
Di samping mereka, ada Sendi yang berhadapan dengan Dava. Ia tersenyum dan langsung merangkul pundak sang kakak angkatnya. "Terimakasih, Dav. Terimakasih semuanya. Aku percayakan Ruth padamu saat ini dan selamanya. Bahagiakan dia..." tepukan dua kali di punggung Dava membuatnya yakin jika saat ini Sendi sudah benar-benar mengikhlaskan segalanya yang terjadi.
__ADS_1
"Hati-hati. Terimakasih juga untuk semuanya." ucap Dava dengan baik.
Semua menangis setelah melihat Dina dan Sendi menggeret koper dan di bantu ketiga pelayan untuk menatap koper itu di bagasi mobil.
"Maaf, Tuan." sapa Bi Ri pada Sendi yang ingin memasuki mobil bersama sang istri.
Kening Sendi mengernyit seketika. "Ada apa, Bi?" tanyanya dengan heran.
"Em...itu, Tuan. Pak Ardinya belum datang. Katanya lagi di perjalanan soalnya kesiangan." ucapnya dengan raut wajah takut.
"Ya Allah, katanya kemarin siap bangun pagi. Ini baru hari pertama kerja loh, Bi?" Sendi memijat keningnya yang mendadak pening melihat tingkah supir yang baru saja mau bekerja di hari pertama.
"Sen, tunggu sebentar lagi. Ini waktunya belum terlalu mepet kok. Masih ada waktu beberapa jam lagi." Dina memilih menenangkan sang suami dengan ucapan lembutnya.
"Astaga, Dina kita tidak tahu perjalanan nanti macet atau tidak." ucap Sendi.
__ADS_1
"Kalau macet, nanti Ayah yang akan belikan tiket baru untuk kalian." sanggah Tuan Willian dengan suara lantangnya.