Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 50. Kenikmatan Perlahan


__ADS_3

Iringan musik yang hanya terdengar merdu tanpa mengusik suasana makan romantis di waktu senja itu membuat keduanya makan dengan lahap. Bahkan keduanya tidak ada terdengar bersuara lagi, hanya dua pasang sendok dan garpu yang saling berdentingan dengan piring mereka.


Sentuhan gaun berwarna biru mudah di tambah dengan beberapa aksen glitter membuat wanita itu tampil begitu glamour. Meski terlihat jelas wajahnya sangat polos tanpa polesan make up. Namun, kecantikan memanglah berdasarkan lahirnya. Bukan berdasarkan polesan make up yang sering kali membuat para kaum adam tertipu.


Setelah sekian menit mereka menyantap makanan hasil olahan tangan Mbok Nan, akhrinya Dava memutuskan untuk kembali fokus dengan momen ini. Tenaganya sudah cukup terisi penuh dengan makanan lezat itu.


Di tatapnya wajah yang masih tertutup sebagian gelas karena sedang meneguk minumannya. Dava menyunggingkan senyumannya dengan tipis.


"Em...maaf." Ruth berucap karena merasa tidak enak hati telah mengabaikan Dava yang sedari tadi sudah selesai makan darinya lebih dulu.


"It's oke."


"Ruth," Dava menggenggam kembali tangan yang sudah ia lepas tadi untuk makan.


"Hem?" Ruth menatapnya penuh tanya.


Perlahan namun pasti, tangan pria itu menarik tangan yang berada dalam genggamannya. "Eh..." Hingga Ruth kesulitan untuk duduk pada posisi awalnya.


Dava menarik tangannya begitu erat namun penuh kelembutan.


Deg! Deg! Deg! Begitulah suara detakan jantung pria itu yang jelas bisa di rasakan oleh Ruth. Entah apa maksud Dava membuatnya seperti itu hingga mendengarkan detakan jantungnya.


"Apa kau mendengarnya, Ruth?" tanya Dava dengan wajah yang sangat serius.


Ruth yang tercengang melihat tingkah sang suami mengangguk ragu. Namun matanya terus menatap dalam pria di hadapannya.


"Jantung ini bahkan sudah menyatu dengan pikiran dan ucapanku. Ketika...aku mengatakan aku mencintaimu. Malam ini adalah malam yang sudah menjadi takdir kita untuk tetap bersama tanpa alasan apa pun untuk berpisah lagi."


"Ruth, apa kau bersedia menjadi istriku sepenuhnya di mulai malam ini?"


Mata cokelat milik Ruth membulat mendengar penuturan sang suami yang sangat mengejutkan dirinya. "Apa itu artinya malam ini adalah malam dimana dirinya akan menyerahkan tubuhnya pada sang suami? melayaninya seperti pada umumnya sepasang suami istri?"


Ruth masih tak berani berkata apa pun. Bibirnya terasa membeku, ia masih bingung harus menjawab apa dan bagaimana mengatakannya.


"Iya? atau tidak? atau iya aku mau?" Dava  masih diam menunggu jawaban sang istri.


Ia bahkan tersenyum geli memperhatikan wajah sang istri.

__ADS_1


Ruth tampak menggigit bibirnya kecil. Tangannya pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajah putih itu memerah bak kepiting rebus.


Perlahan namun pasti, kepala itu mengangguk setuju. Dan melengkunglah bibir seorang Dava Sandronata.


Malam yang menjadi penantiannya yang terasa panjang akhirnya usai saat ini juga. Hari yang benar-benar membuat jiwa seorang lelaki pasti akan merasakan hal yang paling bahagia lebih dari apapun.


"Yes! Yes! Are you seriously?" Dava kembali memastikan pada sang istri. Kedua tangannya memegang erat bahu sang istir, Ruth pun mengangguk sembari menyembunyikan senyumannya yang begitu membuatnya malu.


Tanpa berkata apa pun lagi, Dava segera merengkuh tubuh sang istri dan menggendongnya ke dalam rumah.


Semua wajah pemain musik, Mbok Nan dan juga Putri tertawa cekikikan tanpa suara. Dava begitu terlihat bahagia seperti orang yang baru saja memenangkan lotre puluhan miliar. Langkah cepat pria itu terus di iringi dengan tawa Ruth dan suara meronta meminta untuk di turunkan.


"Dava! Turunkan aku, Dav."


"Hahaha ampun!"


Namun segala permohonan wanita itu hanya seperti suara sorakan untuk perjuangan seorang Dava Sandronata kali ini. Sama sekali membuatnya tak menghentikan aksi agresif itu.


Brak!


Pintu kamar yang tertutup ia buka dengan kaki dan kembali ia tutup dengan kakinya. Tak perduli pintu terkunci atau tidak.


"Dav, em..." Ruth terbungkam dengan bibir sang suami secepat kilat.


Dava begitu menyerangnya dengan liar. Tak ada suara percakapan di antara mereka kali ini. Hanya deru napas yang saling berkejaran mengiringi pergulatan indera perasa itu.


Tak ada paksaan dan juga tak ada penolakan. Kedua insan yang sudah saling menerima ikatan pernikahan itu membuat mereka saling menyerahkan hak masing-masing.


"Maaf jika aku tidak begitu pandai." Ucapan Dava membuat Ruth malu mendengarnya.


Apa kabar dengan dirinya yang benar-benar bingung harus berbuat apa sebagai wanita?


"Aku...em, kau jangan meminta maaf. Tapi aku yang harus bagaimana sekarang?" ucap Ruth bingung kala bibir mereka sudah saling basah dengan pertukaran salivah tersebut.


Dava tersenyum. Ia yakin, jika sang istri sama dengannya yang belum berpengalaman dalam hal seperti ini.


"Berpejamlah." pintahnya setelah lama keduanya saling menatap bingung dan canggung.

__ADS_1


"Pejam?" Ruth memastikannya kembali dan kemudian mengikuti perintah sang suami.


Ruth terpejam dengan kedua kelopak mata yang bergetar menahan ingin terbuka kembali.


Deg!


Jantungnya terasa ingin melompat dari tempat saat merasakan tangan besar itu sudah bergerak dengan kaku pada kedua benda miliknya yang terasa seperti tumpukan lemak yang empuk.


"Tahan, Ruth. Tahan...tetap pejamkan matamu. Aduh...lalu aku harus apa? Apa yang ku perbuat sekarang Tuhan? Tolong hambamu, Tuhan?" Ruth begitu gugup.


Tangannya terlihat mengepal sangat erat bahkan sampai bergemetaran di atas tumpuan kedua pahanya.


Sementara Dava terus menikmati bibir ranum itu dengan imajinasi yang mengalir begitu saja di benaknya. Sesuai dengan keinginan apa yang ia ingin rasakan saat ini.


"Tuhan, ijinkan aku menjamah istriku saat ini. Ijinkan kami menyempurnakan pernikahan kami. Ijinkan pernikahan kami menjadi pernikahan yang bahagia dengan hadirnya anak yang akan menjadi hambamu, Tuhan."  Dava masih sempat-sempatnya berucap segala apa yang ia harapkan saat sedang menuju puncak gunung kenikmatannya.


Kenikmatan dari bibir itu di bawa hingga menjelajahi leher putih nan mulus milik sang istri yang sudah terekspose karena gaun miliknya tak tentu arah di buat sang suami.


Keringat dingin pun mulai mengucur deras pada dahi milik Ruth, saat ia merasakan indera perasa sang suami bermain pada bahunya sembari melancarkan aksi tangannya melepas resleting di belakang.


"Arghh!!" Jeritan dan tangisan pun terdengar serentak saat itu.


"Emmm..." Dava mengumpat mulut sang istri yang refleks berteriak kencang saat itu.


Kedua tubuh itu menegang sejenak. Ruth bahkan tak sadar jika ia sudah mengeluarkan air mata karena sakit yang begitu terasa merobek mahkotanya.


"Maafkan aku, Sayang. Bertahanlah dulu." bisik Dava mengecup cuping telinga sang istri.


Matanya masih terpejam menikmati pengalaman pertamanya yang baru membuatnya seakan lupa dengan kenikmatan lainnya selama ini.


Bibirnya tersenyum memeluk erat tubuh sang istri, Dava merasakan hal yang benar-benar nyata kali ini. Hatinya begitu bahagia, bahkan untuk melanjutkan permainan itu pun ia merasa tidak sanggup. Tidak sanggup untuk segera mengakhiri kenikmatan itu.


Maka ia memilih untuk menikmati dengan penuh penghayatan.


Perlahan demi perlahan, ia hentakkan tubuhnya hingga rasa sakit yang Ruth rasakan berubah menjadi surga dunia. Matanya sesekali terpejam dan berganti menjadi terbuka kembali.


Perlahan demi perlahan, namun pasti. Gerakan sentuhan itu semakin berjarak lebih cepat dari sebelumnya. ******* pun saling terdengar bersahutan di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Tubuh yang sama-sama polos tak lagi membuat mereka perduli dengan terangnya sorotan lampu di kamar itu. Kenikmatan surga dunia seakan membuat semuanya hilang akal sekejap.


__ADS_2