Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 175. Perkembangan Tuan Wilson


__ADS_3

Dua mata yang memiliki warna hampir sama kecokelatan tampak memandang penuh dengan kesedihan mendalam. Ingin mundur dari hidup yang membuatnya terasa seperti terombang ambing, Ruth bersedia untuk keluar dari rumah itu dan meninggalkan semuanya.


Ia sangat tidak ingin membuat pria baik seperti Dava terluka semakin dalam, Sudah cukup semua masalah yang ia bawa ke dalam kehidupan sang kakak selama bersamanya.


"Kak Jeff orang baik, Bunda. Selama ini dia menjagaku dengan begitu baik. Tidak membiarkan air mataku jatuh selama ada dia. Bukankah aku orang yang sangat kejam jika terus membuatnya terluka sampai saat ini, Bunda?" Ruth menangis setelah mengatakan itu pada sang bunda.


Tarisya menggelengkan kepala tak sanggup berbicara apa pun lagi saat ini. Ia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai kakak, Nak." tuturnya memeluk erat tubuh sang anak perempuan yang sudah terlihat semakin berisi.


"Kau tidak bisa pergi kemana-mana...apalagi melihat keadaanmu yang berbadan dua sekarang, Sayang. Sudahlah semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu."


Sendi yang sedari tadi menatap dua wanita di depannya hanya bisa terdiam. Tidak akan ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikan kesedihan sang adik tercinta.


"Bunda mohon dengan sangat, kendalikan perasaan kalian, Nak. Sampai kapan pun dan bagaimana pun hubungan itu tidak akan menjadi apa-apa."


"Andai itu bisa ku lakukan dengan mudah, Bunda. Aku akan melakukannya tanpa Bunda suruh. Tapi mengapa hati ini selalu berlawanan dengan pikiranku, Bunda?" batin Ruth hanya terdiam mendengar penuturan sang bunda.

__ADS_1


"Sya..." suara lirih seseorang di malam itu membuat semua yang ada di kamar segera menoleh ke arah sumber suara.


"Maaf, Nyonya. Tadi saya menemukan Tuan di depan kamarnya mendorong kursi roda hampir terjatuh." Mbok Nan yang tampak mendorong kursi roda di belakang pria lumpuh itu segera menjelaskan mengapa dirinya membawa Tuannya ke kamar yang tengah terasa begitu panas malam ini.


"Astagfirullah Ayah..." Tarisya dan Ruth bersuara serentak melihat sang ayah sudah bisa mengeluarkan suaranya sedikit dan lemas.


"Bunda, biarkan Shandy saja yang mengompres Kak Jeff. Bunda temani Ayah saja..." ujarnya saat melihat sebelah tangan Mbok Nan sedang memegang alat kompres yang tadi di pintahkan sang majikan.


"Shandy, biarkan Bunda yang melakukannya. Kau di sini saja. Ayah mu akan tetap di sini bersama kita." Tarisya berjalan pelan menghampiri sang suami dan mengambil alih dorongan kursi roda dari Mbok Nan.


"Em...em...em,"


Tentu saja sang istri tidak bingung. Ia sudah bisa menduga dengan gerakan mata, bibir, dan tangannya.


"Iya, Ayah. Mereka sudah berpisah. Bunda tidak akan membiarkan pernikahan itu terus berlangsung, Ayah jangan khawatir, okey?" tuturnya menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya.


Beberapa kali Tuan Wilson berusaha untuk mengatakan sesuatu dengan begitu gelisahnya. Namun bibirnya masih sangat sulit untuk mengeluarkan suara dengan jelas.

__ADS_1


"Ayah, Bunda sangat senang melihat Ayah mulai bisa berbicara. Dengan memanggil nama Bunda. Terimakasih, Ayah sudah semangat untuk sembuh." pelukan lembut ia berikan pada sang suami di dalam kamar itu.


Meski suasana sedang tidak mendukung, namun perkembangan sang suami membuatnya sangat senang.


Untuk sejenak ia lupa dengan dua sosok yang saling berdekatan saat ini. Ruth menatap wajah sang kakak dengan tatapan nanar. Meski sudah cukup lama mereka berada di sana, namun tanda-tanda akan kesadaran Dava masih belum terihat juga.


"S-sya, me-mere-ka...b-bu-buk-an...a-anak-k-ki--t-a." penuturan sang suami yang sontak membuat Tarisya melepaskan pelukannya.


Ia mengerutkan keningnya penuh dengan ketidakpercayaan mendengar suaminya bisa berbicara terlebih lagi bicara tentang anak mereka.


"Hehehe...Ayah bicara apa sih? Jelas mereka anak kita. Lamanya kita di sekap membuat Ayah tidak bisa mengingat jika anak kita sudah besar-besar, bukan?" meski terkejut namun sikap tenang Tarisya mampu membuatnya tetap berpikiran positif dari apa yang di ucapkan sang suami.


Kembali Tuan Wilson menggelengkan kepalanya.


"Bunda, sebaiknya Ayah di bawa ke kamar saja. Ayah pasti lelah, mungkin daya ingatnya sedikit terganggu karena penyekapan itu..." Sendi meminta sang bunda untuk meninggalkan kamar itu dengan sang ayah.


"Iya kau benar, Berson. Ayahmu pasti masih belum sembuh total..." Dengan cepat Tarisya membawa sang suami untuk pergi ke kamar mereka.

__ADS_1


Hatinya terasa sedikit tenang melihat perkembangan sang suami saat ini.


__ADS_2