Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 217. Kepergian Ke Bandung


__ADS_3

Malam yang hangat pun kini berganti dengan  pagi yang terasa sangat cepat. Mentari yang baru saja terasa tenggelam kini sudah kembali menampakkan sinarnya dengan sapaan cerah.


Seperti permintaan Tuan Wilson saat kemarin sore, pergi ke Bandung untuk melakukan sesuatu. Mendengar kabar itu, tentu saja semua yang ada di meja makan pagi ini begitu terkejut.


"Ayah, Bunda, untuk apa kalian kesana? Itu perjalanan yang cukup jauh. Bagaimana jika Ayah..." Sendi menghentikan ucapannya saat melihat kepala sang bunda menggeleng.


"Kalian tidak perlu khawatir. Karena bukan hanya Ayah dan Bunda saja yang pergi." Tarisya mengatakannya dengan sepotong. Tentu saja semuanya semakin penasaran, siapa lagi yang akan pergi bersama kedua orangtuanya ke Bandung.


"Kalian akan ikut bersama kami. Jeff, dan juga Berson. Kalian bersiaplah." tuturnya tanpa terbantahkan.


Dua anak pria itu bersuara dengan patuh. "Baik, Bunda." ucap keduanya serentak.


"Bunda, ada apa sebenarnya?" Kini giliran Ruth yang bertanya setelah kedua pria itu beranjak dari tempat duduknya.


"Ada hal penting, Sayang. Kau baru saja melahirkan jadi tetaplah di rumah bersama Mbok Nan dan juga Putri." Tuan Wilson yang sedari tadi diam, kini mengatakan perhatiannya pada sang anak perempuan.


"Apa telah terjadi sesuatu dengan perusahaan, Ayah?" tanyanya merasa cemas kali ini.


"Tidak. Sungguh tidak ada yang terjadi, Shandy. Tolong jangan membuat pikiranmu berat. Tubuhmu masih belum terlalu kuat, Nak. Ayah dan Bunda ingin mengunjungi suatu tempat yang sangat kami rindukan. Oleh sebab itu kami meminta kedua kakakmu untuk menemani kami." terang Tarisya lagi.


Dengan berat hati, Ruth pun mengangguk paham. "Bunda dan Ayah hati-hati. Segeralah kembali jika sudah selesai semuanya."


Senyuman lembut terbit di wajah Tarisya dan juga Tuan Wilson. Tak lupa keduanya meminta bocah cantik di depannya itu untuk menjaga sang ibu.


"Putri, kau harus jaga Mamah yah? Lihat dedek Rava masih sangat rewel. Jadilah kakak yang baik untuk adikmu, Sayang." tutur Tarisya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.


"Siap, Nenek." seru Putri menempelkan tangannya sebelah kanan di kening membentuk posisi hormat.

__ADS_1


Semua pun terkekeh melihatnya.


Selang beberapa menit berlalu, kini Sendi dan Dava akhirnya baru selesai bersiap dan kembali ke meja makan untuk memulai sarapan dengan yang lainnya.


"Mbok, tolong jaga Ruth yah dan Rava. Putri, kau harus pintar sayang." Dava memberikan pesan pada Mbok Nan dan setelah itu kepapa Putri juga.


"Baik, Tuan." sahut Mbok Nan.


"Oke Ayah." sahut Putri.


Semuanya pun makan dengan tenang, seperti keadaan sebelumnya, Dava menyuapi Ruth makan dengan sangat penuh perhatian. Ia sungguh tidak tega jika melihat Ruth makan dengan posisi tangan yang terus menggendong anak mereka.


"Shandy, Rava jangan selalu di gendong, Nak." Tuan Wilson pun yang tengah menikmati makannya memperhatikan keadaan Ruth di depannya.


"Rava selalu menangis, Ayah jika di letakkan." jawab Ruth dengan lembut.


"Semua bayi memang seperti itu, Nak. Mereka akan manja jika terbiasa di gendong. Cobalah biasakan untuk meletakkannya di box. Pasti lama-lama akan terbiasa." sahut Tarisya lagi.


Saat ini dirinya harus banyak belajar dari sang bunda. Karena minimnya pengalaman membuatnya harus lebih banyak belajar.


"Jika kau lelah, aku akan mencarikan baby siter." Dava yang tengah menyuapinya makan akhirnya menyuarakan isi pikirannya sejak tadi yang terus berputar di dalam sana.


"Tidak, Dav. Aku ingin merawat anak kita sendiri. Aku bahagia mengurusnya. Kau tidak perlu khawatir. Rava akan baik bersamaku." Ruth memang tidak ingin meninggalkan sebentar saja sang anak.


Ia begitu takut jika kehilangan sang anak karena penjagaan yang lengah. Bahkan satu detik saja waktu bersama Rava adalah hal yang sangat berharga untuknya.


Ia tidak ingin memiliki anak yang tumbuh tanpa pengawasan dari orangtua. Kasih sayangnya semuanya ingin ia berikan pada sang anak. Tentu saja untuk Putri juga.

__ADS_1


"Baiklah jika itu maumu." tutur Dava lega mendengarnya.


Di sisi lain, ia begitu kasihan melihat ibu dari anaknya tampak kesulitan melakukan hal-hal lainnya karena harus menjaga dan menggendong sang anak. Namun, di sisi lain. Dava juga sangat senang melihat kasih sayang Ruth pada anaknya.


Tidak perlu di ragukan lagi kasih sayang wanita itu pada baby Rava tentunya.


Setelah ritual sarapan, kini semuanya segera bersiap yang ingin ikut ke Bandung. Semua barang yang Mbok Nan persiapkan subuh tadi atas perintah sang Nyonya kini sudah tersusun rapi di dalam mobil. Begitu pula dengan barang-barang Dava dan juga Sendi yang tidak banyak. Hanya tas ransel yang cukup membawa sepasang pakaian ganti dan peralatan penting lainnya.


"Sayang, ingat pesan Bunda." Tarisya memeluk Ruth dan juga mencium kedua pipi anak perempuannya. Lalu tangannya beralih megusap pipi lembut sang cucu dan mencium seluruh bagian wajah baby Rava yang terlelap.


"Uh...Nenek akan sangat merindukanmu, Rava. Jangan nakal cucu Nenek yah?" celetuknya mencubit gemas pipi sang cucu.


"Iya Nenek. Hati-hati di jalan." suara Ruth terdengar menirukan suara anak kecil.


Tarisya beralih memeluk tubuh gembul sang cucu pertama, yaitu Putri. Segala pesan ia ucapkan pada sang cucu dan seperti biasa Putri akan menjawabnya dengan patuh.


Kini mereka pun sudah berada di dalam mobil setelah banyaknya pesan yang di tinggalkan pada orang-orang yang tersisa di rumah itu.


Tertinggal Dava yang masih berdiri di depan wanita yang baru saja melahirkan anaknya.


Rasanya sungguh sangat berat untuk meninggalkan Ruth di rumah bersama anaknya yang masih sangat baru lahir ke dunia ini. Belum usai ia melepas rindu pada sang anak, kini harus berjauhan lagi.


"Berhati-hatilah di sini. Aku akan segera kembali." tutur Dava mengusap rambut panjang Ruth.


Matanya terus menatap dalam kedua mata cokelat di depannya itu.


"Yah, hati-hati di jalan." sahut Ruth tak kalah tulus.

__ADS_1


"Bersiaplah, setelah kepulanganku aku akan mengurus rujukan kita,  Mah." ucap Dava yang di akhiri dengan kata panggilan 'Mah' dengan suara bisikannya yang mendekatkan bibir ke telinga Ruth.


Bukan sebuah gombalan yang ia lontarkan, melainkan hanya sebuah panggilan biasa di mata orang-orang. Namun entah mengapa bagi Ruth kata-kata itu seketika membuat seluruh bulu tubuhnya meremang. Ada getaran di dada yang tidak bisa ia artikan saat itu.


__ADS_2