Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 30. Saatnya Ruth Beraksi


__ADS_3

Suara gaduh kembali terdengar di depan rumah, namun semua bisa teratasi dengan baik.


"Mbok, ada siapa sih di depan kok kayak ada ribut-ribut?" Ruth yang baru saja selesai mandi menggunakan handuknya menutupi tubuh polos itu keluar dari kamar.


Mbok Nan sudah berlari cepat ke arah sang Nona muda usai menutup pintu rumah tersebut. Ia tersenyum kaku.


"Itu Non, ada orang minta sumbangan di depan. Tapi sudah di suruh pulang kok sama penjaga Tuan Dava."


Ruth mengerutkan keningnya mendengar penjelasan sang pembantu.


Selama bertahun-tahun ia tinggal di rumah tersebut, baru kali ini mendengar ada orang meminta sumbangan hingga nekat memasuki halaman rumah orang.


Sementara Mbok Nan yang menghindari tatapan dalam Ruth, kini mengalihkan pembicaraan. "Em...Non sebaiknya beristirahat saja di kamar. Mbok mau siapkan makan siang dulu."


Wajah tunduk Mbok Nan tak mampu menjelaskan pada Ruth apa yang sebenarnya ia sembunyikan kali ini.


Di sisi luar rumah beberapa penjaga sudah tersenyum kecut kala menyaksikan kepergian mobil Sendi Sandoyo yang baru saja mereka beri penawaran setelah beberapa kali menghajar pria tersebut.


"Pergi dengan organ tubuh yang utuh. Atau kau mau kami mematahkan beberapa bagian tubuhmu?"


Lagi dan lagi Sendi tak berhasil membawa Ruth bersamanya. Ia bahkan sangat terkejut kala mendapatkan serangan tiba-tiba dari kelima pria bertubuh kekar itu.


"Sialan! Mau sampai kapan aku pulang dengan tangan kosong terus? Aku tidak mungkin bisa melenyapkan kelima pria itu."


Sendi memukul setir mobilnya. "Dava pasti tidak akan pasrah begitu saja di penjara. Cepat atau lambat pria itu akan bebas."


"Arghhh!!" teriaknya memenuhi ruangan mobil sport kesayangannya.


Pada siapa lagi ia harus mengadu dan meminta pertolongan. Cintanya saja sudah jelas mendapat tentangan dari sang Ayah. Sedangkan hanya sang Ayah yang begitu memiliki banyak jaringan di dunia kejahatan.


Ia sama sekali tidak tahu dan bagaimana caranya masuk di dunia semacam itu. Karena memang hanya dengan begitulah ia mendapat cara untuk menyingkirkan beberapa pekerja Dava yang terus mengawal Ruth belakangan ini.

__ADS_1


"Tuan Iwan, yah dia pasti tahu tentang hal seperti ini. Kali ini aku harus berkerja sama dengan si tua bangka itu. Heh."


Sendi terkekeh licik kemudian melajukan mobilnya ke arah gedung Nata Hensana. Dimana Tuan Iwan dan Dava yang sudah berhasil membesarkan nama perusahaan perhotelan tersebut.


Di sini, Dina terus menangis melihat kehamilannya yang belum terlihat namun sudah begitu di acuhkan oleh sang suami.


"Dina mau pisah aja Ayah, Sendi benar-benar tidak mencintai Dina." ucapnya seraya terisak di depan dua mertuanya.


"Dina, kamu jangan mengambil keputusan di saat seperti ini, Nak. Sendi pasti akan berubah ketika anak itu lahir. Iya kan, Ayah?" Wuri bertutur dengan lemah lembut kala melihat kerapuhan sang menantu.


Meski dirinya awalnya tidak begitu setuju dengan pernikahan tersebut. Karena yang ia tahu Sendi begitu mencintai Ruth, sang kekasih yang sudah lama bersamanya. Namun sebagai orangtua yang baik, kini apa yang sudah di gariskan sang kuasa, ia hanya akan menjalankan dengan baik tanpa menentang hubungan anaknya.


"Iya, Dina. Sendi saat ini sedang terpengaruh saja dengan wanita itu. Bukankah di awal pernikahan justru dia tidak pernah mempermasalahkan pernikahan ini? Sendi sudah menganggap mu sebagai istrinya. Hanya saja waktunya yang tidak tepat saat ini. Bersabarlah sedikit, Dina. Ayah yang akan menjamin rumah tangga kalian." tutur Tuan Deni panjang lebar.


"Yasudah, Ayah harus segera bertemu seseorang. Kamu tenanglah di rumah. Ibu, temani Dina pulang ke rumah yah. Ayah harus membantu Dava untuk mencari bukti-bukti itu. Kalau Dava keluar, tidak akan ada lagi kesempatan untuk Sendi bertindak."


Wuri mengangguk dan tersenyum hangat. "Hati-hati, Ayah. Iwan sangat berbahaya."


Kini satu persatu kubu mulai mencari sayap masing-masing, namun tidak begitu dengan wanita yang sejak tadi tampak gusar di dalam kamar.


Pikirannya terus bercabang kemana-mana. Meskipun cinta mungkin belum ada, tetapi sebagai seorang istri tentu saja tidak akan bisa tenang begitu saja melihat suami yang begitu penuh tanggung jawab mendekam di penjara dengan masalah yang sama sekali tidak dapat ia terima.


"Tidak! Tidak mungkin Dava melakukan ini semua. Aku harus mencari kebenarannya sekarang." Wajah yang polos kala itu tak lagi ia perdulikan. Ruth secepat kilat mengganti pakaian dan mengambil jas semi formal yang tergantung di lemari.


Mbok Nan menoleh kala mendengar suara pintu kamar yang baru saja terbuka dan kembali tertutup.


"Non, Non Ruth mau kemana?" tanyanya buru-buru meletakkan makanan yang baru saja ia masak.


Mbok Nan mendekat pada sang majikan.


"Non, kata Tuan Dava Non tidak boleh..."

__ADS_1


"Mbok, saya tahu. Tapi saya tidak bisa diam begitu saja, Mbok. Saya harus melakukan sesuatu. Mbok, tolong jaga Putri yah. Setelah saya yakin semuanya bisa saya dapatkan, Putri akan sepenuhnya saya rawat."


"Assalamualaikum, Mbok." Ruth langsung berlari menuju mobilnya dan melesat meninggalkan rumah tersebut.


"Waalai-kum salam, Non." Tatapan Mbok Nan begitu pilu melihat kepergian wanita yang dulu ia ingat betul masih bayi.


Dan kini sudah tumbuh begitu dewasa, meski begitu banyak masalah yang di hadapinya.


"Kasihan Non Ruth. Dia adalah wanita baik. Bahkan hatinya begitu lembut. Tapi mengapa selalu banyak orang jahat kepadanya, Ya Allah? Lindungilah anakku itu, Ya Allah. Dia wanita baik. Hatinya begitu mulia. Meski saat ini ia tidak berada di jalanmu lagi. Tapi hamba mohon Ya Allah...hentikan penderitaannya."


Setelah kepergian Ruth, beberapa pengawal pun langsung saling berkomunikasi dengan beberapa rekannya yang lain. Karena kepergian Ruth yang sangat mendadak membuat mereka tak secepat itu untuk mengikuti. Hingga akhirnya mereka meminta bantuan beberapa rekannya.


Ruth yang fokus menyetir tak memperdulikan semua pengawal di belakangnya yang mengikuti dengan beberapa mobil. Yang ia fokuskan saat ini adalah menemukan bukti.


Beberapa saat perjalanan, kini tibalah mereka di perusahan Nata Hensana. Tak perduli sekali pun ia bertemu dengan sang mertua. Tidak akan berani pikirnya Tuan Iwan melakukan sesuatu dengannya di tempat umum seperti ini.


"Nona Ruth!" panggil beberapa pria.


Ruth menoleh ke belakang dengan mengerutkan alisnya. "Siapa kalian?" tanyanya.


"Kami bagian dari team yang menjaga anda." terangnya kemudian tak lama beberapa pria yang dari rumah Ruth pun ikut menyusul.


Ruth memandangi beberapa pria tersebut dan tersenyum. "Bagus. Kalian mau membantuku kan?"


Semua yang mendengar saling melempar tatapan satu sama lain. Lalu mengangguk serentak. Tidak mungkin mereka menolak pikirnya.


"Kita cari semua bukti penggelapan dana di perusahaan ini. Benar-benar gila pewaris tunggal justru di tuduh menggelapkan dana perusahaan. Apa sebegitu rendahkah gaji suamiku sampai harus korupsi?" Ruth berceloteh seraya terus melangakahkah kakinya di ikuti beberapa pengawal di belakangnya.


Perusahaan Nata Hensana


Semua mata tertuju pada wanita cantik yang berjalan memecah keramaian pekerja yang berlalu lalang di sana. Pandangan mereka semua tertuju padanya.

__ADS_1


Tentu mereka tahu, siapa Ruth. Tapi tidak satu pun yang tahu apa tujuannya membawa bodyguard ke kantor tersebut. Karena setahu mereka selain menjadi istri sang pewaris Nata Hensana, ia juga termasuk pekerja di perusahaan tersebut.


__ADS_2