Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 144. Keterkejutan Dava


__ADS_3

Kini dua wanita tampak saling berhadapan dengan pembicaraan yang masih tidak jelas pelakunya.


Tarisya tersenyum menatapnya. "Maaf, mungkin ada kesalah pahaman di sini. Saya adalah bunda dari Jeff, Berson, dan juga Shandy. Mereka bertiga adalah anakku, pemilik perusahaan ini." terangnya berusaha menjelaskan dengan tenang.


Jika saja ini adalah perusahaan yang memiliki kualitas pekerja yang buruk, mungkin Tarisya sudah mereka usir karena terdengar berbicara dengan omong kosong.


Siapa Jeff, Berson, dan juga Shandy? nama yang sangat asing bagi mereka.


"Maaf, Ibu. Mungkin anda salah perusahaan. Di sini pemilik perusahaannya bernama Nona Ruth dan juga Tuan Berson sebagai kakak beliau yang membantu mengelola selama ini. Beserta sang suami yang bernama Tuan Dava."


Mendengar penjelasan tersebut, Tarisya menggelengkan kepala tak percaya. Mana mungin ia salah dalam mengunjungi kantor. Jelas ini adalah perusahaan sang suami yang mereka sudah tinggalkan sejak dulu.


"Baiklah. Kalau begitu saya saja yang akan menelpon anak-anak saya." ucapnya seraya meraih ponsel di dalam saku jaketnya.


"Dimana sih ponsel saya?" ia mencari-cari ponsel tersebut namun masih saja belum menemukannya. Hingga akhirnya jam makan siang pun telah tiba.

__ADS_1


"Maaf sepertinya ponsel saya tertinggal. Boleh saya langsung di antar bertemu pemilik kantor ini? Saya adalah ibu mereka, Mba." dengan kekeh Tarisya berusaha untuk mengantarkan makan siang untuk Sendi dan juga Dava.


"Tolong Ibu...ini sudah menjadi peraturan kantor. Kami tidak bisa membawa sembarang tamu bertemu dengan beliau. Karena kami tidak mau terjadi apa-apa di kantor ini. Silahkan anda pergi, karena ini adalah waktu istirahat kami semua." tuturnya mempersilahkan wanita cantik berwajah keriput itu untuk pergi.


"Tapi, Mba." Tarisya bersikeras untuk tetap di sana.


"Saya mohon, Mba. Tolong ini adalah hari pertama saya membawakan makan siang untuk anak-anak saya, Mbak. Saya mohon."


"Ibu, tolong hargai pekerjaan kami. Kalau anda tidak bisa kami ajak berbicara baik-baik saya akan meminta tolong pada security." ancamnya membuat Tarisya berhenti merengek. Ia terdiam mendengar ucapan wanita di depannya.


Di lepaskannya genggaman tangan itu pada tangan sang receptionis lalu ia menunduk melihat rantang yang berada dalam tas di genggamannya. Ada perasaan sedih karena tidak bisa membawakan makan siang untuk sang anak. Padahal sejak dari rumah tadi, perasaannya begitu sangat antusias untuk segera tiba di perusahaan.


Dava. Pria itu adalah Dava, wajah tampan dan sangat hangat jika di pandang kini telah berdiri di lantai paling dasar perusahaan D Group.


"Jeff," Tarisya tersenyum bahagia saat membalikkan tubuhnya yang hampir saja sudah melangkah pergi dari sana. Ia menatap pria yang memang benar anak pertamanya.

__ADS_1


"Bunda?" Dava sangat terkejut melihat sosok wanita berpakaian sederhana berdiri di depannya.


"Maaf, Tuan. Beliau memaksa masuk dan bertemu anaknya. Saya sudah menjelaskan nama anak-anak yang ia sebutkan barusan tidak ada di sini. Tapi beliau terus mengotot. Justru beliau tidak mengenal nama Nona Ruth." terangnya panjang lebar karena takut jika sampai Dava berpikiran buruk padanya dan berakhir dengan jalan pemecatan karena berlaku tidak hormat pada tamu.


"Baik. Kerjamu selesai. Istirahatlah, beliau adalah urusan saya." Dava menatap datar pada sang bunda saat berbicara pada receptionis tersebut.


Satu persatu rahasia semakin mendekati garis penyelesaian sepertinya. Entah kini kebohongan apa lagi yang akan ia perbuat di depan sang bunda.


Dava pun menatap kepergian wanita itu dan memastikan jika kini sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang menguping percakapan mereka.


"Bunda, apa yang membuan Bunda kemari? Bukankah Jeff sudah katakan itu bahaya?" Dava merangkul tubuh sang bunda dan membawanya masuk ke lift menuju ruang kerjanya.


Tarisya terus tersenyum kagum dengan banyaknya suasana kantor yang berubah jauh dari saat dulu ia masih sering datang berkunjung untuk sang suami.


Matanya tak pernah lepas dari setiap area yang ia lewati.

__ADS_1


"Jeff, Bunda hanya terlalu rindu dengan masa lalu. Bunda sangat rindu masa-masa kita bersama. Itulah sebabnya Bunda bawakan makanan kesukaan kalian untuk makan siang hari ini." Ia mengangkat rantangan di genggaman tangannya.


Dava melihat dan menyadari itu adalah menu favoritnya sekali.


__ADS_2