Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 13. Rahasia Terbesar


__ADS_3

Andai bisa berkata secara langsung tanpa berharap suatu hal yang belum pasti, ingin rasanya Dava mendapatkan kesempatan untuk bertawar nasib pada sang Kuasa. Nyatanya, hidup tak semudah itu. Semua selalu melalui proses yang tak dapat di tebak akan mendapat hasil akhir seperti apa.


Lamunan seorang Dava terhenti kala mendengar suara cempreng khas milik bocah di depannya. "Paman...Paman, ayo kita turun." ajak Putri yang ingin beranjak dari hadapan Dava.


Dava tersentak kaget. "Eh...iya Putri, Ayo." ajaknya menggendong tubuh gemul Putri yang sangat montok.


"Putri, ayo kita pulang." Ruth menggenggam tangan sang anak yang hendak melangkah mengikuti sosok Dava ke arah arena bermain selanjutnya.


Dava menghela napas kasar, "Ruth, hari ini saja...kali ini saja." ucapnya tampak memelas.


"Tuan Dava, anda sudah membuang banyak waktu untuk Putri belajar hari ini." Ucapan Ruth benar-benar membuat Dava murka.


Ingatan tentang dirinya saat kecil begitu memuakkan jika sampai terulang oleh si bocah mungil di hadapannya saat ini.


"Ruth, jangan membuat kesabaranku habis. Putri tidak berhak atas didikan kerasmu itu. Dia bukan orang yang seharusnya kau perlakukan seperti itu. Mengerti?"


Ucapan dava seakan memancing emosi Ruth seketika. "Putri ayo pulang. Mamah nggak suka kamu lama-lama bermain dengan dia." Tangannya sudah menarik paksa pergelangan kecil di bawah sana.


Tanpa sadar perlakuan Ruth sangat menyakitkan bagi Putri. "Aduh...Mamah, tangan Putri sakit, Mah." rintihnya hampir saja meneteskan air matanya kala itu.


"Lepaskan Putri, atau kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi selamanya, Ruth?"


Deg! Benar saja, kata-kata Dava yang mengancam sontak membuat Ruth sangat terkejut kala itu. Apa maksud Dava bertanya dengan suara lantang dan pertanyaan yang sangat ambigu seperti itu? begitulah batinnya saat ini.


Langkak jenjang kaki Dava mendekat sosok gadis di depannya yang sudah sangat marah padanya. Dava menarik tangan Ruth yang menggenggam tangan Putri dan menggenggamnya begitu erat. Mencondongkan wajahnya pada wajah Ruth di tengah-tengah keramaian, kemudian bersuara lirih tanpa terdengar oleh siapa pun termasuk Putri.


"Menurut padaku? atau kau akan sangat menyesal?" ucapnya tersenyum kecut. "Aku tahu semuanya, Ruth. Dan apapun bisa ku lakukan di dunia termasuk menjadikanmu wanitaku."


Medengar pengakuan Dava yang refleks tanpa saringan, Ruth membulatkan matanya. Tidak, itu tidak mungkin kilahnya.

__ADS_1


Begitu pula dengan Dava, wajahnya tampak bingung setelah menyadari kata-kata yang terucap di bibirnya barusan.


"Bodoh! Apa-apaan kau, Dava? kau mempermalukan dirimu sendiri. Sial!" umpatnya dalam hati dan memutar haluan wajahnya yang memerah. Antara kesal dan malu yang ia rasakan saat ini.


Beruntung, kali ini sosok Dava Sandronata tidak kehabisan akal. "Putri, ayo kita makan. Putri mau makan apa? Bebas deh. Paman yang traktir kali ini." ucapnya langsung menggendong Putri tanpa berbicara sepatah kata pun.


Di belakang, Ruth mengikuti langkah dua orang di depan sana yang asyik berbicara layakya seorang Ayah pada anaknya dan sebaliknya.


Dalam hati Ruth ada perasaan senang dan juga sedih di saat yang bersamaan. Senang, melihat kedekatan Dava pada putrinya yang begitu nyata tanpa ada rasa janggal. Dan perasaan sedih kala mengingat sosok Sendi yang begitu ia cintai, namun tak pernah berlaku sehangat Dava pada Putri seperti saat ini.


"Sendi, sekian tahun kita bersama...bahkan untuk membuat Putri tersenyum saja kau tidak pernah. Apalagi untuk menggendongnya dan menghabiskan waktu dengan Putri? Tuhan...ada apa ini sebenarnya?"


 


Di sisi lain, sebuah cafe ternama yang tidak begitu jauh dari perusahaan Dansel Company.


Bibir ranum yang sangat bervolume itu tampak melukiskan senyuman liciknya kala melihat sebuah benda yang baru saja ia lihat hasilnya.


Jika hari ini tidak sebaik dari hari yang Dina harapkan usai keributan antara sepasang mantan kekasih yang tak lain adalah Ruth dan sang suami. Setidaknya ia mendapat kabar bahagia tentang kehamilannya saat ini.


Buru-buru Dina memasukkan ponsel miliknya yang terletak begitu saja di atas meja samping gelas jus orange miliknya ke tas mini dan melangkah pergi dari cafe setelah meletakkan selembar uang. Wajah bahagianya terus mengembang menemani perjalanannya.


"Dina!"


Langkahnya mendadak berhenti saat mendengar suara yang sangat familiar baginya. Sekali lagi terdengar teriakan yang berada di area parkiran cafe tersebut.


"Dina Salhuteru,"


"Suara itu..." lirihnya tanpa berani menoleh. Tubuh Dina mendadak dingin, kaku, dan bergemetar kala menyadari dirinya sedang dalam keadaan tidak baik.

__ADS_1


"Beraninya kau pergi dariku, hah? Apa kau lupa siapa pria yang menjadi Ayah anak itu?" ucapnya tersenyum penuh kemenangan.


Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh dan tidak akan pernah ada laki-laki lain yang menjadi Ayah dari anak yang ia kandung selain Sendi Sandoyo.


Dina berbalik haluan menatap wajah pria yang menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit di artikan lagi. "Ka-kamu...tidak. Apa maksud dari ucapanmu itu? siapa...siapa yang hamil?"


"Cih..." pria tampan berparas india itu tampak berdecih mendengar pengelakan wanita cantik di hadapannya.


"Kau pikir aku sebodoh itu? Tidak! Dina, itu adalah anakku, dan aku harus bertanggung jawab atas kehamilanmu. Atau kau mau aku membongkar segalanya tentang kebusukan mertuamu itu? hah! Hahahaha..."


Dina menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak boleh. Jika hal itu terjadi, mungkin saat itu juga Sendi akan meninggalkannya.


"Bely, tidak. Jangan lakukan itu. Aku mohon. Aku sangat mencinta Sendi. Aku tidak ingin dia meninggalkanku, ku mohon." tangis Dina begitu jelas terlihat jika ia sangat mencintai suaminya.


"Heh...jika aku harus memahamimu, lalu siapa yang akan memahamiku, Dina? Aku mencintaimu...Apa kau lupa itu? Bahkan Sendi, suamimu itu mencintai saudara kandungnya sendiri. Apa yang kau takutkan? bukankah itu adalah hal gila? kau sebaiknya mencintaiku, laki-laki normal yang tidak mencintai dengan sedarah."


"Cukup, Bely. Cukup! Jangan pernah ucapkan itu lagi. Rahasia itu tidak ada yang boleh tahu." Dina begitu takut jika rahasianya dengan sang mertua akan terbongkar hanya karena mulut ember sang kekasih gelapnya itu."


"Apa untungnya diriku jika tutup mulut? Dina, beri aku asupan vitamin agar kuat menutup rahasia ini. Bagaimana? Ini kartu kamar hotel yang sudah ku pesan. Satu jam dari sekarang, ku tunggu, Sayang."


"Bely, arrghh!" teriak Dina frustasi setelah kepergian Bely dari hadapannya.


"Apa yang harus ku lakukan? Tidak, kalau Sendi sampai tahu permainanku dengan Tuan Deni semua pasti berantakan. Sial! Kenapa Tuan Deni harus berurusan dengan pria gila sepertinya sih?" Mau tidak mau Dina harus kembali menyodorkan tubuhnya demi menutup rapat mulut sang mantan kekasih gelapnya demi ketentraman pernikahannya dengan Sendi.


 


Tepat satu jam setelah pertemuan yang sangat tidak di inginkan.


"Emh..." lenguhan lirih di iringi tubuh yang bergetar tengah berbaring di bawah tubuh atletis seorang pria yang tampak terhujani dengan peluh.

__ADS_1


Sentuhan demi sentuhan di tubuh polos milik Dina terus berlabuh dengan penuh gairah yang berkobar. Seakn Bely tengah melepaskan kerinduan yang teramat pada wanitanya kali ini. Tidak akan ia sia-siakan kesempatan emas untuk menjamah istri orang tentunya.


__ADS_2