Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 167. Pembacaan Kalimat Syahadat


__ADS_3

Ramainya kendaraan berlalu lalang di jalanan tak membuat dua wanita itu putus dengan perbincangan mereka. Dina masih setia mendengarkan kata demi kata dari sang mertua.


Senyuman teduh di wajah Tarisya sungguh mirip dengan senyuman wanita yang sudah memikat hati Sendi sampai saat ini. Dialah Ruth, wanita perebut hati Sendi sekali gus adik iparnya juga.


"Tidak, Bunda sama sekali tidak membenci kalian." ia menarik napasnya dengan dalam lalu melanjutkan kembali ucapannya setelah menghembuskannya pelan.


"Sebelum semuanya terjadi, Bunda sudah bersiap pasti akan ada banyak hal yang mengejutkan di luar dugaan terjadi. Yah saat itu dimana awal mulanya perusahaan ayah kalian mulai banyak dapat kepercayaan dari para investor. Perkembangan perusahaan sangat pesat, tak jarang banyak para pesaing di luar sana yang berusaha menjatuhkan ayah kalian. Tapi nyatanya kami berhasil sampai menduduki julukan perusahaan raksasa. Bunda tahu hal itu adalah yang paling menyenangkan sekali gus hal yang juga harus di waspadai. Karena tidak semua yang berurusan dengan uang akan bisa berpikiran jenih. Mereka akan rela melakukan apa pun demi uang."


Dina terdiam mendengarkan ucapan sang mertua. Ia pun paham benar apa yang terjadi pada keluarganya. Kekayaan yang mereka nikmati selama ini semua berasal dari kejahatan, namun sayagnya dulu ia begitu bangga memiliki semuanya tanpa perduli baik buruknya jalan yang di tempuh sang ayah.


"Sekarang, Bunda senang melihat kamu seperti ini. Sendi sudah banyak cerita tentang kamu pada Bunda. Yang penting kedepannya kalian akan tetap bersama yah? Tidak baik pernikahan itu di pisahkan, sekalipun bisa bercerai tapi akan jauh lebih baik bukan, jika kita hanya menikah sekali seumur hidup?"

__ADS_1


Tanpa bisa mengatakan apapun, Dina hanya tersenyum sumbang dan menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin membongkar semua yang terjadi padanya dan Sendi di depan sang Bunda.


"Lalu mau sampai kapan aku harus bertahan dengan Sendi, Bunda? Jika sampai saat ini hatinya pun masih tetap tidak menoleh padaku. Selamanya hati itu akan tetap menjadi milik anak Bunda. Entah aku akan kuat sampai kapan tetapi akan ku usahakan sampai kesabaran itu di ujung batas pun. Karena aku tidak ingin berpisah dari pria yang sangat kucintai." batin Dina menatap sendu wajah ayu Tarisya.


***


Masjid yang begitu indah dengan ukiran-ukiran kaligrafi seakan ikut tersenyum melihat senyuman cantik sosok Ruth. Wanita bermata cokelat indah tersenyum sembari melangkahkan kakinya memasuki tempat ibadah tersebut.


Semua anggota keluarga pun ikut mengiringi langkahnya.


Setelah bersiap beberapa saat dan berbincang-bincang banyak, akhirnya di sinilah Ruth berada. Di barisan paling depan dalam masjid.

__ADS_1


"Asyhadu an la ilaha illallah" ucapan dari bibir Ruth terdengar sangat bagus. Lalu kemudian ia kembali mengucapkan, "Wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah."


Tak lupa di dalam hati ia membaca semua arti dari kata syahadat tersebut.


"Baiklah, Ibu. Masya Allah semuanya sangat bagus. Saat ini tinggal untuk sesi mandi dan juga sholatnya. Apa mau saya bimbing untuk doanya dan lainnya, Ibu?" tanya sang ustadz yang ingin menawarkan diri membantu Ruth.


Dengan cepat Ruth segera menjawabnya. "Tidak usah Pak ustadz. Saya bisa sendiri. Terimakasih." ia bergegas menuju kamar mandi khusus yang ada di masjid besar itu.


Semua anggota keluarga tersenyum melihatnya terkecuali Dava. Sosok pria berwajah hangat itu kini memilih untuk tidak hadir di acara sang adik. Ia tentu saja tidak akan sanggup melihatnya.


Memilih menyibukkan diri di kantor, tak lantas membuatnya bisa tenang. Sedari pagi Dava terus saja berdiri duduk berdiri duduk seperti itu terus. Wajahnya sangat memperlihatkan gurat kecemasan yang mendalam.

__ADS_1


"Sudah sore...apa itu tandanya semuanya sudah selesai? Apa kita benar-benar sudah berpisah, Ruth? Bahkan sampai saat ini pun aku tidak mengharapkan perpisahan itu terjadi. Apa tidak bisa kau membiarkan hubungan kita tetap seperti ini saja? Aku sangat lebih tersiksa dengan perpisahan yang kau buat, Sayang." Dava memijat keningnya sembari berbicara pada dirinya sendiri di depan jendela ruang kerjanya yang mengarah pada jalanan di bawah sana.


Yang menjadi hal sangat di takutinya adalah ketika ia tidak bisa lagi menjadi suami dan Ruth akan berpindah ke lain hati tentunya.


__ADS_2