Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 57. Kebahagiaan di Tengah-Tengah Kepanikan


__ADS_3

Di sebuah kamar, seorang pria tengah berteriak hingga menggulingkan tubuhnya ke sembarang arah di atas tempat tidurnya.


"Arghh!! Sakit!" Sendi terus menggeliat seraya memukul-mukul kepalanya.


Perlahan-lahan pandangan itu mulai gelap dan akhirnya Sendi benar-benar tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya.


Seorang diri di apartemen tentu membuatnya kesulitan untuk mencari bantuan, bahkan Dina yang di luar apartemen kini sudah melangkah memasuki mobilnya sembari terisak.


"Apa maksud Sendi berbicara seperti itu? Apa dia tahu jika aku hamil dengan pria lain? Tidak. Itu tidak mungkin. Dia sendiri bahkan  sadar saat menyentuhku? bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu?" Dina berdebat sendiri dengan pemikirannya setelah berhasil menenangkan diri di dalam mobilnya.


Perlahan ia menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi, dan memejamkan matanya sejenak. "Aku harus menghubunginya sekarang." tuturnya meraih tas dan mencari ponselnya.


"Dimana ponselku? Argh!! Bagaimana bisa aku mengubungi Belly? Ayolah Dina, ingat dimana ponselmu?" Wanita itu terus berteriak frustasi di dalam mobilnya.


Rasa takut dan panik bercampur menjadi satu, membuatnya tidak bisa berpikir dengan tenang kali ini. "Ya Tuhan...bodoh! Ponselku jatuh di depan pintu tadi." Dina menyadari letak ponselnya saat ini.


Akhirnya dengan  penuh keberanian, wanita berbadan dua itu kembali menunju lift untuk menggapai lantai apartemen sang suami.


"Pak, tolong bukakan kunci apartemen suami saya." Pintahnya kembali.


Pasalnya di Kota tersebut, Dina dan Sendi bukanlah orang yang tidak mereka kenali. Dimana pun keduanya berada sangat mudah untuk mendapatkan apa yang mereka mau.


Ceklek! Suara pintu terdengar terbuka.


"Silahkan Nona." ucap pria berpakaian seragam keamanan apartemen itu.


Dina melangkah masuk dengan penuh rasa was-was. Matanya menatap seluruh ruangan dengan langkah kaki begitu pelan.

__ADS_1


Di tatapnya kaki yang terulur di sisi ranjang. Keningnya sontak mengernyit.


Langkah demi langkah, Dina kini sampai di depan kamar sang suami. Bibirnya tercengang hebat kala melihat sosok Sendi yang sudah tidak berdaya.


"Sendi!"


"Sendi!" teriaknya panik dan segera menggerak-gerakkan tubuh sang suami. Di sentuhnya wajah Sendi yang pucat. Sangat dingin.


"Sendi, bangunlah. Aku mohon, Sendi." Dina berteriak dan bergegas keluar mencari pertolongan.


"Tolong! Tolong, Pak, tolong suami saya!" teriaknya berlari saat melihat pria yang tadi membantunya membuka pintu apartemen Sendi.


"Ada apa, Nona?" tanyanya pria tersebut denga antusiasnya.


Dina sudah panik. "Pak, suami saya tidak sadarkan diri. Tolong bantu bawa dia  ke mobil saya, Pak. Cepat!"


Keduanya pun segera memapah Sendi menuju keluar dari apartemen. Begitu sulit membawa tubuh tinggi Sendi dengan tubuh mereka yang tidak seberapa di bandingkan Sendi.


 


Di sisi lain dalam waktu yang sama.


Dava dan Ruth yang sudah berada di dalam ruang kerjanya tampak kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Meski terlihat jelas raut wajah Dava tampak gelisah. Ruth bisa memastikan jika sang suami sedang mengalami masalah.


"Katakan padaku, Dav." ucapnya lembut selembut perlakuan sang suami padanya selama ini.

__ADS_1


Dava menatapnya cepat. "Ada apa, Ruth?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti maksud sang istri.


"Ada masalah apa? Dari tadi aku melihat pikiranmu tidak tenang." tuturnya memperhatikan sang suami dari meja kerjanya.


Dava tampak menghela napas. Namun bibrinya kembali mengatup kala manik mata itu menangkap wajah sang istri yang meringis seperti menahan sakit.


Ruth mengambil minyak aromatherapy dari dalam tas kerjanya dan menempelkannya di indera penciuman miliknya.


"Ruth, ada apa? Apa kau masuk angin? Ayo ku antar pulang saja istirahat." Dava sudah bergegas mendekati sang istri yang memegangi dadanya.


Ruth menggelengkan kepala, namun masih tidak menjawab. "Ruth,"


Terlihat Ruth tampak menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berkali-kali Dava melihatnya, ia semakin terlihat sangat khawatir pada sang istri.


"Dav..." Ruth menatapnya sayu. Tangannya terus memegang dadanya yang terasa sangat sesak.


"Ruth, ada apa? apa yang sakit?" Dava panik sekali.


"Ruth, apa ini tandanya kau hamil?" Dava mulai tersenyum melihat wajah sakit sang istri di depannya saat ini.


 


Ruth menggeleng sembari menutup matanya. Ia menatap wajah suami nya yang tampak tersenyum bahagia. "Dava, aku tidak tahan lagi." lirihnya dengan suara bergemetar.


"Ruth! Ruth! Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit, Sayang." Dava berteriak panik setelah beberapa saat perasaannya begitu terlihat senang.


"Dava..." Ruth mulai merasakan pandangannya yang redup. Dadanya sangat sesak terasa. Hingga akhirnya tatapan matanya yang melihat wajah tampan perlahan gelap dan tak lagi mendengar suara sang suami yang kepanikan.

__ADS_1


"Ruth! Ruth!" Dava mengguncang tubuh sang istri yang menyandarkan tubuhnya penuh pada tangan kekarnya dan menutup mata indah itu.


Dava panik sampai tak bisa menahan tetasan air matanya untuk jatuh pada wajah cantik nan mulus di depannya saat ini.


__ADS_2