
Dari kejauhan, netra hitam legam itu menatap dua sosok wanita yang tengah serius dengan kegiatan belajar mengajar hari ini. Senyuman lega terus terlukis di wajah tampan milik Dava. Rasanya tak bisa lagi menahan untuk hanya menjadi penonton kali ini.
Langkah kaki jenjang itu terdengar membuyarkan keseriusan Ruth dan juga Putri. Dava tersenyum kemudian ikut duduk di samping sang istri.
"Paman," sapa Putri tersenyum lebar.
Dava membalasnya dengan senyuman. Namun, suasana menjadi kaku saat pria itu bergerak menyandarkan dagunya pada pundak sang istri dari arah belakang.
"Mamah ajarin Putri apa sih?" tanyanya begitu menggemaskan.
Putri tampak cekikikan sembari menutup giginya yang beberapa terlihat berlubang. Ia tertawa melihat reaksi sang Mamah yang membulatkan matanya.
"Lepasin!" lirih Ruth memberontak tangan yang sudah melingkar di perut rata miliknya.
"Mamah malu-malu hihihi..." Dava terkekeh mendengar ucapan sang anak.
"Dav," panggil Ruth yang menyerah untuk melepaskan pelukan itu.
"Hem..." sahut Dava menunggu ucapan sang istri.
"Putri, lanjutkan berhitunganya di buku yah." pintah Ruth kemudian berbalik menatap sang suami.
"Bagaimana dengan Kak Berson?" tanyanya dengan kedua mata yang menatap begitu dalam.
Dava melepaskan pelukan itu, kemudian ia menggeleng pelan. "Aku belum menemukan informasi sejauh ini. Bersabarlah, aku akan tetap mengusahakannya dengan Tegar." Dava mengusap lembut pipi sang istri.
Ruth justru bisa melihat tatapan sang suami yang seolah ingin berbicara padanya saat ini. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya menatap suami curiga.
"Ruth, kita harus segera pindah dari sini..." Dava terdiam setelah menggantung ucapannya.
Putri yang mendengarnya pun langsung tercengang tidak percaya.
"Tidak, Dava. Aku tidak bisa pergi dari sini. Ini rumah satu-satunya peninggalan Ayah. Bagaimana bisa aku meninggalkannya. Dava, aku mohon jangan memaksaku pergi dari sini." Ruth langsung panik mendengar ucapan sang suami.
Dava, bagaimana ia bisa melupakan tempat yang mereka tinggali saat ini adalah satu-satunya tempat yang paling berharga bagi sang istri. Beban di benaknya sangatlah banyak, hingga ia tidak memikirkan hal sampai sejauh itu. Dan kini Dava terlihat frustasi, ia harus memulai usaha baru untuk membiayai kehidupan keluarga kecilnya.
__ADS_1
Usaha keras harus ia lakukan demi memulai sebuah karir setelah mantap meninggalkan perusahaan Nata Hensana.
"Baiklah. Maafkan aku, Ruth. Aku salah akan hal ini. Aku hanya fokus pada peluang kerja di kota lain. Maafkan aku." Dengan sabarnya Dava mengakui kesalahannya.
"Kita akan berdiri bersama, Dava. Aku akan menjadi pendampingmu kemanapun kamu melangkah. Bantu aku mengelola perusahaan Ayah, boleh?" Ruth tersenyum mendengar apa yang menjadi alasan sang suami meninggalkan kota itu.
"Perusahaan, Ayah? Tidak, Ruth. Aku tidak bisa-"
"Ssstt! Aku sangat membutuhkan kamu suamiku. Dav, perusahaan Ayah tidak akan aman jika berada di tanganku sendiri. Lihat, di tangan Ayahku saja bisa begitu mudah di rebut mereka. Bagaimana denganku? Bahkan aku tidak pernah menduduki posisi seperti saat ini. Aku membutuhkanmu, sebagai suamiku dan pembimbingku."
Dengan berat hati, Dava menganggukkan kepala. Setidaknya ia bisa membantu sang istri sebagai pembalasan atas apa yang di lakukan Tuan Deni dan Tuan Iwan selama ini pada sang istri.
Waktunya dirinyalah yang bertanggung jawab bekerja keras untuk memajukan perusahaan tersebut. "Baiklah," jawab Dava.
Tak hanya Ruth yang merasa senang dengan kesanggupan Dava, tetapi Putri pun ikut bersorak gembira. "Yeee kita nggak jadi pindah kan, Mamah?" tanyanya penuh semangat.
"Iya sayang. Memangnya kamu nggak mau pindah dari sini yah?" tanya Dava yang mengambil kesempatan sang istri untuk menjawabnya.
"Iya, Paman. Putli cuka tinggal di cini. Putli betah banget." ucapnya kembali menulis di buku tentang pelajarannya.
Si bocah tampak berpikir mengetuk-ngetuk keningnya yang tertutup dengan poni tipis di sana. "Em...Putli yah tetep ikut Paman. Tapi...kalo Paman pulang kelja, kita ke sini main-main boleh kan, Paman? Putli cuka kangen sama lumah ini coalnya." serunya berucap begitu imut.
"Hah," Ruth yang mendengarnya pun sampai tercengang. Yang benar saja Putri meminta setiap hari mengunjungi Kota yang jarakanya cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
"Hah...memangnya Putri pikir kota yang Paman tinggali dekat sama kota ini? Putri...Putri." Dava terkekeh mendengar permintaan sang bocah.
Tring... Tring... Tring
Suara dering ponsel terdengar membuyarkan guyonan mereka saat itu. "Aku angkat telfon dari Tegar dulu." Dava berucap sembari meninggalkan sentuhan bibirnya pada kening sang istri dengan penuh cinta.
Beberapa saat kemudian, Dava pun kembali menghampiri sang istri yang masih bersama dengan sang anak. "Mengapa berwajah seperti itu?" Ruth menyadari ekspresi sang suami yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Dia sudah di luar negeri bekerja." ucapnya tanpa menyebut siapa orang yang ia maksud.
Ruth pun paham, siapa yang beberapa hari ini terus mereka cari. "Kak Berson? Bekerja? Maksudnya...dia menetap di sana?" Ruth merasa sangat tidak menyangka jika sang kakak akan meninggalkannya kali ini.
"Dav, ku mohon bawa dia bersamaku. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa." Ruth bahkan kini memegang tangan sang suami penuh dengan permohonan.
Dava membawanya ke dalam dekapat. Di sandarkan kepala wanita rapuh itu pada dada bidangnya. "Tegar akan mengurus semuanya. Percayalah, ini hanya waktu saja Ruth." tuturnya lemah lembut.
Di sini, Sendi tampak memegangi kepalanya beberapa kali yang terasa sangat sakit. "Argh! Kepalaku." tangannya memijat seluruh bagian kepalanya yang ingin pecah rasanya.
Bahkan berkas di depannya sampai di hempaskan jauh dari meja kerjanya saat ini.
"Kakak,"
"Kak, kamu kakakku. Aku ini adikmu. Mengapa selama ini kamu bahkan tidak memberitahuku? apa ini rencana kalian? Kak, aku sakit kak melihatmu jahat padaku."
"Kak Berson. Aku adikmu, Kak. Aku Shandy Cyntia. Mengapa selama ini Kakak diam saja?"
Kini berganti menjadi suara seorang wanita tua renta.
"Tuan, Berson..."
"Argh!! Kepalaku!" Sendi semakin histeris kala ingatannya terus mengusik pikirannya kali ini. Semua ucapan Ruth dan Mbok Nan yang memanggilnya dengan nama lain membuatnya sangat penasaran.
Perlahan-lahan mata merah itu menutup tak sadarkan diri kala tubuhnya tersungkur ke lantai dari kursi kerja miliknya. Sendi pingsan seketika, mata yang selalu tampak tegas menutup seiring jatuhnya buliran cairan bening dari dua sudut mata itu.
Sementara di sini, Di kantor kepolisian. Tidak ada yang tahu jika dua wanita yang tidak lain adalah istri dari Iwan dan juga Deni terus mendapatkan desakan dari pihak polisi.
"Pak, sumpah saya tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini." Nyonya Sarah berucap dengan tubuh ketakutan.
Begitu pun dengan Nyonya Wuri yang sudah menangkup kedua tangannya untuk memohon belas kasih.
"Katakan sejujurnya? Atau Nyonya berdua memang terlibat dengan rencana pembunuhan itu?" tanya Pak Polisi lagi dengan tatapan menyelidiknya.
__ADS_1