Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 84. Si Bagudung


__ADS_3

Setelah sarapan, akhirnya Sendi memilih bergegas ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Sekali lagi, matanya melirik ke arah lorong kamar sang adik.


"Tidak ada tanda-tanda mereka akan keluar. Suaranya pun juga tidak terdengar sama sekali. Apa...itu artinya..."


Lamunan Sendi buyar mendengar suara yang memanggilnya. "Tuan, ayo. Keburu Putri masuk sekolah nanti." Mbok Nan menggandeng Putri dan mengajak Sendi untuk mengantar mereka.


Meski majikannya sudah memimpin perusahaan sendiri, namun keuangan mereka tentunya masih seperti biasa. Tidak begitu banyak dana yang mereka keluarkan demi membangun perusahaan D Group agar bisa segera berkembang.


"Eh...iya." sahut Sendi mengikuti langkah Putri dan juga Mbok Nan menuju ke luar rumah.


Sendi mulai mejalankan mobil yang mengantar dua wanita di belakang kursi kemudi itu menuju sekolah Putri.


Di tengah-tengah kesunyian Putri pun bertanya dengan rasa penasarannya.


"Mbok, Mamah sama Ayah lama yah buat dedeknya?"


Ciiiittt!!


Decitan rem mobil yang mendadak terdengar sangat nyaring. Tanpa sadar Sendi membuat Putri terbentur dengan sandaran kursinya begitu juga Mbok Nan yang menabrak sandaran kursi di depannya.


"Aduh...Tuan." keluh Mbok Nan seraya memijat keningnya yang terasa sangat pusing. Sementara Putri sudah ia peluk dan usap lembut keningnya.


"Em...maaf, Mbok. Kita lanjut lagi." ucap Sendi terdengar canggung. Matanya melirik arah spion di depannya memastikan kedua penumpangnya baik-baik saja.


Hatinya tersayat-sayat api sembilu membayangkan wajah Ruth yang tersenyum mendapatkan sentuhan demi sentuhan dari Dava. Bayangan keduanya berada di atas ranjang menemani perjalanannya selama menuju ke sekolah.


"Tuan...hati-hati!" Mbok Nan bersuara saat Sendi hampir menyerempet kendaraan lainnya.


"Mbok, kok Om Sendi bawa mobilnya ugal-ugalan sih?" Keluh Putri yang sedari tadi memperhatikan keadaan di perjalanan.


"Iya nggak kok. Om Sendi cuman lagi hindari motor saja itu." sahut Mbok Nan menutupi perasaan deg-degannya.


Meski ia tahu jelas di raut wajah Sendi terlihat guratan kesedihan yang mendalam.


"Pasti Tuan Sendi memikirkan ucapan Putri tadi. Kasihan dia...tapi dulu juga tidak begitu mencintai Non Ruth. Setelah semua terjadi, baru sadar jika Non Ruth sangat penting untuknya..." Mbok Nan menghela napasnya kasar memperhatikan wajah Sendi dari pantulan spion di depan.

__ADS_1


Tring Tring Tring


Dering ponsel milik Sendi terdengar nyaring, lamunannya pun buyar seketika. Matanya menatap arah saku celana miliknya dan menuntun tangan sebelah kiri untuk merogoh ponsel miliknya.


Terlihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel tersebut. 'Bagudung'


"Halo," Sendi mendengar suara pria yang sama sekali tidak pernah ia inginkan kehadirannya di bumi ini.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada bicara yang tidak bersahabat dan tatapan begitu sinis ke depan.


"Tentu kau tidak lupa untuk persidangan hari ini, bukan?" Dava berucap dengan suara sedikit berbisik karena takut terdengar oleh sang istri yang tengah terlelap dalam balutan selimut tebalnya.


Sendi mengangguk dan memejamkan matanya sejenak. Detik berikutnya, ia menjawab dengan singkat. "Em...aku tentu mengingatnya.


"Aku dan adikmu tidak bisa menghadirinya hari ini...aku tidak ingin Ruth kembali histeris karena hal itu. Jadi tolong atasi semuanya demi Ruth. Aku percayakan ini semua denganmu, KAKAK IPAR." Dava berucap dengan menekankan kata kakak ipar. Ia yakin mendengar hal itu, Sendi pasti sangat merasakan sakit yang teramat.


"Benar-benar keterlaluan...bisa-bisanya dia mengatakan hal itu padaku." gerutu Sendi sangat kesal di balik ponsel.


Sementara Dava tampak menyunggingkan senyuman ganjilnya di balik telepon dan bergumam sendiri. "Tenang. Aku tidak akan berhenti dan lelah untuk terus menyadarkan siapa dirimu  saat ini bagi istriku, Sendi."


 


Dava yang mendengar penuturan Sendi menarik napas dalam ingin marah, namun suara sambungan telepon sudah terlanjur terputus.


Di sini, Sendi sudah menurunkan kedua penumpangnya di depan gerbang sekolah.


"Terimakasih, Tuan Sendi." ucap Mbok Nan menunduk ramah.


Namun tidak dengan Putri, bocah itu segera memandang ke arah lain sembari bersedekap menunggu Mbok Nan mengajaknya masuk ke sekolah.


Setelah memastikan antarannya masuk ke dalam sekolah, barulah Sendi melajukan mobilnya ke arah kantor terlebih dahulu.


Jadwalnya setelah pergi ke kantor, barulah ia bersama Mbok Nan ke pengadilan hari ini.


Flashback off

__ADS_1


Di sinilah para saksi berada saat ini. Ruangan persidangan seolah menjadi saksi bisu para bibir yang berbicara dengan banyaknya rahasia satu persatu pun terbongkar.


Mbok Nan, Sendi, beberapa karyawan perusahaan yang berasal dari D Group yang ternyata berkhianat menjadi pekerja tetap di perusahaan Nata Hensana maupun Densal Comany akhirnya terpaksa mengakui semua kesalahannya.


Tak hanya itu, Tegar kembali hadir hari ini tanpa di duga.


Rafael pun sudah bisa menggali informasi yang begitu dalam terkait seluruh anggota keluarga mereka saat ini.


"Kemana sih dia? Teleponku mengapa tidak di jawab sampai saat ini?" tanya Rafael sang polisi yang berhasil menguak satu kebenaran.


Wajahnya begitu frustasi menghadapi masalah keluarga ini.


 


"Dav, ayolah angkat teleponku..." Rafael gelisah di depan ruang persidangan menunggu sambungan telepon terangkat.


Mondar mandir ia melangkah sembari terus menghubungi nomor ponsel yang tak kunjung terjawab itu.


 


Kepalanya hari ini terasa berdenyut dengan hebat kala mengingat suatu masalah besar hasil dari penyelidikannya.


Flashback on


Di sini, di depan sebuah bangunan tua yang tampak kumuh. Beberapa anggota polisi di bawah pimpinan Rafael mulai berloncatan dari mobil offroad yang mengantar mereka hingga berada di pelosok kota.


"Kamu di sana. Kamu di sana, dan kamu, kamu, kamu di bagian ini. Ikuti arahan saya dari jauh. Saya yang akan masuk ke dalam bersama kamu." Begitulah arahan Rafael dengan gerakan tangan yang sudah menjadi hal tidak asing lagi bagi para anggotanya.


"Siap, laksanakan Komandan!" sahut para anggota tanpa suara hanya dengan gerakan tangan juga mereka membalasnya.


Langkah cepat dan gesit bahkan tak mampu terdengar oleh indera pendengaran beberapa pria yang menjaga di bangunan itu.


Strategi yang cukup bagus. Tubuh mereka bergerak lincah memasuki gerbang yang begitu tinggi dan bertancapkan beling-beling tajam.


Banyaknya penjagaan di dalam sana, tak membuat petugas kepolisian kesulitan mencari target mereka.

__ADS_1


 


__ADS_2