Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 73. Di rumah Sakit


__ADS_3

Dava mengikuti arah yang di tunjuk sang istri saat itu juga. Di sana, Sendi menatap iba pada sang ibu. Ruth ikut sedih melihatnya.


"Aku harus kesana," Ruth bergerak ingin melangkah menuju dua sosok yang tengah berpelukan di sana. Namun Dava langsung segera menggenggam pergelangan tangan sang istri.


Matanya terpejam sedetik dan kembali menatap sang istri. Di tatapnya wajah ayu nan lembut di depannya.


"Ruth, kita lakukan apa tujuan kita kemari. Bukan untuk ikut campur dengan ini semua.' ujarnya penuh dengan ketegasan.


Sebagai seorang istri yang selalu merasa terlindungi, kini Ruth hanya menatap dari kejauhan saja sosok Wuri dan juga sang kakak. Ia tidak mungkin untuk tetap berkeras melawan sang suami.


Dava pun sudah sangat baik dan pengertian untuk menemaninya hingga ke rumah sakit.


Sekali lagi, Dava mengeratkan genggaman tangannya dan memejamkan matanya seolah memberikan isyarat dengan lembut.


"Ayo,"


Keduanya pun melangkah menjauh dari ruang di mana Dina tengah di tangani Dokter.

__ADS_1


Ruth melangkah semakin jauh dan kini ia menoleh ke depan untuk berjalan beriringan dengan sang suami.


Keduanya pun sampai di bagian administrasi rumah sakit. Dava selaku suami dari Ruth langsung mengutarakan tujuannya datang berkunjung.


"Silahkan, Tuan. Ini daftar tagihannya keseluruhan." Dava meraih selembar kertas yang beralaskan papan dan memperlihatkan pada sang istri.


Keduanya tampak kompat mencermati seluruh rincian harga dari biaya obat, cairan infus dan juga biaya dari dokter yang memeriksa hingga biaya operasi Dina yang belum juga di lakukan sampai saat ini.


 


"Yah mau bagaimana...ini berhubung rumah sakit yang cukup bagus memang pasti biayanya sebanyak ini. Lagi pula mungkin mereka tidak menyangka jika saat seperti ini keuangan mereka juga sedang bermasalah." terang Dava mengusap pucuk kepala sang istri.


Ruth mendengarkan penuturan sang suami dan mengangguk. Lalu Dava kembali pada tujuan utama mereka datang.


"Sus, ini untuk seluruh tagihan tolong di bantu biar kami yang melunaskan yah?" Dava pun bergerak menyerahkan kartu kredit yang di berikan sang istri padanya barusan.


"Baik, Tuan. Mari silahkan duduk dulu untuk menunggu proses administrasinya."

__ADS_1


"Terimakasih yah, Sus." Ruth mengikuti sang suami untuk duduk dan tersenyum lega.


Dava hanya membalas senyuman sang istri dengan wajah tenangnya.


Sedangkan di sisi yang berbeda, Sendi tengah menenangkan sang Ibu yang terus terisak tanpa bisa berhenti.


"Ibu, tenanglah." Wuri masih menjatuhkan air mata terus menerus tanpa henti.


"Sendi, bagaimana Ibu bisa tenang? Semuanya sudah tidak ada. Ibu tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Dina di dalam sana sedang mempertaruhkan nyawa, Sendi. Ibu tidak bisa membayar administrasi." Wuri menangis di dalam pelukan sang anak.


"Jangan pikiran untuk masalah uang, Bu. Sendi masih punya uang tabungan untuk biaya ini semua. Ibu tunggu di sini. Oke?" Sendi berlalu pergi setelah memegang kedua bahu sang Ibu meyakinkan jika dirinya bisa mengatasi ini semua.


 


Kini tinggallah Wuri seorang diri menatap punggung sang anak yang semakin  menjauh. Ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Sendi, tidak seharusnya Ibu memanggilmu untuk merepotkan mu, Nak. Ayahmu sudah sangat begitu kejam padamu selama ini. Tidak sepantasnya Ibu meminta apa pun darimu...maafkan Ibu, Sendi."

__ADS_1


__ADS_2