
Di sini, dua wanita tampak sedang duduk bersampingan dengan jarak meja di antara keduanya. Dina yang merasa sangat putus asa tak bisa lagi bersikap arogan seperti biasanya.
Perasaan ingin menyerah, namun dirinya tak sanggup untuk melalui ini semua dengan sendiri. Ia butuh sosok Sendi. Sosok yang bisa memberikannya semangat untuk tetap bertahan dengan kehidupan cacatnya sebagai wanita.
"Non, sabarlah. Mbok yakin saat ini Tuan Sendi sangat banyak beban pikiran. Jika Non Dina terus saja memaksakan, Mbok khawatir Tuan Sendi akan semakin menjauh." ucapnya mengusap bahu wanita cantik yang terisak di sampingnya.
Benar yang di katakan Mbok Nan. Dina juga berpikir demikian. Ia ingin menjauh sementara waktu dari Sendi. Dan membiarkan sang suami untuk memikirkan semuanya dengan baik. Tetapi mengingat gugatan cerai yang dilakukan Sendi padanya, tentu ia tidak bisa menyerahkan seluruh keputusan begitu saja.
"Mbok, saya sadar saya salah. Saya sangat mencintai Sendi, Mbok. Dia pria satu-satunya yang ada di hati saya, Mbok. Saya tidak mau kehilangan suami saya." isak Dina menangisi perceraian yang sbeentar lagi akan terjadi padanya.
__ADS_1
Mbok Nan yang melihat keputus asaan wanita itu, hanya bisa menghela napasnya kasar. Ia sangat tahu siapa wanita yang terus menjadi bayang-bayang di kepala Sendi sampai saat ini.
"Kasihan Non Dina. Tuan Sendi pasti tidak akan semudah itu berpindah hati pada wanita lain." batinnya menatap iba pada sosok Dina.
"Non Dina, semua hati manusia tidak ada yang tahu akan berakhir seperti apa. Yang Mbok tahu, manusia hanyalah wadah untuk para hati selebihnya Allah lah yang menjadi penentu pada siapa hati itu akan bertumpu kelak. Itu artinya, jika Non Dina tidak bisa meminta hati itu pada sang wadah, mintalah pada sang pemilik hati tersebut. Mbok yakin Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi hambanya yang meminta pada-Nya."
Dina menoleh usai mendengar penuturan panjang lebar Mbok Nan. Ia mengusap air matanya dan langsung berhambur memeluk Mbok Nan. "Mbok, terimakasih yah? Mbok sudah membantu saya menenangkan pikiran. Dina sangat senang mendengar nasehat Mbok. Terimakasih yah Mbok." ucapnya dengan penuh ketulusan.
"Sama-sama Non Dina, Mbok juga senang bisa membantu Non Dina meski hanya dengan bicara saja." serunya tersenyum lembut.
__ADS_1
"Ruth sangat beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya." Dina kembali teringat pada sosok wanita yang menjadi perebut hati sang suami.
Sendi begitu sangat mencintai dirinya jauh sebelum pernikahan mereka berlangsung, Dan saat ini, mereka berpisah juga karena Sendi tak bisa membuang perasaan cinta itu.
"Sekarang, Non Dina fokus dulu dengan kehidupan Non. Dan jangan lupa berdoa. Doa itu hasilnya sangat mujarab, Non. Jangan pernah memaksa hati orang dengan kekerasan. Sentuhlah dia dengan cara yang lembut dan dari hati yang paling dalam. Kelak, pasti akan bisa merasakan kerasnya usaha Non Dina yang sangat tulus."
Dina mengangguk mendengarnya. Ia melepaskan pelukan itu dan mengusap air matanya. "Baiklah Mbok. Saya akan mendengarkan ucapan Mbok Nan. Saya juga merasakan itu adalah jalan yang terbaik. Sekarang saya pasrah jika Sendi akan menceraikan saya, Mbok."
"Mbok, saya pamit dulu yah. Salam untuk Ruth dan juga yang lainnya."
__ADS_1
"Hati-hati yah, Non." Mbok Nan mengantarkan kepergian Dina keluar halaman hingga ia tak melihat lagi wanita itu dari jarak yang semakin jauh.