Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 183. Kerinduan Pada Sang Ayah


__ADS_3

Suasana terasa menegang seketika kala sang dokter melepaskan alat stetoskop dari tubuhnya. Ia menarik napas dalam lalu berkata pelan.


"Keadaan pasien sangat mengkhawatirkan saat ini. Tekanan darahnya begitu tinggi bahkan sampai saat ini ia masih belum sadarkan diri. Tetapi, kami bersyukur bisa menangani pasien lebih cepat, beruntung keadaannya sudah teratasi. Ini benar-benar keadaan yang gawat jika saja terlambat di tangani." Sendi dan Tarisya saling memandang sementara kedua mata mereka saling bertatap lega.


"Apa bayinya juga baik-baik saja, Dokter?" tanya Tarisya kembali mengkhawatirkan keadaan sang cucu.


"Tentu, keadaan calon bayi aman. Semuanya masih baik-baik saja. Untuk beberapa hari saya rasa pasien harus tetap di rawat di sini hingga keadaannya kembali membaik." pintah Dokter dengan tegas.


"Baiklah Dokter. Ini semua karena keteledoran saya sebagai ibunya." sesal Tarisya yang menundukkan kepala di depan Dokter itu. Ia benar-benar menyesali ucapannya yang terpaksa harus jujur demi kelanjutan hubungan anak-anaknya. Tetapi hal itu justru membuatnya menjadi mendapatkan masalah yang baru.


"Bunda, jangan berbicara seperti itu di depan Dokter." tutur Sendi yang memohon pada bundanya agar berhenti menyalahkan diri sendiri.


"Terimakasih, Dokter." ucap Sendi seakan mempersilahkan dokter itu untuk pergi dari sana.


Segera dokter pun meninggalkan mereka untuk kembali ke ruangan lainnya. Sebelumnya ia sudah mengatakan jika mereka akan bertemu dengan pasien usai pemindahan ruangan ke ruang rawat.


"Bunda, tinggallah di sini sebentar, Saya akan mengurus administrasi dulu." Anggukan kepala Tarisya membuat Sendi tak membutuhkan waktu lama untuk beranjak pergi.

__ADS_1


Meskipun Ruth bukanlah wanita yang menjadi incarannya lagi, tetapi Sendi akan terus memperlakukan wanita itu layaknya putri di hatinya.


Ia sengaja meminta ruangan VVIP untuk tempat istirahat sang adik selama beberapa hari kedepan.


Di sini tinggallah Dina yang menemani sang ayah mertua duduk menonton televisi.


"Apa...masih ku-at?" pertanyaan dari bibir sang ayah sontak membuat Dina begitu terkejut. Setahu ia selama ini ayah mertuanya sama sekali tidak bisa berbicara.


Ia menatap dengan bola mata yang membulat pada Tuan WIlson. Tiba-tiba saja perasaan takut menghantuinya begitu saja.


"A-apa ma-ksud Ayah?" tanyanya dengan panik. Genggaman tangannya bahkan semakin erat takut-takut jika ternyata sang mertua memiliki dendam padanya. Itulah sebabnya selama ini berpura-pura lumpuh dan tidak bisa berbicara.


Ia tersenyum kaku dan menggelengkan kepala dengan pelan. "Ayah tidak perlu meminta maaf atas perbuatan yang tidak terjadi sama sekali." sahut Dina tanpa tahu maksud dari ucapan sang ayah.


"Bersabarlah...sekeras apa-pun hati se-seorang pasti akan luluh." Tuan Wilson menatap wajah sembab sang menantu.


Selama ini ia tidak bisa berbicara bukan berarti jika ia tuli dan buta. Semua yang terjadi di dalam rumahnya tentu saja ia tahu. Tetapi selama ini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap berusaha sembuh demi menjalankan perannya yang sesungguhnya sebagai kepala rumah tangga.

__ADS_1


"Ayah akan mendukungmu, Nak. Kau berhak mendapatkan cintamu yang telah kau perjuangkan selama ini." ucapan sang mertua membuat Dina tak bisa menahan lagi air mata yang jatuh begitu saja dari kedua bola matanya.


Lamanya ia kehilangan ayah kini membuatnya kembali merasakan kasih sayang itu. Namun kali ini kasih sayang yang ia rasakan benar-benar membuatnya terasa kembali kuat. Bukan menjadi arogan seperti sebelumnya karena dukungan dari sang ayah yang selalu membuatnya ingin menjadi sosok egois.


Dahulu, semua yang ia inginkan bukanlah impiannya. Tetapi ia sudah mengklaim jika apa yang ia inginkan sudah pasti adalah haknya. Sama seperti saat ia menyukai Sendi. Tidak ingin tahu bagaimana pun caranya, Sendi adalah miliknya di mulai dari hatinya jatuh pada pria itu.


"Ayah..." isaknya segera memeluk Tuan Wilson dengan erat. Tak perduli siapa pria di depannya. Baginya Tuan Wilson adalah ayah untuknya pengganti ayah kandung yang kini entah bagaimana keadaannya.


Pelukan yang tulus membuat Tuan Wilson terasa tenang dalam dekapan sang menantu. Sungguh ia menyadari jika saat ini usianya tak lagi muda seperti dulu. Kini ia bukan hanya memiliki tiga anak tetapi juga memiliki menantu baik seperti Dina.


"Dengar, Nak. Tuhan tidak akan tidur untuk menutup mata tanpa mau melihat perjuangan kita. Selama hatimu yakin itu adalah cinta tulusmu. Perjuangkanlah, tetapi jika kau lelah. Berhentilah dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Tuhan maha mengetahui. Jika itu tidak baik untukmu, ia akan memberikan jalan pada yang lain untuk membuatmu bahagia. Cinta akan tahu pada siapa ia bertahan." Dina meneteskan air mata di pangkuan sang mertua. Ia memeluk dan menyandarkan kepalanya pada kedua kaki sang mertua saat ini.


Rasa rindunya untuk menyatakan isi hatinya pada seseorang telah tersampaikan saat ini bahkan tangisnya pun bisa ia lampiaskan saat ini. Sudah berapa lama bahkan ia sendiri lupa, kapan terakhir ia mencurahkan isi hatinya dan menangis sembari mengeluh dengan rasa sesak dalam dadanya.


Sekali pun Sendi tak pernah melihat itu. Hanya Ruth yang selalu ia lihat ketika sedih.


"Dina." suara seseorang yang tiba-tiba terdengar membuat dua sosok yang saling mencurahkan perasaan tersentak kaget.

__ADS_1


Dina mengusap cepat air matanya dan menoleh ke arah sumber suara terdengar.


__ADS_2