Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 7. Kembali Bekerja


__ADS_3

Bangunlah secerah mentari pagi, meski jelas air matamu yang belum mengering. Jangan pernah menampakkan mendung di wajahmu di pagi hari, karena masalalu yang menyisahkan tangis saat terakhir kali matamu terpejam.


Malulah pada mentari, agar senyuman mu mampu mengalahkan sinarnya.


Percayalah, tidak akan ada waktu yang bisa terulang. Selain memulai semuanya setelah mengakhiri itu semua. Dan membuat akhir yang indah.


Suasana yang begitu menyegarkan pandang, membuat netra indah yang masih tertutup kelopak mata mengerjap beberapa kali.


Namun, saat sang mulut bersuara, "Huaaaaahh," tiba-tiba terdengar suara berat nan asing menggema.


"Lupakan apa yang tidak dapat kamu capai, dan mulai pikirkan hal yang indah yang kamu miliki saat ini."


Betapa terkejutnya Ruth saat menatap tubuh yang duduk di dekatnya. "Kamu? siapa kamu? Mengapa ada di kamar ini?" tanyanya sembari bangun dengan cepat dan menatap sekeliling kamar.


"Ini benar kamarku," lirihnya dengan yakin.


Senyum ganjil tampak di wajah pria tampan itu. "Cepat suruh Mbok buka pintunya. Aku sedang ada pertemuan pagi ini."


Yah, sepertinya Dava paham betul jika ini semua ulah Mbok Nan. Lagi pula, sepertinya semalam ia tidak keberatan berada satu kamar dengan gadis cantik di depannya.


Dua kelopak mata pria itu tampak sedikit menghitam. Sepertinya semalaman ia tampak terjaga di sisi wanita asing ini.


"Mbok Nan," sahut Ruth menyadari ulah sang bibi.


Matanya menatap sesekali mencuri pandang pada Dava yang kini berdiri menghadap pada hamparan bunga di taman rumah itu. "Mbok Nan, benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya mengunci kamarku dengan pria asing. Kalau sampai Sendi tiba-tiba kesini bagaimana? makin kotorlah namaku." ucapnya membatin.


Belum sempat ia sampai di depan pintu kamar, ingatannya kembali pada sosok Sendi Sandoyo.


"Apa hubungan ku benar-benar berakhir kali ini? apa Sendi benar tidak mau menerima dan mendengar penjelasan ku? Tuan Deni juga tidak mungkin membiarkan kami bersama."


Ruth mengetuk pintu kamarnya tanpa suara. Matanya kembali berkaca-kaca.


Ceklek, Suara pintu terbuka dengan kunci. Kemudian kembali terputar dari luar bagian knock pintu tersebut.


Senyuman kikuk terbit di wajah wanita paruh baya itu. "Hehehe, Non Ruth sudah bangun rupanya. Ini Mbok bawakan sarapan untuk kalian." ucap Mbok Nan mati kutu.


Niat hati ingin membuka pintu lebih awal, agar sang majikan tidak mengetahui. Namun sayang, ia bangun kesiangan karena kelelahan semalam.


"Mamah," teriak seorang bocah yang sudah berwajah segar dengan tampilan rambut yang terikat dua di kepalanya.


Ruth tanpa berpikir langsung menyambut tubuh mungil itu. "Putri, Mamah kangen banget sayang."


"Putli juga kangen sama Mamah, Mamah lama banget pelgi keljanya. Untuk ada Paman ganteng bantuin Putli semalam cali Mamah. Eh...Paman," Putri berbicara panjang lebar, dan senyuman di bibirnya semakin melebar kala melihat sosok Dava berjalan mendekat ke arahnya yang masih berada di pintu kamar sang Mamah.

__ADS_1


"Halo anak cantik. Bagaimana demam mu? apa sudah turun?" sapa Dava memeriksa kening Putri yang masih memeluk Ruth.


"Demam? Mbok, apa benar semalam Putri demam? kenapa tidak memberitahu saya, Mbok?" Ruth begitu cemas mendengar ucapan Dava kala itu.


Ia langsung bergerak panik memeriksa setiap bagian tubuh Putri.


"Iya, Mamah. Putli demam semalam. Tapi ada Paman ini, jadi Putli kuat deh. Paman ini pacar Mamah yah?"


Sontak Dava terkekeh mendengar pertanyaan polos si bocah cantik itu. Namun berbeda halnya dengan Ruth, ia terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Bu-bukan sayang. Kan pacar Mamah Om Sendi. Putri kan kenal sama Om Sendi, kan?" Ruth tampak bingung sekaligus malu mendengar penuturan sang anak.


Pelukan keduanya pun merenggang. Putri masih saja tersenyum lebar pada Dava.


"Paman, Putri suka kok kalo Paman ganteng yang sama Mamah. Kalo Om Sendi itu nggak suka ajak Putri ngomong. Iya kan, Mbok?"


Mbok Nan tersenyum kecil mendengarkan curahan hati Putri. Begtu juga Dava.


"Apa itu artinya Ruth seorang janda? ah sudahlah. Sebaiknya aku segera pulang untuk siap-siap pergi ke Singapura hari ini." Dava merasa penasaran, namun perasaan itu segera ia tepis. Saat ini perusahaannya jauh lebih penting untuk di awasi.


"Yasudah kalau begitu Paman pulang dulu yah? Paman siang ini harus ke Singapura. Putri mau Paman bawakan oleh-oleh?" tanya Dava menawarkan pada bocah kecil itu.


Dengan senang hati, Putri menganggukkan kepalanya. "Mau...mau, Paman."


"Biarkan dia senang kali ini. Aku ikhlas." sahut Dava kemudian mencubit gemas pipi Putri.


"Yasudah, Paman pergi dulu yah. Putri, jangan sakit lagi. Kalau nggak ada Mamah Putri, masih ada Paman. Okey?" ucap Dava memberi sindiran halus pada Ruth.


Setelah kepergian Dava, kini Putri sarapan bersama Ruth di meja makan setelah menunggu sang Mamah mandi.


Sarapan hening berbeda dari biasanya. Suasana hati Ruth saat ini sedang mendung gelap gulita. "Mamah,"


"Ruth, habiskan makannya yah? Mamah sedang pusing kepalanya." ucap wanita itu tanpa mau mendengarkan ocehan sang anak seperti biasanya.


Putri menunduk. Matanya begitu sedih kala mendengar ucapan masa bodoh sang Mamah padanya. Padahal di hari-hari sebelumnya, Ruth begitu selalu antusias mendengarkan celotehan sang anak.


Pupus harapan dan perjuangan dirinya kali ini. Mengharapkan cinta yang telah pergi pun tak mungkin.


Cukup sudah cobaan yang selama ini terus menerjang cintanya dengan Sendi.


"Kini embun pagi telah pergi. Basah hujan pun semalam telah kering. Perjuangan besar ku pun kini hanya akan menjadi kenangan indah yang tak pernah terlupakan, Sendi. Kau adalah pria yang begitu aku cintai. Namun, sayang. Kekokohan cintamu, tak mampu membuat namaku selalu bersih di pikiranmu. Kali ini aku menyerah untuk cinta kita. Aku lelah...."


Usai beberapa saat sarapan, tidak sarapan. Lebih tepatnya hanya mengaduk makanan saja di piring. Kini Ruth menghampiri Mbok Nan yang entah sejak kapan sudah membawa Putri ke dalam kamar.

__ADS_1


"Mbok, Mbok Nan." panggil Ruth sembari melangkah menuju kamar sang anak.


Di sana, di ambang pintu terlihat langkah wanita berpakaian formal terhenti.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Mamah itu lagi banyak masalah." bujuk Mbok Nan sembari mengusap air mata Putri yang menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya.


"Hiks hiks hiks...Mbok, Mamah sudah nggak sayang lagi yah sama Putli? Mamah lebih sayang sama Om Sendi, Mbok. Putli takut kehilangan Mamah Ruth."


Linangan air mata yang sejak semalam berjatuhan, pagi ini kembali jatuh di kedua mata sembab milik Ruth. Tangannya yang berposisi tegap mendadak rapuh dan merapat ke tembok sisi pintu.


"Enggak bener itu, Sayang. Mamah itu sayang sekali sama Putri. Besok pasti Mamah sudah mau dengerin cerita Putri lagi. Sekarang Putri jangan nangis yah. Ingat, Mamah Putri harus kerja lagi pagi ini. Buat makan Putri sama Mbok. Jadi Putri ingat harus apa?"


"Harus semangatin Mamah dan kuatin Mamah, Mbok." sambung Putri yang sudah paham sekali dengan tugasnya setiap pagi.


"Anak pinter, ayok." Mbok Nan mengelus kepala bocah itu dan menggandeng tangan mungil tersebut menuju ke luar kamar.


"Eh, Non Ruth,"


"Mamah."


Keduanya sontak sama-sama terkejut melihat kehadiran Ruth yang berada di depan pintu.


"Mbok, saya berangkat kerja dulu. Putri, Mamah kerja yah? Kami belajar yang pintar yah, Sayang. Maaf Mamah lagi sibuk banget. Nanti malam, Mamah janji kita ngobrol bareng sambil nonton film. Okey?"


Rasa bersalah Ruth pada sang anak akhirnya menyadarkan dirinya saat itu juga. Ia sudah berjanji akan mencintai Putri dengan tulus. Bagaimana ia bisa melupakan janji itu, hanya karena soal hati yang terluka? tentu itu adalah dua hal yang berbeda dan tentunya tidak boleh di sangkut pautkan.


Begitu pula dengan Putri, senyum yang lenyap sejak tadi berganti dengan tangis akhirnya sirna sudah. Ia mengangguk cepat dan tersenyum.


"Oke, Mamah. Yang semangat kerjanya, Mah. Buat susu Putli. Putli sayang Mamah."


"Iya sayang, Mamah juga sayang Putri. Sini peluk Mamah dulu."


***


Jam menunjukkan pukul Delapan pagi. Kini gedung berlantai delapan itu tampak mulai padat pekerja.


Mata Ruth tertuju pada lambang yang tertera di gedung tinggi itu. Densal, perusahaan dimana ia harus kembali bertemu dengan pria yang sampai saat ini masih menjadi penunggu singgasana di hatinya.


"Ruth, kamu bisa. Lebih cepat lebih baik kamu bertemu dengannya. Harus bisa konsisten. Saat ini dia bukan siapa-siapa mu lagi." Helaan napas terdengar kasar setelah ia memasuki gerbang utama kantor Densal Company.


"Demi Putri, Ruth." ucapnya akhirnya.


Suara bisik-bisik terdengar jelas saat Ruth berjalan menyusuri gedung itu untuk menuju tempat ia bekerja sebagai sekertaris Sendi Sandoyo.

__ADS_1


"Ada apa, ini? apa mereka membicarakan ku?" tanyanya dalam hati.


__ADS_2