Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 210. Pengakuan


__ADS_3

Bibir pucat yang biasa selalu berwarna cheri itu bungkam setelah mengatakan keresahan hatinya atas kedatangan pria di depannya kini yang secara tiba-tiba.


"Aku sangat mencintaimu..." tiba-tiba saja pelukan erat yang menyalurkan perasaan hangat itu membuat wanita yang baru berubah status seorang ibu kini tampak membelalakkan matanya.


Ia sangat terkejut, rasa rindu yang berusaha ia tanam di dalam hatinya kini tiba-tiba ingin menyeruak kembali, meski kemarahan dan kekecewaan membuatnya teringat dengan keinginan untuk tetap baik-baik saja. Nyatanya kini kedua tangan yang lemas itu bergerak terangkat dan membalas pelukan sosok Dava.


"Aku juga sangat mencintaimu, Dav." buliran bening terus lolos di kedua wajah mereka. Cukup lama terpisahkan membuat mereka sangat merindu.


"Mengapa? apa kau takut jika aku akan melarangmu pergi?" Ruth berusaha kuat untuk mencari jawaban yang selama ini bersarang di kepalanya.


Dava menggeleng saat masih memeluk tubuh sang mantan. "Aku sudah mendapatkan jalanNya, Ruth. Aku menemukan kedamaian..."


Ruth yang tak menunggu cerita lebih lanjut dari Dava, berpikir jika pria itu sudah menemukan sosok pengganti dirinya.


Dava mengurai pelukan itu dan beralih menangkup wajah sang wanitanya. "Kapan? kau siap untuk kita kembali bersama?" senyuman di wajah Dava pun melebar kala mengingat perjuangannya beberapa saat terakhir inil.

__ADS_1


"Tidak, Dav." Ia melihat gelengan kepala Ruth yang mengisyaratkan menolak ajakannya itu.


"Ruth, aku siap menjadi imam mu dan anak-anak kita kelak."


Suasana hening, Dava terdiam usai mengatakan keinginannya pada sang istri. Begitu pun dengan Ruth yang terdiam membisu. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Dava kali ini.


"Aku pergi karena ingin memiliki waktu untuk memahami agamaku," tuturnya perlahan setelah menghela napasnya yang terasa berat.


"Dan agama Islam..." lanjutnya yang sontak membuat mata sendu wanita di depannya berubah jadi menerang seterang mentari di tengah hari.


"Yah...aku pergi demi agama...bukan hal lain." Dava seakan tahu dengan reaksi Ruth yang begitu sangat terkejut.


"Di sini..." Dava mengarahkan tangan Ruth tepat pada dada bidang miliknya yang terbalut jaket hodie.


"Kau adalah pemiliknya, bagaimana mungkin aku bisa bercanda dengan sang pemiliknya? aku benar-benar berjuang dengan jalan kebaikan, Ruth. Saat ini aku sudah seiman denganmu." Penuturan Dava benar-benar seperti sambaran petir tanpa cahaya kilat. Benar-benar mengejutkan.

__ADS_1


"Yah...kepergianku selama ini untuk belajar semuanya. Semuaaaanya, dan aku sudah meyakini agama islam adalah jalan terbaik yang aku yakini." ia terus menjawab meski hanya melihat Ruth yang menggelengkan kepala.


Semua tentu sangat mengejutkan bagi Ruth, bahkan siapa pun yang mendengarnya nanti.


"Aku menginginkan kita kembali bersama, merawat dan mendidik anak-anak kita bersama hingga tumbuh dewasa..." Amarah, kekecewaan kini lenyap tak berjejak.


Ruth tampak menitihkan air matanya perlahan, entah ia harus berkata apa saat ini. Semua terjadi seperti mimpi yang tak pernah terlintas dalam angan-angannya.


Di depannya, Dava merentangkan kedua tangannya. Wajahnya begitu tampan di mata cokelat milik Ruth.


"Dav, kau..." Kini terkihatlah senyuman di wajah Ruth yang telah lama menghilang kembali sudah. Ia menggeleng kecil seraya mengembangkan senyuman indah di wajah tembemnya itu. Tangannya pun bergerak langsung menghambur ke dalam pelukan pria yang begitu di cintainya itu.


Keduanya pun berpelukan cukup lama, terlihat Dava mengecup beberapa kali pucuk kepala wanita yang baru saja berjuang untuk melahirkan darah dagingnya ke dunia ini. Di ayunkannya pelukan itu hingga akhirnya terdengarlah suara bayi yang merasa terabaikan sejak tadi.


"Oek! oek! oek!" jeritnya menggeliat di atas brankar samping sang ibu.

__ADS_1


Pelukan hangat pun terlepas begitu saja. Ruth dengan cepat di bantu Dava untuk bersandar dan menggendong baby kecil mereka.


"Sayang, apa kau cemburu dengan Ayah?" celetuk Dava mencolek pipi lembut sang anak.


__ADS_2