Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 222. Persembahan Putri dan Zon


__ADS_3

Suasana di kamar yang begitu indah dengan dekorasi bunga yang segar di setiap sudut kamar itu semakin menambah kesan romantis.


Indah sama seperti pemilik kamar pengantin hari ini. Ruth tampil dengan senyuman yang sangat menawan usai melakukan sesi ijab qobul.


"Anak Bunda sangat cantik. Selamat sekali lagi yah Nak?" Tarisya memeluk dan mengusap rambut yang tersanggul di kepala sang anak itu.


Ruth tersenyum mendengarnya. "Rasanya hari ini seperti mimpi, Bunda." tuturnya dengan menatap sang bunda yang sangat setia mendampinginya mulai di kamar pagi tadi hingga kini mereka sudah berada di kamar lagi untuk merias wajah di acara resepsi.


"Mba, tolong untuk warna lipstiknya jangan yang merah yah. Saya mau..."


"Harus merah yah, Mba? Biar bercahaya." Tarisya segera memotong ucapan sang anak.


"Baik, Nyonya." jawab sang make up dengan patuh.


"Bunda..."


"Kamu harus segar, Nak. Kalau warnanya soft kurang segar Bunda lihat. Wajahmu ini terlalu lembut."


Akhirnya sang make up pun memoleskan lipstik warna merah cerah. Sontak saja sangat kontras dengan kulit putih dan mata cokelat milik Ruth saat itu. Benar-benar sangat seksi.


Sedangkan di kamar yang berbeda, kini Dava baru saja selesai memakai pakaiannya dengan lengkap. Wajahnya begitu segar usai kembali di tata rambutnya dengan hairstyles itu.


"Sempurna, Tuan." tuturnya memuji ketampanan Dava sore itu.


Meski Dava terlihat murung karena memikirkan sesuatu sedari tadi.


"Ayah? kenapa melamun sih?" tanya Putri yang tampak memperhatikan sedari tadi sosok sang ayah dari arah tempat tidur yang ia duduki.


"Oh tidak. Ayah tidak melamun, Putri." jawab Dava segera tersenyum.


"Ayo kita lihat Mamah." ajaknya pada sang anak dan menggendongnya keluar kamar.


Tertinggallah seorang yang baru saja selesai dengan tugasnya menata penampilan Dava. Ia menatap kepergian mempelai pria dengan anak kecil di gendongannya.

__ADS_1


"Ada-ada saja yah jaman sekarang? Anak sudah dua baru nikah. Huh...entahlah. Mulutku ini selalu saja ingin berbicara tentang orang." ia tampak memukul bibirnya kesal.


Perjalanan Dava dan Putri tentu saja tidak perlu memakan waktu lama. Mereka kini sudah tiba di kamar yang di tempati sang wanitanya menata penampilannya.


Sesuai dengan permintaan sang ayah dan bunda jika mereka akan tidur bersama setelah acara selesai.


"Mamah!" Seru Putri yang melihat sang mamah sudah begitu cantik seperti bidadari.


Ruth pun menoleh dengan pelan, ia tersenyum menatap sang anak yang begitu terlihat bahagia hari ini. "Putri, kemari Nak." panggilnya.


"Putri pelan-pelan yah peluk  Mamah. Nanti Mamah jadi berantakan lagi loh." ucap Tarisya, sang nenek pada cucunya.


"Iya Nenek." jawab Putri.


Setelah mereka bertemu di kamar itu, akhirnya Dava dan Ruth berjalan bergandengan tangan menuju tempat mereka akan berdiri menyambut para tamu undangan.


Sebuah karpet merah yang terbentang begitu panjang ke depan kini menjadi jalan khusus untuk kedua mempelai.


Suara tepukan tangan terdengar begitu meriah kala itu. Di mulai dari sosok bocah cantik yang memegang keranjang bunga dengan bergandengan tangan bersama anak kecil laki-laki. Tampan dan cantik, mereka benar-benar seperti pengantin.


Langkah keduanya di susul oleh pengantin yang sesungguhnya di belakang.


Ruth dan Dava bergandengan tangan. Gaun berwarna merah dan lipstik berwarna merah sangat cocok di tubuh wanita berparas bule itu. Di sampingnya, sang mempelai pria mengenakan tuxedo dan jas berwarna hitam dan kemeja berwarna merah. Senada dengan gaun sang wanita.


Mereka berjalan dengan saling melambaikan tangan pada para tamu undangan yang sudah menyambut meriah kehadiran mereka itu.


Di depan sana tiba-tiba saja suara instrumen romantis terdengar mengiringi dua bocah yang bergerak berdansa.


"Hah?" Seketika Ruth tercengang melihat sang anak di depannya berdansa dengan pasangan pria kecil itu.


"Dav, lihat Putri berdansa." ia benar-benar sangat tidak menyangka dengan kejutan dari sang anak.


Dengan gerakan yang sedikit salah, Putri tetap menunjukkan senyumannya pada kedua orangtuanya. Ia ingin memberikan sebuah kenang-kenangan pada ayah dan mamahnya di hari yang bahagia ini.

__ADS_1


"Ya Allah, Putri lucu sekali Ayah?" Tarisya terkekeh melihat sang cucu yang bergerak begitu menggemaskan dengan tubuh gendutnya di depan sana.


"Ayah melihat ada bakat di diri anak itu, Sya." sahut Tuan Wilson.


Yah, sang kakek inilah yang sudah mengatur segalanya di hari pernikahan sang anak berkat bantuan Mbok Nan juga.


Akhirnya, tanpa bisa menahan rasa lagi, Dava pun mulai memposisikan dirinya dan Ruth yang akan melakukan dansa dadakan.


"Dav, aku tidak bisa." ucap Ruth yang merasa malu kala sang suami sudah mengarahkan tangannya pada punggung leher pria tinggi itu.


Dava tersenyum lalu menggeleng. "Jangan kecewakan semangat anak kita, Ruth." tuturnya sembari menatap dalam mata cokelat milik sang istri.


Ruth pun menoleh sekilas pada Putri, di sana ada senyuman dengan tampilan gigi yang tidak utuh. Yah, benar apa yang di katakan Dava barusan. Mereka tidak boleh merusah kebahagiaan di wajah Putri kali ini. Ini adalah hari untuk mereka dan juga hari untuk anak mereka.


Suasana riuh mendadak hening kala semua para hadirin mulai menikmati acara sore itu yang beranjak malam. Beruntung baby Rava juga mengerti hari ini, ia benar-benar sangat lelap tidur setelah mendapatkan asupan asi dari sang mamah saat usai ijab qobul tadi siang.


Malam yang sangat meriah menjadi saksi betapa merdekanya keluarga Tuan Wilson hari ini. Sungguh, tak ada lagi satu pun masalah di keluarga mereka.


Dina dan Sendi malam itu juga tampil dengan pakaian senada berwarna biru navy. Mereka pun ikut berdansa menikmati musik yang menenangkan.


"I love you," tutur Dava semakin mendekatkan wajahnya pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya kini.


"I love you too, Dav."  balas Ruth dengan wajah memerah.


"Apa kau sudah mempersiapkan dirimu untuk malam ini?" tanyanya dengan pandangan mata yang semakin menelisik.


Tentu saja pertanyaan itu seketika membuat Ruth menelan salivahnya susah payah. "Dav, apa kau bercanda?" tanyanya dengan wajah tak yakin jika itu benar pertanyaan yang ingin di tanyakan sang suami.


Tentu saja sebagai wanita yang sudah pernah menikah, Ruth tahu jelas apa maksud ucapan sang suami saat ini.


"Aku baru saja melahirkan, dan tentu saja tidak bisa langsung melakukan itu." terang Ruth membuat wajah Dava benar-benar berubah.


Apa yang ia pikirkan sedari di ruangan make up tadi benar adanya. Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya sejak pagi, apakah wanita yang baru saja melahirkan bisa di gunakan miliknya? Mengingat betapa besarnya bentuk bayi yang baru di lahirkan. Dan kini, terjawab sudah jika ketakutannya memang benar adanya.

__ADS_1


"Apa...itu tandanya tidak ada malam pertama?" pertanyaan yang polos itu membuat Ruth membungkam bibirnya yang ingin tertawa lepas saat itu juga.


__ADS_2