Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 173. Kembalinya Para Anak-Anak


__ADS_3

Sepanjang jalan terus saja mengeluarkan air mata membuat tubuh Ruth yang tidak begitu kuat perlahan mulai kehabisan tenaganya. Ia menyandarkan kepala miliknya pada sandaran kursi mobil di belakangnya.


"Kak, ini minum dulu. Kakak pasti kelelahan." tangan Dina langsung menyodorkan air mineral berukuran mini padanya dari arah depan.


Ruth menatap sang adik ipar sejenak lalu segera mengambil air itu. Ia meminumnya hingga habis setengah botol kecil.


"Terimakasih, Din." tuturnya tanpa ekspresi sama sekali.


Dina yang melihatnya tentu sangat paham dengan keadaan kakak iparnya dan akhirnya ia pun memilih untuk diam saja dan fokus kembali menatap ke arah depan.


Di pelataran salah satu rumah malam itu tampak begitu jelas memperlihatkan wanita yang sedang mondar mandir di temani wanita yang tak kalah tua dari usianya.


"Nyonya, ini sudah tempias, Nyonya. Sebaiknya kita menunggu di dalam saja..." Mbok Nan melihat air hujan yang begitu deras perlahan mulai mendekati tempat mereka berdiri saat ini.


"Mbok, bagaimana mungkin saya takut hanya dengan air hujan saja? Sementara di luar sana anak-anak saya entah apa yang mereka dapatkan.  Saya sagat mencemaskan keadaan anak-anak, Mbok. Saya takut terjadi apa-apa dengan mereka." ia berulang kali mengusap kedua lengannya sendiri karena merasakan hawa yang begitu dingin masuk ke dalam pori-porinya.


Mbok Nan mendengar hal itu sontak menunduk tak berani mengatakan apa-apa lagi. Yang terpenting ia saat ini menjaga majikannya dengan baik.


"Ya Allah...semoga Non Ruth dan yang lainnya baik-baik saja. Mbok yakin mereka sudah dewasa dan pasti bisa menjaga diri mereka masing-masing." batinnya menatap ke halaman depan rumah.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kalian, Nak. Bunda sangat takut kehilangan kalian lagi..." lirih Tarisya yang menatap penuh kecemasan pada hujan yang semakin deras turun.


Tak selang beberapa menit, akhirnya sebuah mobil pun tampak memasuki area halaman rumah kediaman Nicolas.

__ADS_1


"Itu Tuan Berson, Nyonya." tunjuk Mbok Nan yang di ikuti segera dengan tatapan mata Tarisya.


Hembusan napas pelan terlihat ia keluarkan kala melihat sang anak sudah tiba di rumah meski masih ada yang lain anak-anaknya di luar sana.


"Syukurlah, Ya Allah." Segera dengan cepat ia melangkah mendekat pada Sendi yang berlari juga ke arahnya dengan melinungi wajahnya dari air hujan.


"Berson," lirih Tarisya namun segera di balas oleh Sendi dengan cepat.


"Maafkan saya, Bunda. Jeff tidak bisa saya temukan. Ponselnya pun tidak bisa di hubungi." jawabnya dengan cepat sebelum sang bunda bertanya hasil pencariannya.


Sedikit Tarisya menghela napas lemas, namun ia masih tetap berusaha menunjukkan senyumannya. "Tidak apa-apa, Nak. Bunda juga selalu berdoa untuk kalian. Bunda yakin, Jeff kakakmu akan baik-baik saja di luar sana." ia mengusap lengan sang anak dengan penuh perhatian.


Lirikan dari mata Sendi membuat Tarisya sadar akan kehadiran orang-orang yang tidak bersamanya. "Dina dan Shandy pergi mencarinya juga. Bunda tidak bisa melarangnya. Dina akan menemani Shandy selama di luar." terangnya dengan wajah sedihnya.


"Baiklah, Bunda. Saya akan menghubungi mereka." ia meraih ponselnya untuk menghubungi sang istri.


"Ruth, dimana kau? Mengapa harus ikut mencarinya juga? Aku sangat mencemaskanmu, Ruth." batin Sendi terus menempelkan benda pipih itu pada telinganya namun masih tak ada jawaban dari sambungan telepon tersebut.


Hingga pada akhirnya semua mata tertuju pada sorot lampu mobil yang baru saja memasuki halamnn rumah mereka.


"Mbok, benar tidak itu taksi yang membawa Dina dan Ruth? Apakah mereka juga tidak menemukan Jeff saat ini?" Tarisya terlihat menahan air mata di pelupuk matanya. Hatinya begitu khawatir dengan anak pertamanya itu.


Selama ini Dava begitu sangat perhatian padanya. Meski jelas terasa batasan yang terjalin di antara mereka, tentu saja itu semua karena waktu yang memisahkan mereka cukup lama.

__ADS_1


"Ya Allah, Tuan Dava..." Mbok Nan langsung mengatup  bibirnya kala melihat Ruth yang turun bersama Dina dengan cepat dan membantu memapah tubuh tegap Dava.


"Astagfirullah, Jeff." Segera Sendi setelah melihat aksi dua wanita di dekat mobil taksi itu dengan cepat ia berlari untuk membantunya.


"Biarkan aku saja. Kalian masuklah ke rumah hujan sangat deras." pintah Dava setelah berhasil mengambil alih tubuh sang kakak.


Ruth dan Dina yang enggan pergi segera di perintah Sendi kembali. "Cepatlah,"


Ia berjalan kesusahan karena keadaan Dava yang benar-benar sedang tidak sadar membuatnya sangat kesulitan.


"Bunda," sapa Ruth dan memeluk tubuh sang bunda.


Tarisya bisa melihat wajah sembab sang anak yang begitu menyedihkan baginya.


"Ayo masuk sayang, ganti baju kalian dulu." pintahnya sembari merangkul menantu dan anaknya bersamaan.


Mbok Nan yang melihat dengan pilu keadaan Dava segera membantu Sendi di tengah hujan yang sangat deras. Ia tahu jelas apa penyebab Sendi pergi dari rumah malam ini, tetapi ia tidak tahu jika pria tampan berwajah hangat itu tengah di pengaruhi oleh alkohol.


Kaget tentunya saat Mbok Nan mencium ada aroma alkohol di tubuh pria yang ia papah saat ini.


"Ya Allah, Tuan Dava sampai minum bir? Tuan...kenapa harus sampai seperti ini? Andai Mbok bisa bantu, Mbok pasti akan membantu Tuan Dava dan Non Ruth..." ia tak habis pikir melihat wajah Dava yang sudah babak belur.


Bisa di pastikan keadaannya yang mabuk menyebabkan wajahnya sampai babak belur entah karena masalah apa.

__ADS_1


Setelah semua masuk ke dalam rumah, kini Tarisya menunggu semuanya dengan wajah gelisah. Ia berdiri dengan wajah sedihnya di depan pintu kamar sang anak tertua. Sendi baru saja berpamitan ke kamarnya untuk berganti pakaian, begitu juga dengan Ruth dan Dina.


Mereka semua membersihkan diri terlebih dahulu sebelum kembali berhadapan dengan sang bunda.


__ADS_2