
Birunya laut yang tenang setenang hati sosok wanita yang tersenyum melihat aksi pria di bawah sana tengah menikmati segala gaya jetsky yang ia kemudikan.
Air laut yang tenang kini bergantikan ombak yang saling berkejaran saat laju kemudi jetsky itu berhenti tepat di dekat kapal pesiar tersebut.
Ruth yang berdiri tengah bersedekap bertanya dengan bahasa isyarat tanpa suaranya. "Ada apa?" begitulah pertanyaannya yang Dava tangkap.
Dava melambaikan tangannya dengan wajah segar. "Ayo, turun." panggilnya meneriakkan suara di bantu dengan kedua tangannya menempel di sisi mulut.
Ruth menggeleng. Ia tidak ingin mati jantungan di bawa sang suami menaiki jetsky dengan sangat laju seperti itu. "Tidak. Aku takut." ucapnya namun perlahan kaki itu melangkah menuruni tangga yang memberikan jalan untuk mendekat ke arah jetsky Dava bersandar saat ini.
Matanya terus menatap wajah tampan itu. "Ya Tuhan...indahnya makhluk ciptaanmu ini. Boleh aku minta jangan buat dia jadi tua yah? Kalau pun tua tapi harus tetap setampan ini. Aku tidak rela ketampanannya terbuang begitu saja." batin Ruth yang membuat dirinya geli sendiri menyadari doa yang konyol barusan.
"Ayo," Melihat sang istri sudah berjalan dan berhenti di dekatnya, Dava langsung bergegas menyambut sang istri.
__ADS_1
Ia menggenggam tangan mungil itu dan menuntunnya untuk naik ke jetsky yang ia kendarai barusan. "Pakai ini." pintahnya melingkarkan pelampung di tubuh langsing itu.
Ruth menatap tubuhnya dengan perasaan tidak suka. "Dav, aku tidak mau pakai ini. Aku bisa-"
"Sstt. Menurutlah. Okey? Kalau tidak, aku tidak akan mau mengajakmu berkeliling." Dava mengancam seolah sang istrilah yang memaksanya untuk ikut.
Ruth menghela napas pelan. "Lagi pula bukan aku kan yang memintanya. Kau yang memaksaku ikut." sahut Ruth tidak terima.
Semua yang melihat ke arah mereka dari atas, tentu berpikiran jika Ruth takut dengan laut atau bahkan tidak bisa berenang. Sementara Dava, berpenampilan sang cool. Dengan celana pendek tanpa memakai baju, sagat sempurna.
"Dav," Ruth kembali menghentikan langkahnya saat selangkah lagi mereka akan menaiki jetsky.
"Ada apa, Sayang?" tanya Dava menoleh ke samping.
__ADS_1
"Lihat. Mereka memperhatikan kita." Ruth menatap ke atas. Ia sangat kesal, lantaran di sini Dava sangat terlihat menggoda.
Sedangkan dirinya, hanya bermodalkan celana legging panjang dan juga baju kaos turtle neck lengan panjang.
Bibirnya mengerucut kesal. Dava pun tersenyum melihat aksi protes sang istri. Kali ini, Ruth bukannya memikirkan penampilannya, namun lebih memikirkan mata jelalatan wanita-wanita pada sang suami.
"Enak saja mereka lihatin suamiku. Kalau gini ceritanya, aku harus bisa bikin Dava cemburu juga dong." batin Ruth menatap jengah sang suami.
"Biarkan aku mengganti pakaian dulu." Ia melangkah ingin meninggalkan sang suami, namun segera di cegah oleh Dava.
"Oke...oke. Aku saja yang pakai baju. Yah? Tunggu sebentar." Dava berjalan mendekati tas yang berisi handuk dan juga satu lembar bajunya.
Di sini, Ruth tersenyum melihat sikap sabar suaminya. "Suamiku terlalu tampan, aku jadi gila sendiri jadinya." Ruth terkekeh geli dari kejauhan menatap pria yang sudah berjalan kembali ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah. Ayo kita mulai." Setelah Dava memastikan sang istri duduk dengan sempurna barulah ia mulai menancap gas jetsky tersebut.
Keduanya tampak menikmati deburan ombak yang mereka mainkan dengan kendaraan di atas air itu. Tawa riang terus terdengar hingga beberapa kali Ruth mengeratkan pelukannya pada sang suami. Jujur, ini adalah pengalaman pertamanya naik jetsky dan menikmati suasana laut yang sangat indah pesona alamnya.