
Wajah cantik yang mulai keriput tampak tidak terurus lagi. Bahkan make up tipis yang selalu menjadi pemanis di wajah itu tak terlihat lagi. Mata sembab dan hidung yang memerah membuat sang dokter yang baru saja mengontrol keadaan Dina menjadi iba.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Wuri lemas tanpa menatap lawan bicaranya.
Dokter itu menatapnya penuh rasa prihatin. Namun, ia tidak ingin terlalu jauh untuk ikut campur. "Ibu, keadaan pasien semakin membaik. Saya harap seluruh makanan yang di persiapkan dari rumah sakit untuk di makan yah, Ibu? Karena pemulihan pasien sangat membutuhkan asupan gizi tepat." terang Dokter melihat makanan yang di berikan di atas nakas masih utuh tak tersentuh.
Wuri nampak sedih mendengarnya. "Baik, Dokter. Terimasih Dokter." ujarnya meneteskan air mata.
"Kalau begitu saya permisi, Ibu." Sang Dokter pergi dengan sangat sopan.
Sementara Wuri tak menjawab apa pun dan kembali mengusap peluh di kening sang anak.
"Dina, jangan seperti ini Nak. Cepatlah makan, Ibu harus segera mencari kerja untuk makan kita." Kekesalan dalam hati Dina terasa seperti terhantam batu kala mendengar sang Ibu harus mencari pekerjaan.
Ia tidak percaya ini semua menimpa keluarganya. Bagaimana mungking sang Ibu yang biasanya terus berfoya-foya tanpa mengenal lelah kini harus mencari uang dengan susah payah tanpa adanya pengalaman apa pun selain menjadi Ibu sosialita.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu ruangan rawat Dina terdengar jelas dari luar. Wuri menoleh begitu pula dengan Dina. Keduanya menatap sosok yang muncul di depan pintu dengan penampilan yang tak kalah lusuhnya dari mereka.
"Sarah," Wuri terkejut melihat perubahan sosok Sarah yang muncul di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Dua wanita yang menjadi istri pria-pria tak bertanggung jawab kini merasakan pembalasan dari apa yang suami mereka lakukan sebelumnya.
"Wuri, Dina." panggil Sarah dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan kali ini. Langkahnya yang mengantar hingga ke pertengahan ruangan itu di sambut cepat oleh Wuri yang juga ikut meneteskan air mata.
Keduanya berpelukan menagisi takdir mereka masing-masing. Suami yang sudah di dalam sel tahanan, harta yang sudah lenyap, dan kehidupan kedepannya yang tidak tahu harus ke arah mana. Mereka sama-sama tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
"Wuri, aku tidak tahu harus bagaimana saat ini." tangisnya terisak-isak di dalam pelukan hangat Wuri.
Begitu pula yang di lakukan Wuri, ia menangis dan mengatakan, "Aku juga bingung Sar, aku tidak tahu harus melakukan apa. Semuanya sudah habis, Sar." keluhnya tak lagi sanggup menahan semuanya.
Segala titipan yang kau muliki di dunia, terkadang sering kali membuat manusia kalap mata. Hingga melupakan kodrat yang sesungguhnya. Jika segala yang ia miliki di dunia hanyalah titipan. Sewaktu-waktu pasti akan kembali di ambil oleh sang pemilik.
Menanamkan kebaikan pada sesama itu adalah hal yang sangat utama dalam hidup. Karena hidup bukan semata-mata karena harta. Harta bisa habis kapanpun, tetapi kebaikan tidak akan pernah habis dalam segi balasan yang baik juga.
"Aku ada rumah di berikan oleh Sendi..." Wuri menatap lawan bicaranya yang tampak masih merenung.
"Kamu bisa tinggal bersama kami di sana." lanjut Wuri kemudian.
Seketika itu juga, wajah Sarah langsung cerah dan menatap penuh ketidakpercayaan pada Wuri.
"Benarkah? Wuri, kau tidak bercanda kan?" tanyanya memastikan apa yang ia dengar kali ini.
"Yah, aku serius. Tinggallah bersama kami. Dan kita akan mencari pekerjaan bersama nanti." ajak Wuri tersenyum tegar.
__ADS_1
Tak ada gunanya ia menangisi apa yang telah hilang darinya. Yang terpenting saat ini adalah menjalani semuanya dengan baik demi hal baik juga kedepannya. Ia sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan sang suami.
Jika saja ia tidak diam selama ini, Sendi tidak akan sebenci itu padanya hingga tega meninggalkannya saat ini.
Sarah yang mendengar keseriusan sang temannya langsung tersenyum lega. Setelah beberapa malam ia tertidur di teras rumah Wuri untuk mencari informasi kemana mereka pergi, akhirnya kali ini ia menemukan Wuri dan mendapatkan tempat tinggal juga.
"Kita akan mencari tempat kerja, setelah ini." tutur Wuri tersenyum paksa menggenggam tangan Sarah dan Sarah juga tersenyum menatapnya.
Wuri menoleh menatap sang anak yang terbaring di atas pembaringan ranjang pasien mulai terpejam karena pengaruh obat.
Hatinya sakit, bagaimana mungkin ia membesarkan anak dengan didikan yang menjadikan hatinya sangat sakit saat ini.
Jika bukan karena kekerasan hati sang suami, ia tidak mungkin menderita seperti ini bersama dengan anaknya.
***
Berbeda halnya dengan suasana di ruangan meeting saat ini. Waktu yang sangat di nantikan oleh perusahaan D Group namun tidak di nantikan oleh seorang Ruth. Jantungnya benar-benar ingin meloncat saat pandangan matanya tertuju pada seluruh wajah yang menatapnya di dalam ruangan itu.
Satu persatu wajah ia perhatikan sangat asing.
"Morning," sapa Dava yang memecahkan kegugupan sang istri.
Tak lupa ia mengembangkan senyumannya di hadapan para klien baru itu.
__ADS_1
"Are you ready?" bisik Dava pada sang istri.