
3 hari berjalan dengan lancar. Seluruh tangis dan bahagia terus silih berganti menghiasi setiap harinya.
Begitu pula yang terjadi pagi ini. Teriakan histeris sosok wanita yang masih berwajah pucat pasi membuat semua tim kesehatan rumah sakit berlari keluar.
"Ibu Dina, kami mohon tenanglah." ucap sang Dokter.
"Tidaaaaak! Tidak! Apa yang kalian lakukan dengan anakku? Apa yang kalian lakukan dengan rahimku? Brengs*k kalian!!" Dina menangis meraung tak perduli dengan kuatnya pegangan beberapa suster di tangannya.
"Dina, Ibu mohon tenanglah sayang." Wuri pun kewalahan mengatasi sang anak.
"Pergi kalian! Pergi!!" Rambut ikalnya ia Jambak sangat kuat.
Kuku panjangnya mencakar beberapa perawat yang memeganginya dengan kuat.
"Kalian semua jahat!"
Tangis histeris mendadak terhenti saat mendengar suara pintu terbuka dan memperlihatkan sosok pria yang sudah berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Sendi..." Dina menatap tak percaya pada sang suami yang kini hadir kembali di depannya.
Pupus harapannya selama ini saat mengetahui sang suami menutup seluruh informasi tentangnya saat bekerja di luar negeri.
Dina begitu kesulitan mengetahui sang suami, di tambah keputusannya mengetahui Sendi benar-benar membenci keluarganya.
"Sendi, anak kita...anak kita tidak ada lagi." tangis Dina yang memilukan.
Ia bergetar memperlihatkan betapa sakit hatinya saat ini. Namun Sendi masih tak mengatakan sepatah katapun. Ia tampak terus memperhatikan setiap gerak gerik yang di lakukan sang istri.
Dina mengusap cepat air matanya. Ia berusaha tersenyum. Merentangkan kedua tangannya ingin menggapai tubuh sang suami yang semakin dekat padanya.
"Sendi, jangan Nak." tutur Wuri yang masih berdiri di jarak yang tidak begitu dekat.
Wuri menggelengkan kepala menatap penuh harap pada anak yang lebih tepatnya adalah menantunya.
"Maaf, Bu." Sendi menolak pelukan Dina yang hampir saja melingkar di pinggangnya. Dan lebih memilih untuk menyerah sebuah map tipis di tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini lagi, segera tandatangani surat ini," Sendi tak perduli dengan ekspresi terkejut wanita di depannya.
"Hehehe...kamu bercanda kan, Sayang?" Ia terkekeh mendengar permintaan sang suami.
Bagai mimpi yang begitu buruk, kehilangan anak di susul kehilangan rahim, dan kini ia harus menerima kenyataan kehilangan suami juga.
"Bu, semuanya sudah saya urus sisa biaya pengobatan. Dan ini tempat tinggal untuk kalian. Saya permisi." Sendi melangkah pergi memaksa cengkraman sang istri di ujung jasnya terlepas begitu saja.
Telinganya seakan tuli dengan teriakan hingga tangisan Dina yang begitu rapuh.
"Sendi!"
"Sendi!"
"Sendi, jangan pergi. Aku mohon, Sendi."
"Aku mohoooon. Ibu, tolong Dina, Bu. Tolong, Ibu. Cegah ini semua terjadi. Dina tidak mungkin kehilangan semuanya." tangisnya tak kuasa menahan segala yang ia miliki kini hilang begitu saja.
Kasih sayang seorang Ayah, meski ia tahu hal itu sangat salah. Namun, yang ia rasa ayahnya satu-satunya orang yang begitu memperjuangkan seluruhnya demi kebahagiaan anak.
Dina tidak akan pernah perduli apa hasil dan bagaimana jalannya. Yang terpenting semua yang ia inginkan terus menjadi usaha utama sang ayah.
"Ibu, tolong lakukanlah sesuatu untukku. Aku mohon, Bu." rengeknya terus memeluk Wuri dengan deraian air mata.
Wuri yang tentunya sangat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, tidak ingin membuat semua menjadi Boomerang untuk keluarganya lagi.
Tangannya mengusap-usap lembut kepala sang anak yang masih duduk di ranjang pasien.
Matanya menatap nanar wajah yang menangis terus di depan dadanya bersandar tanpa semangat. "Dina, sabarlah Nak." ucapnya kemudian.
"Tidak, Ibu. Aku tidak akan rela menjadi janda, Bu. Apapun harus kulakukan. Ibu harus membantuku." tegas Dina tak mau menyerah.
"Dina, Sendi tidak mungkin mau meneruskan pernikahan kalian. Kamu tahu kan ini semua salah kita. Keluarga kita yang begitu jahat dengannya. Ayah kamu pelakunya, Dina. Bagaimana mungkin suamimu menerima semuanya dengan mudah?" Wuri perlahan memberikan nasihat pada anak semata wayangnya.
Suara lembut, kata-kata yang santun membuatnya berpikir jika sang anak akan luluh.
__ADS_1
Tapi itu semua salah. Dina adalah Dina. Sampai kapan pun tidak akan bisa menerima alasan siapa pun selama ia menginginkannya.
"Ibu berbeda dengan Ayah. Ibu tidak menganggap ku anak. Iya kan?" Tangannya yang masih menempel dengan jarum infus di lepasnya dengan paksa. Ia mendorong kasar tubuh wanita yang baru saja ia peluk dan memohon.
"Dina, apa yang kamu lakukan?" Wuri panik dan cemas sekali melihat reaksi sang anak yang sangat sulit mengontrol emosinya.
"Minggir!"
"Awh..." Wuri meringis kesakitan saat tubuhnya tersungkur ke sisi ranjang pasien.
"Dina!"
"Dina, mau kemana kamu Nak?" teriak Wuri berusaha mengejar sang anak yang sudah berlari tertatih-tatih di depan sana.
Ia tak perduli dengan panggilan sang Ibu. Air matanya tak berhenti mengalir.
"Ibu, aku sangat membencimu." tangannya mengusap kasar air mata yang lolos begitu saja di kedua pipinya.
Tak perduli dengan perut yang teramat sangat nyeri, ia terus saja berlari. Harapannya hanya ada pada sang Ayah.
"Ayah, tolong aku. Mereka semua jahat padaku, Ayah." Dina memohon dalam hatinya.
Jika saja ia tidak mengalami hal menyedihkan beberapa hari yang lalu, tentu rumah tangganya masih bisa ia selamatkan. Dengan hadirnya buah hati, Dina yakin Sendi akan bersimpati padanya.
Seperti kata orang, sekeras apapun hati seseorang. Jika sudah melihat wujud bayi pasti akan luluh juga.
Namun sayang, semua lenyap hingga tak berbekas lagi. Harapan kedepannya pun ia tidak akan mungkin memiliki anak meski Sendi tidak menceraikannya juga
"Argh!!" teriaknya kala pakaian rumah sakit yang ia kenakan sudah menembus cairan berwarna merah segar.
"Kepalaku..." lirihnya menyadari pandangannya yang mulai gelap.
***
Sedangkan di sisi yang berbeda.
__ADS_1
"Dada Ayah...dada Mamah." seru Putri melambaikan tangannya pada mobil yang berjalan mundur untuk keluar dari parkiran sekolah.
Dava membunyikan klakson mobilnya dan melajukan kendaraan beroda empat itu menuju kantor dimana ia akan menghabiskan satu hari full bersama sang istri selain di dalam kamar saat malam hari.