
"Kasihan sekali yah dia?"
"Cuma jadi pajangan ternyata selama ini ...kasihan sekali."
"Iya, terlalu mimpi kejauhan sih."
"Sudah kuduga, pasti Tuan Sendi akan terbuka matanya. Cantik itu tidak menjamin semua masa depan memang."
Begitu jelas terdengar suara bisik-bisik di sepanjang langkah Ruth pagi itu.
Manik matanya melirik satu persatu, "Ada apa ini? mengapa kalian semua memandangiku?"
Ruth bukanlah orang yang tenang dengan keadaan sekitar. Apapun yang membuatnya penasaran, pasti akan langsung ia hadapi.
"Dewi, ada apa? apa ada yang salah denganku?" tanya Ruth pada salah satu rekan kerjanya.
Wanita itu tersenyum kecut pada Ruth. Pasalnya memang seluruh pekerja di tempat itu tidak ada yang menyukai Ruth sejak dulu.
Perlakuan Sendi padanya selama ini bahkan begitu mencuri perhatian pekerja di perusahaan Densel Company.
"Nih, kamu beneran nggak tahu? atau belum percaya?" ucapnya sembari menyodorkan sebuah undangan digital di tampilan ponselnya.
Netra indah berwarna kecoklatan itu sudah membulat sempurna. Kepalanya menggeleng perlahan.
"Ternyata benar yah? jika Tuan Sendi hanya anak yang duduk di pangkuan Tuan Deni. Nyatanya dia lebih memilih perjodohan ini di bandingkan dengan menikahi kekasihnya." seru Dewi kemudian meninggalkan Ruth yang masih berdiri mematung.
"Sudahlah Ruth, jangan mimpi terlalu tinggi." sahut salah satu pekerja yang seusia dengannya.
Sementara beberapa pekerja yang ingin pergi ke ruangannya, tampak menggeleng. Entah gelengan kepala karena turut prihatin, ataukah karena bermaksud mengejek.
Benar-benar terasa bagai mimpi buruk di pagi hari. Bahkan setiap pagi, Ruth selalu mimpi buruk. Namun, rasanya tak sesakit pagi ini.
Tubuh yang lelah, seakan ingin runtuh saat itu juga. Ruth tak lagi mampu mengedipkan bahkan hanya satu kali kedipan saja. Air mata yang terbendung di dalam kelopak mata indah itu seakan siap untuk berjatuhan dalam gerakan sedikit saja untuk berkedip.
"Sendi, bukankah kau katakan? jika kau akan selalu ada di sisiku. Bahkan untuk menjadi sandaran ku di pagi hari kala mimpi buruk itu datang lagi? nyatanya saat ini apa yang kau lakukan? bahkan kau sama sekali tidak melirikku sedikit saja. Kau benar-benar tidak memperdulikan air mataku yang selama ini begitu takut terjatuh sedikit saja."
__ADS_1
Mungkin benar kata pepatah. 'Bersyukurlah ia yang tak pernah mengharapkan sesuatu, karena ia tak akan pernah merasa kecewa.'
***
Di rumah megah yang begitu padat penghuni, tampak keluarga besar yang tengah berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan sarapan pagi.
Masih seperti biasa, hening tanpa candaan hangat.
"Ayah, apa tidak terlalu cepat jika malam ini pernikahannya?" tanya Sendi setelah meletakkan sendok makan dan garpu di piringnya.
Detakan jantung seakan terdengar bersahutan antara detakan jantung Sendi dan juga beberapa pelayan di rumah itu.
Ting! Suara dentingan sendok terdengar di atas piring milik Tuan besar.
"Sendi..." ucap sang Ibu yang yang mengusap bahu sang suami di sebelahnya. Tak perlu ucapan, setidaknya gerakan meletakkan sendok sudah bisa menjelaskan isi hati Tuan Deni pagi itu.
"Baiklah. Saya ke kantor duluan." Sendi yang melihat tatapan ayahnya, langsung menghindari perdebatan.
Mengapa Tuan Deni begitu tak berperasaan. Meski ia tak suka dengan hubungan anaknya bersama Ruth, setidaknya kasihanilah sedikit hati yang terluka itu.
Tatapan sinis wanita cantik bersanggul anggun itu melukiskan kemarahan yang teramat sangat. "Semenjak wanita itu masuk di keluargaku, semuanya benar-benar kacau." batinnya.
Jika ketegangan begitu terasa di rumah megah usai sarapan kala itu, berbeda halnya dengan kondisi di kantor tempat Ruth bekerja.
Wanita itu tertunduk lemas. Air matanya benar-benar tak bisa berhenti mengalir. Andai waktu bisa berputar dengan cepat, ingin sekali rasanya ia pulang dan menangis di dalam kamar.
Namun, tangisan itu terhenti seketika. Kala langkah kaki seseorang yang sangat jelas Ruth kenal semakin mendekat dan berhenti sejenak di depannya.
Ruth menoleh ke depan dan menatap sosok di depannya. Begitupun dengan sosok pria yang tak lain adalah Sendi.
Kedua pasang mata mereka saling bertemu. Pandangan sedih, sakit, penuh cinta jelas terlihat di netra milik Ruth. Sementara Sendi, jelas. Tatapan penuh kebencian, namun terasa jelas cinta yang begitu besar masih tertinggal di sana.
"Ruth,"
"Sendi," ucap keduanya bersamaan namun hanya terdengar lirih.
__ADS_1
Panggilan yang biasanya terdengar penuh cinta, kini terasa begitu layu.
"Hubungan kita sudah berakhir..." Sendi menghela napas kasarnya. "Bekerjalah dengan konsisten, anggap semuanya tidak pernah terjadi."
Deg!
Sakit. Benar-benar ucapan yang begitu menyakitkan di relung hati Ruth saat ini. Bahkan bibir ranum wanita itu saat ini sudah tak mampu mengatakan apapun lagi. Hanya getaran sakit yang terlihat menggetarkan bibir miliknya.
Air mata yang jatuh mungkin jauh lebih bisa mengungkapkan isi hati wanita yang tengah terhempas ke dasar yang paling rendah.
Yah, jika kata-kata tak mampu terucap. Hanya tangis lah yang mampu berbicara melalui mata. Yang paling sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini.
Sendi melangkah memasuki ruang kerjanya setelah melewati meja sekertaris yang selama ini menjadi sekertaris di hatinya juga.
"Sendi, andai luka hatiku tak sesakit ini. Andai aku masih mampu bertahan saat ini, aku ingin kau memperkenalkan aku dengan dia. Dia yang mengubah mu hingga mau meninggalkan diriku. Biarkan aku menjelaskan padanya betapa besarnya hatiku untukmu, mempertahankan mu, betapa aku telah menjadi pengemis perhatian darimu. Kali ini aku menyerah, Sendi. Mungkin perjuangan cintaku cukup sampai di sini."
Putaran tiga jarum jam tampak tak henti-hentinya terus saling berkejaran. Hingga akhirnya langit yang cerah pagi itu, namun tak secerah suasana hati Ruth dan juga mantan kekasihnya. Kini sore pun mulai menyambut riuhnya kendaraan di jalanan kota kala itu.
Salah satu bandara di Kota itu, menampakkan sebuah pesawat jet pribadi yang baru saja mendarat dengan sempurna.
"Mari Tuan," ucap Pak Landu yang sudah menyambut kedatangan Tuan mudanya di lapangan bandara tersebut.
Jas biru navy yang senada dengan celana dan dasi. Benar-benar menampakkan ketampanan seorang Dava Sandronata. Penataan rambut yang teramat rapi, dan tak lupa tuxedo berukuran pas di tubuh atletis miliknya mampu mencuri perhatian para pramugari yang tengah bersiap di pesawat sebelah untuk penerbangan lainnya.
"Tuan, kita langsung menuju ke rumah untuk pemeriksaan kesehatan anda, Tuan Dava." ucap Pak Landu kemudian.
Dava memang tidak memakai sekertaris jika untuk perjalanan bisnis. Ia hanya menggunakan sekertaris jika di area kantor dan juga kepentingan yang benar-benar urgent. Jiwa mandirinya seakan-akan membuatnya ingin melakukan segala hal dengan sendiri.
"Atur jadwal ulang, Pak." sahut Dava dengan mantapnya setelah memasuki mobil sedan berwarna hitam yang sudah siap mengantarkan dirinya ke tujuan.
Pak Landu terkejut. "Memangnya mau kemana, Tuan? apa anda ada keperluan di perusahaan lagi?" tanyanya bingung.
"Kita ke rumah yang semalam, Pak. Baru setelah itu pulang ke rumah." Senyum di bibir Dava tampak mengembang kala mengingat wajah gemas si Putri.
"Ba-baik, Tuan."
__ADS_1