Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 182. Ruth Syok


__ADS_3

Di sini, dua pasang pria dan wanita duduk tenang di sofa tanpa ada suara sedikit pun. Semuanya diam membisu, hanya ada tatapan yang begitu absurd.


Beberapa saat hening, akhirnya Tarisya tak kuasa menahan diri untuk tidak berbicara.


"Shandy..." sapanya dengan lemah lembut. Di tatapnya dalam mata cokelat yang begitu indah milik sang anak perempuannya.


Ruth menatap membalas senyuman sang bunda dengan kaku. "I-iya, Bunda." jawabnya pelan.


Meski tubuhnya di ruangan ini, tetapi pikirannya masih berkeliaran mengingat kejadian di kamar tadi bersama Dava, mantan suaminya.


"Ada yang Bunda ingin bicarakan padamu, Nak." Suara helaan napas keluar begitu saja dari bibir merah muda yang berkeriput itu.


"Maaf jika kami harus mengatakan ini semua sekarang. Bunda juga tidak tahu jika ternyata kebenarannya seperti ini." ia menundukkan kepalanya tak sanggup jika harus menatap wajah Ruth yang begitu menyedihkan.


Seketika Sendi dan Ruth bersama-sama mengernyitkan kening mereka dengan dalam. Keduanya berpandangan lalu kembali menatap sang bunda.


"Ada apa ini, Bunda? Ayah?" tanya Ruth yang begitu penasaran dengan ucapan pembuka dari sang bunda. Begitu pula dengan Sendi yang menanti-nanti penjelasan dari kedua orang tua mereka.


Dengan sekali tarikan napas, Tarisya pun kembali menceritakan bagaimana saat ia menceritakan semuanya pada Dava. Termasuk jati diri anak pertamanya juga di ceritakan dengan detail tanpa terlewatkan.


Air mata pun tanpa sadar kembali jatuh di kedua pipi wanita berbadan dua itu. Ia menggeleng tiap kali mendengar kata-kata dari wanita yang sangat mirip dengannya ini.


Bahkan jelas terlihat wajah Tarisya yang bergetar menahan kesedihannya saat menceritakan kebenaran tentang masa lalu mereka yang penuh dengan lika liku.


Hari yang begitu menyakitkan ternyata belum berakhir. Ujian kembali datang menerjang hati yang sudah berkali-kali hancur.


Tak kuasa saat mendengar semuanya, akhirnya Ruth tak sadarkan diri setelah banyaknya air mata yang ia keluarkan saat mendengar semua ucapan sang bunda.

__ADS_1


Isakan tangis terus terdengar selama cerita berlangsung. "Hiks hiks hiks...itu tidak mungkin, Bunda. Aku anak Bunda. Kami tidak mungkin anak angkat kalian." Ruth menangis tanpa bisa mengendalikan diri dan akhirnya ia tumbang di sofa.


Sendi yang saat itu masih tercengang kaget mendengar pun segera meraih tubuh Ruth yang tergeletak di sampingnya.


"Ruth!" Sendi menggoyangkan tubuh sang adik yang tak sadarkan diri.


"Shandy!" isak tangis Tarisya dan Wilson bersamaan melihat anak mereka begitu menyedihkan.


"Berson, cepat! Cepat kita bawa ke rumah sakit." Tarisya bergegas memerintah sang anak untuk membantunya membawa ke rumah sakit.


Suasana rumah yang memang saat itu tampak sunyi membuat Sendi sibuk sendiri mengangkat tubuh Ruth. Dava yang berada di kamar bahkan tak bisa mendengarkan keributan di luar kamar karena ia sengaja memasang bantal menutup kepalanya.


"Ayah, Bunda ke rumah sakit. Ayah di rumah saja tidak apa-apa kan? Bunda akan segera meminta Mbok Nan untuk pulang." Tarisya memeluk sang suami dengan wajah begitu panik.


Meskipun Ruth bukanlah anak kandung mereka tetapi sebagai seorang ibu tetaplah kasih sayang itu begitu besar dan sangat perduli pada anak-anak yang sudah ia cintai.


Sebagai seorang suami, hatinya juga merasakan kesedihan yang teramat dalam kala melihat keluarganya hancur berantakan.


"Bunda, ayo!" Sendi berteriak sembari berlari menggendong sang adik.


Ia bahkan tak sadar jika air mata yang sudah lama tak menetes kini kembali jatuh di kedua pipinya.


"Bunda, ada apa?" Dina yang mendengar keributan seketika berlari keluar mengejar Tarisya yang inign  mengikuti arah Sendi melangkah.


Matanya tampak sembab, namun untuk saat ini tidak ada yang memperdulikan hancurnya hati seorang istri.


Sebelum Tarisya menjawab, matanya sudah tertuju pada sosok suami yang menggendong wanita pujaan hatinya selama ini. Semakin sakit saja hati yang sudah lemah kini.

__ADS_1


"Bunda harus ke rumah sakit membawa kakakmu. Dina, kau di rumah saja yah, Nak? Bunda mohon titip Ayah sebentar. Setelah selesai, Bunda akan segera kembali." tutur Tarisya yang menggenggam bahu sang menantu.


Dina yang hatinya makin kacau akhirnya tak sanggup mengatakan apa pun selain hanya bisa mengangguk patuh. Ia menatap sendu kepergian sang suami bersama dua wanita itu.


Kakinya yang semula berdiri kokoh perlahan terasa lemas hingga ia meraih pegangan kursi dan menuntun tubuhnya untuk segera duduk tanpa memperhatikan dimana kursi itu berada lagi.


"Semoga Kak Ruth baik-baik saja..." satu harapan yang ia ucapkan dengan begitu tulus. Meski hatinya masih tidak bisa menerima kedekatan sang suami bersama kakak ipar tetapi ia tetap berusaha untuk menerima tali kekeluargaan itu.


Sementara di rumah sakit terlihat Sendi dan sang bunda sama-sama saling menguatkan diri. Keduanya berpelukan di kursi ruang tunggu.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Shandy, ini semua salah Bunda, Berson. Bunda yang membuatnya syok seperti ini." tangis Tarisya pecah menyadari keteledorannya saat menceritakan kebenaran pada sang anak tanpa melihat keadaan Ruth yang tengah hamil besar saat ini.


Berjalannya waktu yang sangat cepat dengan banyaknya masalah membuat semuanya berjalan tanpa terasa kini usia kehamilan Ruth sudah menginjak delapan bulan sepuluh hari.


Dimana keadaan tubuhnya sangat sering mendapatkan masalah pada tekanan darah yang tidak normal. "Tidak Bunda. Semuanya memang harus seperti ini. Dan Bunda tidak perlu menyalahkan diri Bunda. Semua sudah menjadi takdir untuk kita. Secepatnya Shandy tahu akan lebih baik." Sendi berucap dengan penuh pengertian.


Ia sendiri bahkan tidak memperdulikan dirinya yang juga patah hati karena telah mengira jika ia bersama Ruth adalah saudara kandung.


"Ini bukanlah cinta sedarah. Aku benar-benar ingin tertawa dengan takdir yang kau gariskan untuk kami, Tuhan. Bahkan hati kami pun seperti mainan dalam hal cinta." Sendi hanya menertawakan dirinya sendiri dalam hati.


Keputusasaan yang terlalu jauh membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Hanya rasa lucu yang ia rasakan selama iniia berusaha menimbun dalam-dalam perasaan cinta yang terlarang itu. Tetapi nyatanya hubungan mereka bukanlah hubungan sedarah.


Tidak mungkin jika ia harus kembali menelantarkan sang istri yang selama ini sudah begitu baik padanya. Dina wanita yang sama sekali tidak bisa mengambil cinta Sendi untuk Ruth, tetapi dengan kemurahan hati ia bisa perlahan merebut hati sang suami meski masih dengan kata kasihan. Bukan berdasarkan kata cinta yang sesungguhnya seorang suami pada istrinya.


"Bagaimana Dokter anak saya?" Tarisya berdiri dengan cepat kala melihat sosok dokter yang baru saja keluar dari pintu ruangan pemeriksaan.


Sang Dokter menggelengkan kepala tanpa ekspresi. Ia masih menatap wajah dua orang di depannya saat ini yang begitu sembab karena terlalu banyak menangis.

__ADS_1


Sendi yang melihat reaksi sang dokter segera bertanya dengan tidak sabaran. "Dokter, apa yang anda maksud?" tanyanya tegas.


__ADS_2