Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 47. Kesadaran Wuri


__ADS_3

Hari-hari terlewati begitu saja tanpa ada kebahagiaan seperti yang di harapkan sepasang suami istri saat ini.


Pagi yang masih seperti biasanya, Ruth menatap hamparan tanaman hijau di pekarangan rumah miliknya.


Sebuah pelukan hangat melingkar di pinggang rampingnya.


Dava menyandarkan dagunya pada pundak sang istri. Pria itu memeluk sang istri dari belakang.


"Aku segera mempersiapkan kepindahan kita. Di sana aku akan membangun usaha baru." tuturnya begitu membuat sosok Ruth begitu terkejut.


Ia melepaskan pelukan hangat itu lalu berbalik menatap sang suami. Ruth tampak menggelengkan kepala.


Dava mengernyit heran. Tampaknya pria ini telah melupakan satu hal dari sang istri.


"Dav, ijinkan aku membawa kakakku bersama kita. Aku hanya memiliki dia satu-satunya." Mata cokelat itu mulai berembun. Pasalnya hingga saat ini, mereka belum berhasil menemukan Sendi.


Entah pria itu menghilang kemana. Sudah sepekan ia tak juga datang ke kantor Densal Company.


"Hem..." Dava menghela napasnya kasar.


Tangan besarnya menangkup wajah sang istri. "Kita kerumahnya sekarang?"


Dengan cepat Ruth mengangguk setuju. Hanya dengan jalan ini mereka akan bisa bertemu dengan Sendi alias Bersin.


Di sini, Sendi menatap tingginya satu gedung yang baru berhasil ia temui.


"Semangat, Sendi. Kita mulai semuanya dari sini." Sendi tersenyum dengan paksa.


Meski dadanya begitu sesak terpaksa harus hidup jauh dari wanita yang ia sangat cintai. "Sumpah... sekalipun tidak pernah ku bayangkan hidup ku jadi seperti ini. Bahkan berpisah dengan mu Ruth. Ini masih seperti mimpi terburuk yang aku dapatkan." Bibirnya tersenyum kecut seakan menertawai nasibnya yang sangat malang.


"Maaf, Mr. Apakah anda bersedia mengikuti proses kerja di sini?" tanya salah satu bagian HRD di perusahaan asing tersebut.


Sendi mengatakan jika ia sanggup untuk mengikuti segala peraturan yang berkaitan dengan urusan pekerjaan.


Hingga akhirnya ia di terima setelah hampir setengah hari menjalani banyaknya persyaratan yang harus di penuhi.


Hatinya sudah mantap untuk memulai semua di tempat yang baru dan juga orang-orang baru.


***


"Ada apa datang kemari?" Pertanyaan sekaligus tatapan yang begitu tajam tertuju pada wanita bermata sembab itu.

__ADS_1


Entah mengapa begitu malang nasib Ruth hidup di dunia ini. Bahkan kedua mata itu mampu menjadi saksi bisu hari-hari yang tidak pernah ia lalui dengan tanpa menjatuhkan air mata.


"Kami ingin bertemu dengan Sendi." Kali ini Dava yang menjawab dengan wajah datarnya.


Mendengar nama sang suami di sebut, Dina tak sanggup lagi menahan kekesalannya.


"Kalian!" teriaknya dengan emosi. Sementara tangannya sudah melayang ingin menampar wajah Ruth.


"Awh..." rintihnya kala tangan Dava sudah mencengkeram kuat pergelangan tangan wanita itu.


"Berhenti bersikap sesukamu!"


"Lepaskan tanganku!" Dina meronta kala merasakan sakitnya pergelangan tangan itu hingga terasa kram.


Cengkraman yang semakin kuat, hingga aliran darah itu terhenti.


"Katakan dimana Sendi!" teriak Dava mulai hilang kesabaran.


Keluarga ini memang benarlah biang masalah bagi semua orang pikirnya.


"Dava, lepaskan tangannya. Kau menyakitinya." Ruth berucap dengan tak tega melihat wajah merah Dina saat ini.


Dava pun melepaskan.


Di masa hamil muda seperti ini, hatinya terasa sangat sensitif. Namun, sang suami bahkan tidak pernah sekalipun perduli padanya. Hingga saat seperti ini pun, Sendi justru meninggalkan ia sendirian.


"Ruth," Ibu Sendi pun ingin keluar menemui gadis yang berada di depan pintu rumahnya.


"Nyonya, tolong beritahu saya. Dimana Sendi, Nyonya." Ruth akhirnya terisak saat memohon pada wanita paruh baya itu.


Wuri menggelengkan kepalanya sungguh tidak tega saat mengetahui semua yang terjadi. Selama ini suaminya ternyata tidak menceritakan seluruh kejadian di masa lalu padanya.


"Sendi..."


"Masuk, Bu." Dina menarik paksa wanita itu.


"Dina," Ruth hendak mengejar masuk namun beberapa pengawal di rumah itu langsung menutup pintu dengan kuat.


"Ibu, berhenti berbicara. Apa mau Ibu ku kurung di kamar?" Dina berteriak dengan suara begitu menggema.


Wuri sampai tersentak kala gendang telinga itu mendengung hebat.

__ADS_1


"Dina, apa yang membuat mu seperti ini? Ini Ibumu sendiri, kau membentak Ibumu, Nak." Wuri menangis menerima perlakuan kasar sang anak.


"Ibu masih bertanya? bahkan selama ini Ibu tidak mencegah sama sekali hubungan Sendi dengan wanita itu! Ibu anggap aku ini apa sebenarnya? hah!" Dina marah sejadi-jadinya mengingat selama ini Sendi sudah terlanjur mencintai Ruth begitu dalam.


Bahkan dirinya sampai kesulitan menggeser posisi wanita itu dari hati sang suami.


"Dina, ayah kamu bersalah. Kamu jangan mengikuti jejaknya, Dina. Dina!" panggilan Wuri bahkan sama sekali tidak di gubris oleh anaknya.


Dina terus melangkah menaiki tangga dengan perut yang masih tidak tampak. Karena memang kehamilannya belum begitu lama.


Mata berkerut itu hanya bisa menatap sedih sang anak. Didikannya sudah terlanjur salah, tak perlu ia menyalahi siapapun. Karena peran dirinya dan sang suami lah yang sangat di perlukan dalam perkembangan masa anaknya kala itu.


Semua sudah terlanjur salah, kini hanya dia yang mampu merubah semua sebelum terlambat.


"Hiks...hiks...Kak Berson!!!" Ruth menangis di depan pintu yang sudah tertutup rapat kini.


Dava menggapai kedua pundak itu. "Aku akan berusaha untuk ini, ayo kita pulang."


"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Kak Berson, Dav. Dia satu-satunya yang aku miliki hiks hiks." Ruth masih terisak sementara Dava sudah menuntunnya kembali ke mobil.


Di kantor polisi, penyelidikan terus berjalan. Begitu banyaknya hal yang sangat di luar nalar.


Bahkan saat ini, Mbok Nan sudah duduk di dalam ruangan polisi untuk di mintai keterangan untuk yang kesekian kalinya.


Semakin dalam penyelidikan, semakin banyak juga kejadian yang membuat rahasia perlahan terbongkar.


"Iya, Pak polisi. Jadi saya mengganti nama Non Ruth atas permintaan almarhumah Nyonya Tarisya. Beliau sempat meminta itu pada saya sebelum mereka pergi keluar saat kejadian tersebut." tutur Mbok Nan dengan jujur.


Pikirannya kembali menerawang jauh kejadian beberapa tahun lalu.


"Lalu?" Pak Polisi kembali ingin tahu lebih jauh.


"Yah, itu semua demi melindungi nama Non Ruth di hak waris perusahaan. Dengan menggantikan nama tersebut, Non Ruth tidak akan memiliki hak waris. Sehingga nyawanya tidak akan menjadi ancaman bagi orang-orang jahat itu. Bahkan Non Ruth sudah menjadi hak saya, karena Nyonya Tarisya mengeluarkan nama Non Ruth dari keluarga mereka, Pak polisi."


Polisi itu mengangguk paham. "Apa Mbok tidak tahu jika selama ini kakak dari saudari Ruth masih hidup? Apa Mbok tidak menyembunyikan apapun dari kami?"


Pertanyaan demi pertanyaan terus terucap. Mbok Nan dengan tenang menceritakan dan menjawab semuanya dengan jujur.


"Apa sewaktu kejadian hingga proses pemakaman, Mbok sama sekali tidak bisa melihat salah satu dari korban?"


Mbok Nan menggeleng sedih. Dadanya terasa sesak saat mengingat kembali perjuangannya hingga menangis memeluk bayi mungil itu. Ia memohon dengan sangat untuk bisa melihat isi kantung jenazah, namun sayang. Semua berakhir sia-sia.

__ADS_1


Mbok Nan mengusap air matanya, ia terisak. "Saya tidak melihat satu pun, Pak Polisi. Saat itu lima kantung jenazah lengkap di depan saya. Namun, mereka mengatakan jika tubuh korban semua tidak lengkap, hingga tak berbentuk. Mereka bahkan memarahi saya karena memaksa ingin melihat." Mbok Nan tak lagi mampu kini menahan tangisnya.


Dirinya yang hanya sebagai seorang pelayan rumah tangga sama sekali tidak ada derajatnya di pandang seluruh orang di tempat kejadian itu. Tangisnya pecah karena tidak bisa melihat wajah-wajah yang selama ini begitu baik padanya.


__ADS_2