
Setelah perjalanan yang cukup menguras keringat karena keadaan begitu tegang, kini sampailah mobil yang di kemudikan Dava di rumah sakit.
Suasana tampak mulai gelap, menandakan waktu malam akan segera tiba.
"Mbok, tolong Putri yah. Saya akan menggendong Ruth ke dalam IGD." tutur Dava bergegas mengangkat tubuh langsing sang istri yang begitu lemas.
Ruth tak sekalipun melepaskan tangannya pada kepala miliknya yang begitu sangat pusing. Pandangan matanya pun terus berputar jika ia membuka matanya.
"Dav, aku nggak kuat. Kepalaku sakit banget." Ruth memukul-mukul keningnya hingga Dava yang berlari sembari menggendongnya langsung memegang tangan sang istri sekuat tenaga.
"Tahan, Sayang. Pukul dadaku kalau kau ingin memukul kepala. Lampiaskan ke tubuhku saja." pintahnya dan tak lama kemudian tubuh Ruth pun sudah mendarat di kursi ruang IGD.
"Dokter, tolong istri saya. Kepalanya sakit lagi. Tolong Dokter." Dava berteriak tanpa sadar hingga tak lama sang Dokter segera mengiyakan dan mempersilahkan Dava keluar.
"Baik, Bapak. Silahkan anda keluar lebih dulu."
Ceklek!
Suara pintu tertutup. Tampaklah Dava yang berdiri dengan wajah cemasnya. Ia menatap sesekali ke arah pintu yang baru saja ia tutup.
"Tuan, apa kata dokter?" sapa Mbok Nan yang berjalan mendekat ke arah Dava saat ia baru saja duduk bersama dengan Putri.
Dava terdiam dari aksi mondar mandirnya. "Mbok, Dokter masih memeriksa Ruth di dalam. Kita tunggu saja sebaiknya."
"Ayah, Mamah baik-baik saja kan?" tanya Putri yang menengadah menatap sosok Dava.
__ADS_1
Tersenyum saat hatinya pun sangat cemas kali ini. Namun, itulah hal yang harus ia lakukan di depan sang bocah.
"Iya, Sayang. Mamah baik-baik saja. Itu hanya karena efek Mamah lagi hamil. Putri mulai sekarang harus bisa mengerti Mamah ada dedek di perutnya jadi akan sering bertingkah aneh. Makanya Putri harus jagain Mamah dan..."
"Nggak boleh cengeng." lanjut Putri yang paham akan nasehat dari sang ayah.
"Hup!" Dava menggendong Putri dan memangkunya saat duduk di kursi.
Sepersekian menit, kini pintu pun terbuka. Dava dan Mbok Nan langsung bergegas berdiri dari duduk mereka masing-masing. Terlihat Putri yang masih berada di dalam gendongan sang ayah.
Dengan wajah cemas, Dava berjalan mendekati sang dokter. "Dok, keadaan istri saya baik-baik saja kan?" tuturnya dengan sigap.
Sang Dokter mengangguk dengan mantap. "Istri anda tentu baik-baik saja, Bapak. Pasien hanya mengalami vertigo. Dimana semua terjadi karena peredaran darahnya yang tidak normal. Tentu semua akibat dari kehamilan trimester pertama, Bapak. Apa mungkin pasien tadi habis melakukan hal yang membuatnya tidak cukup mengontrol tubuhnya? Mungkin dari duduk atau tidur langsung melakukan hal yang berat?" tutur sang Dokter mengatakan praduganya.
Usai mendengar perkataan sang Dokter, Dava hanya bisa berwajah gugup. Ia meneguk kasar salivahnya. "Maaf, Dok. Tadi kami usai..." Ia tak sanggup mengatakan kelanjutkan ucapannya.
"Tadi Ayah kan habis kelahi sama Mamah di kamal mandi, iya kan Mbok?" Putri sontak membuat semua yang ada di situ serentak tertegun. Terlebih Dava yang menjadi salah tingkah karena urusan intim seperti itu harus di dengar oleh banyak orang.
"Oh...itu biasa, Nak. Orang dewasa memang seperti itu." Sang Dokter yang sangat memahami jiwa kekepoan anak kecil segera berucap untuk meluruskan jalan pikiran yang masih suci itu.
"Jadi bagaimana istri saya saat ini, Dokter?" tanya Dava kembali pada topik pembicaraannya.
"Sebentar lagi keadaan pasien akan membaik, Pak Dava. Semoga setelahnya tidak ada kejadian seperti ini lagi. Dan kedepannya saya sudah berikan resepk untuk mengatasinya. Tapi jika bisa di cegah, sebaiknya hal seperti ini di hindari. Karena obat-obatan juga tidak baik untuk ibu yang mengandung." terang Dokter panjang lebar.
Mbok Nan baru bisa bernapas lega usai mendengarkannya. Begitupun juga dengan Dava, ia terlihat tenang saat mendengar keadaan sang istri yang tidak begitu mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Karena memang vertigo adalah gangguan yang umum terjadi keika seseorang sedang hamil. Ibu hamil mungkin lebih seringĀ mengalaminya pada trimester pertama, walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi selama kehamilan. Jadi Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir berlebih." tutur Dokter lagi.
"Kejadian ini bisa terjadi karena gejala tekanan darah rendah yang menurun karena perasaan mual yang timbul yang membuat sulit untuk makan banyak. Ada juga karena meningkatnya hormon yang menyebabkan pembuluh darah menjadi rileks dan melebar. Hal kitu dapat membantu untuk meningkatkan aliran darah ke janin, tetapi dapat memperlambat aliran darah kembali menjadi lebih rendah dari biasanya. Karenanya, aliran darah ke otak berkurang dan menyebabkan vertigo." Dava dan Mbok Nan serta Putri tampak serius mendengarkan penjelasan sang dokter.
Begitu besar rasa perduli mereka terhadap Ruth memang.
"Baik. Terimakasih, Dokter." Dava mengangguk paham saat Dokter itu mengatakan semua tentang keadaan sang istri tercintanya.
"Sekarang mari kita lihat keadaan pasien, Jika sudah membaik Pak Dava bisa segera mengurus administrasi lalu membawa pasien pulang dan istirahat." Mereka semua masuk ke dalam di mana Ruth kini terbaring dengan wajah yang pucat pasi.
Ia tersenyum lembut saat melihat kehadiran orang-orang yang begitu ia cintai. "Mamah," Putri menghambur ingin turun dari gendongan sang ayah dan segera memeluk tubuh wanita yang terbaring di depannya kini.
Tangan yang putih pucat dan dingin itu mengusap lembut kepala bocah cantik. "Sayang, maafkan Mamah yah Putri? Sudah buat Putri dan lainnya cemas." Ruth merasa tak enak karena keadaannya yang seharusnya tidak di bawa ke rumah sakit seakan menjadi keadaan yang sangat parah.
Mengingat ekspresinya yang memang tidak bisa menahan sakit, sepanjang jalan menuju rumah sakit ia terus berteriak kesakitan. Padahal saat tiba di rumah sakit, ini hanyalah penyakit yang tidak begitu berat tentunya.
"Sssst...jangan pernah berbicara seperti itu. Kau adalah segalanya untukku dan untuk kami semua, Ruth. Tentu saja kami sangat mencemaskan mu tadi." Dava mendekat dan mengusap kening sang istri yang masih terbaring di tempat ranjang pasien.
"Iya, Non. Itu memang harus di cemaskan. Apalagi di sini akan ada malaikan baru yang akan jadi pengisi rumah kita nanti. Dokter bilang Non tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga, tekanan darah Non Ruth sangat rendah." Mbok Nan tersenyum dan mengusap perut rata Ruth yang tertutup dengan selimut.
"Sayang, kalian tunggu disini dulu yah? Aku harus mengurus administrasi sebentar dan kita akan pulang ke rumah." Dava meninggalkan mereka semua di ruangan tersebut usai mendaratkan ciuman di kening sang istri.
Kini tinggallah Ruth bersama Mbok Nan dan juga Putri. Mereka terlihat saling melempar senyuman bahagia di sana.
Sementara Dava yang berdiri di depan petugas bagian administrasi terdiam.
__ADS_1
Tangannya menatap layar ponsel miliknya. "Sisa 20 juta..." batinnya berucap.