
Ramainya sorotan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota tampak bergerak secara teratur meski terlihat sangat ramai. Beberapa pasangan muda mudi tampak tertawa ceria menikmati laju kendaraan roda dua.
Sungguh kebahagiaan yang sederhana tentunya.
Terlepas dari suasana jalanan malam ini, sisi menyedihkan terlihat di salah satu cafe yang lebih terlihat seperti hiburan malam.
Tak perduli dengan dinginnya malam ini, sakit di hati yang terus ingin meledak harus segera ia lampiaskan tanpa berpikir panjang lagi.
Tatapan mata Dava terus tertuju ke depan seiring langkah kakinya yang sudah mulai menelusuri dalam cafe bernuansa remang-remang dengan lampu warna warni yang terus bergantian menyala.
"Malam," sapa lembut seorang gadis bertubuh tinggi langsing berkulit sawo matang. Binar matanya tampak jelas jika ia sedang tersenyum pada pria yang baru saja ia sapa.
"Hem," sahut Dava yang memang tidak memperdulikannya namun ia masih ingin menghargai perasaan orang meski hanya dengan sahutan deheman saja.
Langkah kaki jenjangnya pun melewati tubuh langsing itu. Ia mengarahkan pandangannya pada meja bartender yang tampak beberapa kursi kosong di sana.
__ADS_1
"Yah...setidaknya model kursi itu jauh lebih baik dari pada yang lain." tutur Dava mencari jalan aman untuk menenangkan dirinya.
Tangannya langsung terangkat ke udara dengan jentikan jarinya pada seorang gadis yang bertugas di depannya. Dengan sigap barista cantik itu menuangkan sebotol minuman yang tentu beralkohol dengan menyerahkan sebotol juga di samping gelas yang baru saja ia isi.
Satu tegukan, dua tegukan, terlihat beberapa kali Dava mengernyitkan keningnya dengan dalam. Lidahnya sungguh tidak bisa menyukai rasa minuman yang sangat tidak enak itu. Tetapi hatinya begitu resah kala terus mengingat perpisahan pahit ini.
"Aku pasrah...aku pasrah, Tuhan. Biarkan kali ini aku melampiaskan semuanya dan biarkan aku bisa melupakannya malam ini. Aku ingin hidup baik-baik saja." tanpa terasa air mata pun menetes di pipinya.
Dava sungguh sangat bodoh, ia menyadari kelemahannya sebagai pria. Tetapi hati dan pikirannya sama sekali tidak bisa sejalan. Kala pikiran menolak untuk bersedih demi cinta, hati berkata lain. Hatinya begitu tidak rela jika harus melepaskan cinta pertama yang membuat hidupnya begitu terasa sempurna.
"Hehehe...aku memang benar-benar bodoh." rutuknya pada dirinya sendiri.
Beberapa kali tangannya kembali mengarahkan minuman itu ke mulutnya dan kini tidak menggunakan gelas lagi melainkan menggunakan botol yang tersisa hanya setengah saja.
***
__ADS_1
Suasana di kediaman Nicolas tampak riuh kala menyadari ketidak hadiran salah satu anaknya di meja makan.
"Berson, dimana Jeff?" tanya Tarisya lalu menatap ke arah Ruth yang tampak menyuapi makan Putri. Ia lalu beralih bertanya pada Ruth.
"Shandy, apa kau lihat Jeff? Atau dia mengatakan ingin pergi kemana?" Ruth menghentikan aksi suapan itu pada mulut kecil Putri.
"Tidak, Bunda. Sejak tadi Shandy bersama dengan Bunda dan tidak pernah melihat Kak Jeff..." tuturnya dengan lemah lembut. Jelas masih terasa rasa sakit di hatinya kala menyebut nama pria yang selalu ia panggil sayang kini berubah menjadi kakak.
Namun itulah kenyataannya.
"Dav, dimana kamu? apa kau pergi karena aku? Apa ini semua terlalu menyakitimu?" Ruth tertunduk kala mencemaskan keberadaan pria yang begitu masih ia cintai.
"Pergi kemana kamu, Dav? Pulanglah segera...kumohon." kembali Ruth memejamkan matanya sedih.
Ia sangat takut terjadi sesuatu pada mantan suaminya kini.
__ADS_1
"Maafkan aku melakukan ini semua, Dav. Aku tidak ada jalan lain selain berpisah darimu secepatnya. Hati ini sangat rapuh tiap kali menyadari hubungan kita yang masih suami istri namun tidak bisa tidur bersama, bahagia bersama. Sungguh aku tidak akan sanggup untuk hal itu. Maaf aku sangat egois pada hubungan kita. Aku harap kau segera menemukan kebahagiaannmu dan aku bisa dengan terpaksa merelakanmu dengan orang lain..."