Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 61. Tiba Di kediaman


__ADS_3

Setelah pengurusan administrasi yang memakan waktu cukup lama karena Dava harus mengurus administrasi dua pasien, kini akhirnya mereka semua bergegas pulang ke rumah. Tempat dimana Sendi akan kembali hidup bersama dengan Ruth, namun bukan untuk menjalin cinta melainkan untuk hidup sebagai adik dan kakak.


Sementara Dava yang harus bekerja keras meyakinkan dokter untuk tetap membawa pulang pasien yang belum sepenuhnya pulih, kini hanya terlihat pasrah dalam sementara waktu.


Sebagai seorang suami, tentu ia sangat paham bagaimana sikap sang istri yang begitu antusias untuk segera bersama kakak kandungnya. Jika ia tetap bersikukuh memaksa Ruth untuk berhati-hati, tentu semuanya bisa saja akan menjadi kacau.


Saudara si buruk apapun tentu akan menjadi nomor satu yang di pilih dari pria yang baru saja berstatus sebagai suaminya.


"Bahkan aku tahu, cintamu belum sebesar itu untukku, Ruth. Bisa saja jika aku salah memilih jalan, pernikahan kita akan hancur." gumamnya melirik wajah sang istri yang tersenyum ceria di sampingnya.


Suasana begitu hening di dalam mobil. Dava terus melajukan mobilnya menuju kediaman sang istri bersama Sendi yang duduk di belakang dengan Mbok Nan dan juga Putri.


"Mbok Nan," panggil Ruth di sela-sela keheningan.

__ADS_1


"Eh iya Non Ruth, ada apa?" tanya Mbok Nan terkejut mendengarnya. Pasalnya sedari tadi perasaannya sungguh tidak enak. Melihat sikap Dava yang terlihat jelas tengah menahan kekesalan meski selalu di tutupi dengan rauh wajah tenang.


Begitu pun juga dengan Sendi yang sedari tadi terus melirik Ruth yang duduk di depan bersama sang suami.


"Nanti tolong siapkan makan malam spesial yah, Mbok. Saya mau menyambut kedatangan Kak Berson di rumah dengan makanan yang enak." serunya menoleh ke belakang, tersenyum dan menatap wajah sang kakak yang juga tersenyum padanya.


"Baik, Non Ruth." sahut Mbok Nan menyanggupi.


"Ruth, tidak usah berlebihan begitu. Bukankah dulu juga aku sering ke rumah itu untuk makan bersama. Tidak perlu di sambut seperti ini karena ini bukan pertama kaliku datang, bukan?"  Sendi melirik sekilas wajah Dava yang tetap fokus menyetir dari pantulan spion depan.


"Mamah, Putli takut kalo nanti Paman kelai sama Om Sendi..." Putri mengadu setelah sekian lama bungkam.


Bocah itu bisa melihat tatapan Sendi pada Dava sedari tadi yang seperti sangat tidak suka. Ia cemas jika Paman gantengnya akan terusir karena ulah Sendi yang kata Mamahnya akan segera tinggal bersama dengan mereka.

__ADS_1


Ruth menggeleng cepat. "Putri, nggak boleh ngomong begitu Sayang. Mamah kan nggak ngajarin begitu. Paman sama Om Sendi nggak akan kelahi. Kan mereka adik kakak juga, karena Mamah adiknya Om Sendi." terang Ruth mengusap kepala sang anak di belakangnya lalu kembali mengarah ke depan memperbaiki posisi duduknya.


"Sayang, Paman kan nggak suka kelahi. Putri jangan khawatir yah?" Dava berucap dengan wajah tenangnya.


"Oke Paman. Putri sayaaang Paman." Bocah itu memeluk Dava dari arah kursi belakang hingga melingkarkan kedua tangan mungil itu pada kursi yang Dava duduki juga.


"Muaah." Kecupnya di pipi Dava sebelah kiri.


Dava menggeleng terkekeh gemas melihat tingkah manis bocah cantik itu. "Paman juga sayaaaang sekali dengan Putri." balas Dava tanpa bisa mencium Putri karena khawatir akan menabrak.


Setelah perbicangan singkat itu, kini akhirnya mobil terparkir sempurna di halaman rumah Ruth yang saat ini akan menjadi rumah Sendi juga.


 

__ADS_1


 


__ADS_2