Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 220. Pernikahan?


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama, kini Tuan Fredi sudah kembali bergabung dengan yang lainnya. Tangannya terlihat memegang sebuah map dengan lembaran yang tidak begitu tebal.


Ia mendaratkan tubuhnya di sofa yang menyerahkan map yang baru saja ia ambil kepada Tuan Wilson.


"Ini amanah darimu. Sudah waktunya ku kembalikan lagi." tuturnya dengan tersenyum tulus.


"Fredi, kau tidak perlu memberikan ini padaku lagi." Tuan Wilson menggelengkan kepala dan menolak saat melihat apa isi di dalam map tersebut.


Ia benar-benar tidak menginginkan hal itu dari sang sahabat.


"Tujuanku kemari bukan untuk ini." ucapnya lagi.


Namun, Tuan Fredi tampak menggeleng dan terkekeh. "Anggap saja kali aku yang berada di posisimu seperti dulu. Aku yang akan menjadi Tuan Wilson yang sangat dermawan. Itu adalah hakmu, sobat."


Sebuah surat kepemilikan saham di perusahaan Tuan Fredi yang di miliki Tuan Wilson sedari dulu.


"Awalnya aku memang ingin menitipkan padamu. Tetapi setelah semuanya berubah, itu murni untuk membantu usahamu, Fredi." terang Tuan Wilson sungguh tak enak hati.


"Niatku kemari hanya ingin memberitahu kalian jika saudara kalian ini masih hidup. Ayolah jangan membahas itu lagi. Aku tidak membutuhkan sama sekali." Dengan ketulusan Tuan Wilson benar-benar tidak bisa menerima miliknya itu lagi.


"Hehehe...bagaimana mungkin perusahaan yang sudah lama tutup akan semudah itu berkembang? Hem? Kau pikir aku ini pembisnis bau kencur? Anggap saja jika kau tidak mau mengambilnya kembali, aku memberikannya pada anak-anakku. Mereka sangat membutuhkan ini, Wilson. Mereka penerus D Group." ucapnya lagi menatap Sendi yang terdiam mematung mendengarkan perdebatan dua pria tua itu.


Dengan berat hati akhirnya Tuan Wilson menerima pemberian sang sahabat kembali. "Aku sudah lama menyiapkan ini, tetapi aku selalu mengingat tentang pesan-pesanmu jika harta akan mengancam nyawa keluargamu. Sampai akhirnya aku tetap menyimpannya tanpa tujuan.


"Jeff, kau sudah selesai, Nak?" Tarisya bertanya segera setelah melihat kehadiran sang anak dengan wajah yang tampak segar.


"Em, iya Bunda." tutur Dava dengan lembut dan sopan.


Mereka pun meneruskan berbincang-bincangnya hingga tanpa terasa waktu sudah semakin sore. Kali ini keadaan Tuan Wilson terlihat begitu segar setelah bertemu dengan sang sahabat. Perasaannya terasa begitu ringan karena melepaskan rasa rindu yang begitu menggebu selama ini.


Tanpa basa basi, mereka pun berpamitan untuk segera kembali ke Jakarta.


"Huh...sayang sekali kalian tidak menginap. Rasanya masih sangat rindu, Sya." ucap Nyonya Hana memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan sang sahabat.


Begitu juga pada Tuan Wilson dan Fredi yang memeluk saling menepuk pundak lawannya. "Aku harap kau segera pulih saat aku berkunjung ke Jakarta, Wil." ucap Tuan Fredi tersenyum menyemangati sang sahabat.


"Yah yah aku akan usahakan untukmu." sahut Tuan Wilson mantap.


Setelah berpamitan semuanya dan mengucapkan salam perpisahan, mobil yang di kemudikan Sendi pun melesat ke jalan besar meninggalkan rumah yang sangat megah itu tetapi begitu sepi seperti tak berpenghuni.


Perjalanan yang memakan waktu dua jam itu tak membuat yang ada di dalam mobil terlelap. Bahkan wajah mereka tampak tak ada yang lelah sama sekali.


"Ayah, Bunda." sahut Dava tiba-tiba memecah kesunyian di dalam mobil.


"Hem? Ada apa Jeff?" sahut Tarisya dan Tuan Wilson pun segera menoleh menatapnya.


"Ada apa? Apa kau ada yang ingin di tanyakan pada Ayah dan Bunda?" tanya Tuan Wilson kemudian.


Terlihat jelas wajah Dava yang begitu gugup dan menundukkan sedikit pandangannya. Ia memejamkan sekilas matanya dan membuka kembali.


"Bolehkah jika saya dan Ruth kembali menikah lagi? Menikah dalam agama islam?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian.


Sedangkan Sendi yang tengah fokus menyetir mobil seketika terkejut hingga mendadak mengerem mobil yang mereka naiki.


"Astagafirullah...Berson. Ada apa?" Tarisya sampai memegang dadanya karena rasa terkejut yang begitu menegangkan.


"Berson, ada apa, Nak?" Tuan Wilson pun ikut bersuara.


"Ah, tidak. Maaf ada kucing tadi di depan." jawab Sendi yang berbohong.


Beruntung saja mereka belum memasuki area tol. Bisa bahaya jika mendadak menghentikan mobil di jalanan seperti itu.


Jika kedua orangtua mereka sangat panik, berbeda halnya dengan sosok Dava yang hanya menatap malas pada sang adik. Tentu saja ia sangat tahu respon yang Sendi lakukan barusan. Itu adalah bentuk protes yang ia tidak sengaja tunjukkan setelah mendengar pertanyaan sang kakak angkatnya.

__ADS_1


"Huh ku pikir hubungan ini adalah hubungan sedarah yang terlarang. Nyatanya hanya kesalah pahaman saja. Bahkan aku sendiri pun bukanlah saudara kandung Ruth." Sendi hanya bisa pasrah menerima jalan hidupnya saat ini.


Semua sudah begitu seperti benang kusut yang sangat sulit untuk di luruskan. Terlanjur terikat-ikat dengan kuat.


Mobil pun kembali berjalan normal.


"Ayah dan Bunda sangat mendukung apa pun keputusan kalian, Jeff. Kalian sudah dewasa dan kami yakin kalian sudah bisa menentukan mana yang baik untuk anak-anak kalian kelak." sahut Tarisya dengan penuh pengertian.


Dava sangat lega mendengarnya. Semuanya terasa berjalan dengan begitu baik. Ia pun bisa menghela napas yang terasa begitu mengganjal di paru-parunya sejak tadi.


"Terimakasih, Ayah, Bunda. Jika bisa, besok kami akan mulai mengurus persyaratan nikah. Karena kebetulan ktp saya dan surat lainnya besok pagi baru selesai juga." sahut Dava yang baru saja mendapatkan kabar untuk mengambil berkasnya besok pagi.


Roda mobil pun melaju di jalanan tol menuju Kota Jakarta. Suasana perjalanan yang begitu mulus membuat semua yang ada di dalam mobil itu terlelap tanpa sadar. Akhirnya, tinggallah Sendi seorang diri yang masih menyetir mobil dengan perasaan yang begitu panas.


Seluruh tubuhnya rasanya sangat gerah, semua bukan tanpa sebab. Ia begitu tersakiti kala mendengar Dava akan kembali bersatu dengan Ruth. Wanita yang begitu ia cintai sampai detik ini.


Rasanya sungguh iri. Mengapa Dava begitu mudah bisa merubah takdir kisah cintanya yang pahit kembali menjadi manis. Sedangkan dirinya yang sudah banyak cara ia lakukan, namun hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi sampai saat ini.


Ruth sama sekali tidak pernah membuka pintu hatinya untuk pria yang bernama Sendi itu. Meski ia adalah cinta pertamanya, tetap saja nama Dava yang selalu menjadi penjaga hati wanita bermata cokelat itu.


Sementara di kediaman Nicolas, kini waktu di jam dinding sudah menunjukkan jam tiga sore.


Semua kegiatan rumah sudah mulai di lakukan Mbok Nan lagi. Mulai mencuci piring, menyapu dan membersihkan segala sudut rumah itu.


Tentu saja dengan bantuan bocah kecil yang begitu lincah. Sesekali Mbok Nan menggelengkan kepala saat melihat wajah serius Putri kala mengelap meja kaca di ruang tengah.


"Untuk apa di tiup-tiup seperti itu, Putri?" tanya Mbok Nan merasa lucu.


"Biar koncling, Mbok. Nih lihat, napas Putri ampuh kan?" tuturnya dengan wajah tanpa dosa setelah mengatakan kosa kata yang amburadul itu.


"Ya Allah...kinclong kok bisa berubah jadi koncling. Aduh...sakit perut si Mbok Put. Kamu ini ada-ada saja sih." Si bocah yang mendengarkan protes dari Mbok Nan hanya menyengir kuda karena menyadari akan kesalahannya barusan.


"Hehehe...kan beda o sama i aja Mbok. Mamah mana yah Mbok?" tanyanya setelah sadar tidak melihat kehadiran sang mamah sedari tadi.


Segera setelah itu Putri berlari kecil menuju kamar sang mamah.


"Ada apa, Nak?" tanya Ruth yang melihat pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok bocah canti di sana.


"Mah, kirain Mamah belum bangun. Ternyata sudah." jawabnya sembari berjalan mendekati sang mamah yang tengah mengayun sang baby Rava di dalam gendongannya.


"Ini adiknya Putri rewel banget dari tadi. Mamah saja sampai bingung mau taruh di kasur nangis terus. Harus di gendong begini." terangnya memperlihatkan sang baby Rava yang bobok anteng dalam pelukannya.


"Mungkin dedek Rava kangen sama Ayah, mah. Sama seperti Putri. Putri kalau lagi kangen sama Ayah kan suka nangis." jawabnya akhirnya jujur.


Selama ini bahkan Ruth tak pernah mengetahui hal itu. Putri sering menangis diam-diam di toilet sekolah jika mengingat sang ayah. Bahkan di kamar mandi saat sedang sendirian.


Ia tidak ingin sang mamah mencemaskannya ketika menangisi ayah yang tega meninggalkan mereka berdua beberapa saat lalu.


"Yasudah kalau begitu kita bawa adek Rava main di depan yuk. Siapa tahu nanti mau diam." ajak Ruth yang mengalihkan pembicaraan.


Ia tidak ingin jika sang anak terus mengingat kepergian Dava yang menyisakan luka di hati mereka. Saat ini semuanya sudah jelas dan membaik. Tak ada lagi yang perlu di ingat untuk bersedih.


Dava sudah kembali pada mereka dan sebentar lagi rumah tangga mereka akan utuh lagi. Hanya butuh waktu sebentar saja.


"Yuk dedek." ajak Putri menggandeng tangan sang mamah yang menggendong sang adik.


Putri begitu sumringah mendapatkan ajakan dari sang mamah untuk bermain di luar rumah. Sekali pun ia tidak memiliki teman bermain, tetapi keluar rumah saja rasanya sangat menyenangkan baginya.


Meski terik matahari masih bersinar terang di luar, namun cuaca di halaman rumah yang tidak begitu luas terasa sangat sejuk dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi kala itu.


Ruth bermain bersama dua anaknya saat itu. Tawa bahagia pun terdengar di mulut Putri dan sang ibu. Samar-samar Mbok Nan mendengar suara mereka.


Ia yang tengah fokus mengepel lantai pun akhirnya merasa tidak sabat untuk ikut bergabung juga di halaman rumah bermain dengan dua anak kecil.

__ADS_1


"Wah...seru yah Non Ruth." tawa Mbok Nan kala menggoda si baby Rava yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Sedangkan Putri juga terlihat berjoget-joget di depan sang adik. Meski kata orang di usia baby Rava saat ini ia belum bisa melihat, namun entah mengapa suara gumaman-gumaman kecil bibir mungil bayi itu sangat menggemaskan sekali.


Mereka semua terkekeh dalam waktu yang cukup lama, hingga sampai akhirnya mentari sudah mulai turun dan berubah warna.


Semua ingin bersiap masuk ke rumah untuk mandi sore.


Tin Tin!! Tiba-tiba saja suara klakson mobil menghentikan mereka dari langkahnya.


"Ayah!" Seru Putri yang sangat bahagia melihat kepulangan sang ayah sore itu.


Kepulangan yang tak di duga, karena mereka berpikir jika semuanya akan menginap di Bandung untuk menyelesaikan urusan sang ayah. Nyatanya mereka pulang lebih cepat dari perkiraan.


Meski terlihat jelas jika Ruth tetap berwajah datar, namun di dasar hatinya ia merasakan sesuatu yang begitu tenang kala melihat wajah teduh pria yang menggendong sang anak di sana sudah kembali lagi sebelum malam menjelang.


Ia sungguh tidak ingin berjauhan lagi sedetik saja dari Dava. Namun rasa gengsi Ruth nyatanya masih bersarang di dalam dirinya hingga saat ini.


"Hai anak Ayah..." sapa Dava mendekati sang baby yang terus menggeliat di gendongan sang ibu.


Putri yang terlihat mengalungkan kedua tangannya di leher Dava sangat menampakkan sikap manjanya. Namun sebagai kakak yang baik ia pun mengerti jika sang ayah harus bersikap adil.


"Ayah, dedek Rava minta gendong tuh. Dari tadi nangis nungguin Ayah pulang." ucap Putri dengan penuh pengertian pada sang adik.


"Oh iya? Ayah kirain Mamah yang nangis nungguin Ayah pulang dan minta gendong." goda Dava terkekeh pada Putri namun matanya tampak melirik ke arah Ruth yang sudah membulatkan matanya kesal.


Semua yang mendengar ucapan Dava pun hanya tersenyum-senyum geli. Mereka tahu jika Ruth sangat malu mendengar ucapan Dava.


"Sini Ayah gendong dedek Rava, Kakak Putri gantian dulu yah?" tutur Dava menurunkan Putri dari gendongannya usai mendaratkan ciuman di kening bocah itu. Lalu tangan kekarnya meraih tubuh bayi yang menggeliat menunggu sentuhan tangan dari sang ayah tampannya.


Barulah setelah itu, Rava kembali tenang. Ia begitu tenang dalam dekapan sang ayah.


"Wah Putri benar, Jeff. Rava memang menunggumu." sahut Tarisya tersenyum melihat tingkah sang cucu yang begitu menggemaskan.


"Sudah mau senja, sebaiknya kita bersih-bersih diri dulu. Ayo, Jeff bawa Rava masuk. Tidak baik di luar rumah senja seperti ini untuk bayi." tutur Tuan Wilson mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Semuanya masuk menuju kamar mereka masing-masing. Sementara Mbok Nan yang baru saja selesai mandi, kini segera menyiapkan menu makan malam.


Kali ini ia di bantu oleh Dina. Wanita itu sudah mulai pandai memasak berbagai menu masakan yang lezat. Semuanya ia dapat dari Mbok Nan.


Waktu yang berjalan begitu cepat, tak terasa kini sudah menunjuk pada pukul delapan malam. Semua sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan yang menggugah selera.


"Setelah makan, Ayah ingin kita semua berkumpul di ruang keluarga. Ada yang ingin Ayah katakan pada kalian semua." tutur Tuan Wilson dengan sangat serius.


Mereka semua pun mulai menikmati makan malam dengan keheningan. Seperti biasa, Dava akan terus memperhatikan wanitanya itu.


Rasanya begitu lega, karena mereka tidak jadi berpisah satu malam. Baru sehari saja, Dava sudah begitu cemas memikirkan bagaimana Ruth makan dengan tenang sedangkan Rava sangatlah rewel jika di berikan pada orang lain ataupun di letakkan di box tempat tidurnya.


Setelah rutinitas makan malam usai, sesuai dengan perintah sang kepala rumah tangga. Mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Mulai besok, kalian harus kembali fokus pada perusahaan lagi. Ayah sudah di berikan kembali pada Tuan Fredi saham milik Ayah. Ia akan menanamkan saham itu pada perusahaan D Group. Kalian harus mulai siap untuk menerima semua pesaing bisnis yang akan menyerbu perusahaan kita lagi. Karena perusahaan Tuan Fredi sangat memberikan pengaruh besar pada setiap perusahaan yang ia rangkul." terang Tuan Wilson dengan serius.


"Jeff. Kau kakak tertua di sini. Kau memiliki tanggung jawab untuk memimpin perusahaan dan adik-adikmu. Ayah percayakan pada kalian, karena Ayah tidak mungkin ke perusahaan dalam keadaan seperti ini. Perketat keamanan di perusahaan dan untuk kalian juga. Ayah tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian." Rasa trauma Tuan Wilson yang masih sangat menghantui pikirannya sampai saat ini seakan sangat sulit ia lupakan.


Ia begitu takut jika anak-anaknya akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik bahkan lebih kejam dari yang ia dan sang istri dapatkan sebelumnya.


"Ayah tidak perlu khawatir. Kami akan mempersiapkan segalanya termasuk keamanan kami dan juga kalian yang berada di rumah ataupun di luar rumah." jawab Dava dengan yakin.


Suasana pun kembali hening. Sedangkan Ruth yang terlihat sibuk mengusap kepala sang anak yang terlelap itu tiba-tiba terkejut kala mendengar pertanyaan dari sang ayah.


"Lalu, apa kalian ingin pernikahan kalian di acarakan dengan mewah? Atau kalian membutuhkan tenaga Ayah dan Bunda?" pertanyaan dari Tuan Wilson sontak membuat mata Ruth yang berwarna cokelat itu membulat tajam.


"Pernikahan?" tanyanya tak menyangka akan membahas hal itu.

__ADS_1


__ADS_2