
Dava yang mendengar pertanyaan sang istri segera buru-buru melepaskan pelukan itu. Ia membuka matanya dan menjauhkan tubuhnya dari sang istri dengan sedikit mendorong tubuh Ruth pelan.
"Aku ingin mandi dulu." tuturnya berdiri tanpa mengatakan sepatah katapun.
Ruth hanya diam melihat kepergian sang suami. Dalam hatinya jelas merasakan hal yang aneh. "Dav, mengapa belakangan ini aku merasa semakin tidak mengenalmu? Apa hanya karena pengaruh aku hamil saja?" batin Ruth berucap.
Ia mencerahkan pandangan matanya. "Sudahlah, aku tidak boleh seperti ini. Dava pasti sangat pusing dengan pekerjaan di kantor. Sebaiknya aku tidak menambah bebanya lagi." Di elusnya pelan perut rata miliknya dan di tatapan dengan wajah yang tersenyum.
"Sayang, kamu jangan rewel yah, Nak. Mamah juga harus sopport ayah kamu buat kerja. Biar nanti ada uang buat beli baju adek yah? Kasihan ayah dia pasti kelelahan. Kamu yang pintar sayang yah?" Meksi belum ada tanda-tanda perbincangannya terbalas dengan gerakan di perut, Ruth tetap tersenyum.
Perasaannya sebagai wanita yang sedang hamil benar-benar membuatnya sangat bahagia. Dalam keadaan bahagia maupun sedih, ia tidak akan pernah sendirian. Karena kini tubuhnya sudah berbadan dua.
"Terimakasih, Tuhan. Saat ini aku sudah menjadi calon ibu. Aku begitu bersyukur kau memberikannya di waktu yang sangat tepat. Di waktu yang begitu kami nantikan. Aku berjanji akan sekuat tenaga menjaganya, Tuhan..." Ruth memilih keluar dari kamar setelah ia memastikan pakaian suaminya telah di siapkan dengan lengkap.
Dava yang mandi di kamar mandi tampak membasahi seluruh tubuhnya termasuk kepala. Pikirannya sudah semakin sulit di kontrol lagi. Rasa rindu dan ingin terus melakukan hubungan suami istri kini menjadi candu untuknya.
Semakin ia ingin menjauh dan menjaga jarak, semakin besar rasa itu akan muncul lagi. Seperti yang terjadi saat ini, tubuhnya terasa menegang dan panas.
Wajahnya menunduk memperhatikan si boy di bawah sana. Tatapan tajam boy padanya seakan menyiratkan betapa ia sangat menginginkannya kali ini.
"Hais...pake acara pengen segala lagi. Seharusnya kau mengerti posisi kita saat ini sedang tidak baik." gerutu Dava di dalam kamar mandi pada kepemilikannya.
Alhasil dengan segala naluri pria, ia pun melampiaskan dengan aksi tangannya sendiri di kamar mandi. Mungkin dengan cara seperti ini Dava bisa mengurangi kedekatannya dengan sang istri.
Tiap kali ia dekat dengan Ruth, hatinya terus di hantui rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia berhubungan dengan adiknya sendiri. Namun, rasa cinta itu seakan membuatnya tak rela jika harus berjauhan dengan sang adik layaknya kakak beradik. Ia terus ingin selamanya bisa menduduki posisi suami di hati Ruth.
***
Malam ini, semua hidangan yang ada di meja makan spesial makanan kesukaan Dava. Ruth sengaja memasak di bantu oleh Mbok Nan dan juga si bocah Putri.
__ADS_1
Dengan segala rasa puas, ia memperhatikan satu persatu masakan yang sudah ia tata dengan rapi di atas meja makan.
"Wah...Dava pasti sangat senang melihat ini semua. Sup ceker, sambel goreng kikil, ayam kecap, udang tumis asam, dan juga sambel goreng gurih kesukaannya." Ruth tersenyum dengan wajah puas karena hasil masakannya.
"Mamah, akhilnya masakan kita selesai juga. Ayah mana yah?" Putri berucap dengan penuh percaya dirinya. Ia mendekati sang mamah dan memeluk kedua pahanya.
"Hehehe...ia masakan kita sudah beres. Putri senang?" sahut Ruth terkekeh mendengar celotehan sang anak. Masakan mereka? tentu saja Ruth yang memasak.
Sedangkan Putri berperan hanya sebagai pengaduk di kuali saja.
"Non, apa Mbok Nan panggil saja Tuan Dava yah?" Mbok Nan melihat jam di dinding sudah menunjukkan setengah delapan malam.
"Oh tidak usah, Mbok. Biar saja saya yang memanggilnya. Mungkin dia sedang bersiap usai mandi." cegah Ruth yang khawatir jika Mbok Nan melihat suaminya saat belum memakai baju.
Mbok Nan pun mengangguk setuju setelah mendengar ucapan Nonanya. "Baik, Non."
"Baik. Tolong kalian awasi Bunda saya."
"...."
"Iya, pastikan mereka sehat dan tercukupi kebutuhannya."
"..."
"Yah. Terimakasih, Raf."
Sambungan telepon pun terputus saat itu juga.
"Dav!" Suara wanita yang terdengar jelas di ambang pintu membuat Dava menoleh seketika. Wajahnya tampak gugup, pandangan matanya tak menentu arahnya.
__ADS_1
"Eh...yah?"
"Em...ada apa, Ruth?"
"Astaga...mengapa aku sampai lupa menutup pintu kembali? Apa Ruth mendengar percakapanku tadi?" Ia tak berani tersenyum sampai suara sang istri terdengar menjawabnya.
"Sudah selesai teleponannya?" tanya Ruth tetap menunjukkan wajah tenangnya.
"E...i-iya. Sudah selesai." jawab Dava terbata-bata.
Ruth tersenyum lalu melangkah mendekati sang suami. Ia memeluk tubuh kekar itu serta mencium dagu sang suami dengan sangat romantis.
"Jangan menyembunyikan apa pun dariku. Hem? Aku sangat mencintaimu, Dav. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika..."
"Sssttt." Dava menghentikan ucapan sang istri dengan jari telunjuknya. Hatinya sakit tiap kali mendengar penuturan cinta dari sang istri.
Ia tidak akan sanggup jika sampai sang istri memintanya kembali berjanji untuk tidak meninggalkannya.
"Jangan mengatakan apapun, Ruth." mohonnya dengan lirih.
"Baiklah. Apa Rafael mengabari sesuatu yang penting? Aku mendengar kau menyebut namanya tadi di telepon." ia pun memilih kembali pada topik pembicaraan awal.
"Em, tidak. Aku hanya memintanya untuk terus memantau semuanya sampai putusan sidang di tetapkan dengan adil." Dava berucap dengan wajah yang tidak setenang biasanya.
"Syukurlah jika Ruth tidak mendengarnya tadi. Huhhh."
"Ayo kita makan malam. Anakmu sudah memasakkan makanan yang spesial." Ruth terkekeh kala mengingat ucapan Putri tadi.
"Anakku? Putri?" Dava terkejut mendengar penuturan sang istri barusan.
__ADS_1