Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 51. Sarapan Pagi


__ADS_3

Kini hubungan Dava dan Ruth berjalan semakin harmonis. Tak ada jarak di antara mereka berdua semenjak terjadinya malam penuh cinta itu.


Di pagi hari, Dava yang baru saja menuruni tangga mendapati punggung istrinya yang terekspos sedikit akibat piyama yang terturun di pundaknya. Dava tersenyum gemas melihat sang istri tengah sibuk mempersiapkan menu sarapan di meja makan.


"Ya Tuhan..." Ruth terkejut mendapatkan pelukan dari sang suami tanpa suara itu.


"Permisi, Non." Mbok Nan yang merasa jadi orang ketiga segera berlalu meninggalkan ruang makan tersebut.


"Terimakasih yah, Mbok. Tau saja hehe." Dava tersenyum melihat kepergian sang asisten rumah tangga itu.


Kini di ruangan hanya tersisa mereka berdua saja. Ruth mengernyit melihat tatapan sang suami yang kini sudah berhadapan dengannya. Yah tadi usai kepergian Mbok Nan, pria itu segera memutar tubuh istrinya dengan cepat agar menghadap padanya.


"Mengapa memakai baju seperti ini?" Dava menatap penampilan sang istri yang terlihat hanya memkai piyama berwarna soft pink saja.


Ruth memegang pipi sang suami lalu tersenyum. "Apa kau lupa? hari ini kan sidang kasus ayah dan bunda." ujarnya menerangkan pada sang suami.


"Ya Tuhan...bagaimana bisa aku sampai lupa? Maaf yah, Sayang. Aku benar-benar lupa." Dava terlihat merasa bersalah pada sang istri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Dav. Kau sudah terlalu bekerja keras belakangan ini untuk perusahaan ayah. Aku paham banyak hal yang kau pikirkan. Maafkan aku suamiku telah membebanimu." Ruth mendekat lalu memeluk tubuh sang suami.


Dava memalas pelukan sang istri. Kini dirinya paham bagaimana arti sebuah keluarga baginya. Sekalipun tubuhnya sudah bekerja sangat keras, ia bahkan tidak merasa hal itu menjadi beban yang begitu berat. Dirinya sangat antusias untuk memajukan perusahaan peninggalan mendiang mertuanya.


Bukan semata-mata hanya untuk memenuhi tanggung jawab atas apa yang di perbuat oleh sang ayah. Melainkan untuk membuat sang istri bahagia atas hasil yang ia capai kelak.


"Yasudah kalau begitu aku tidak ke kantor hari ini. Ayo sarapan." Dava menuntun sang istri untuk duduk di sampingnya. Mata hitam itu bergerak menatap kesana kemari.


"Dimana Putri?" tanyanya mencari sosok anak yang belum terlihat batang hidungnya.


"Mungkin sedang mandi bersama Mbok Nan." Ruth mengambilkan nasi beserta lauk pauk ke piring sang suami.


Ruth berteriak kaget saat tubuhnya di tarik kuat oleh sang suami untuk duduk di pangkuannya. "Dav, apa yang kau lakukan?" tanyanya yang sudah masuk dalam dekapan suaminya.


Keduanya tampak duduk di atas satu kursi yang sama.


"Ini sarapanku yang utama," Dava mencium bibirnya kemudian tanpa aba-aba ia menggigit bibir wanita itu.

__ADS_1


Ruth tak bisa lagi melakukan apapun selain membuka bibirnya dan menerima serangan bibir dari sang suami.


Keduanya perlahan tampak menikmati permainan penuh gairah pagi itu, tanpa sadar jika di salah satu sudut ruangan tampak dua pasang mata yang membulat.


"Hah?" lirih Putri yang membungkam bibirnya namun semakin memperjelas pandangannya.


"Ya ampun, Putri." Mbok Nan menutup mata bocah itu agar tidak melihat pemandangan terlarang di depannya saat itu juga.


"Mbok, minggil. Putli mau liat Mamah sama Paman ngapain tadi? Kok selu cih." kesalnya berusaha keras membuka mata yang di tutup dengan telapak tangan keriput itu.


"Eh...nggak boleh Putri. Itu nggak boleh di lihat. Ayo kita ke kamar sebentar. Ini Mbok tadi nggak liat baju Putri ada kotorannya di belakang. Ayo ganti baju dulu." bisik Mbok Nan di balas dengan bisikan juga oleh si bocah mungil itu.


"Ah...enggak Mbok. Putli penasalan tau. Mamah sama Paman kayak lagi lebutan pelmen yah? Putri juga mau ikut lebutan ah."


"Eh...bukan gitu Non. Itu bukan rebutan permen. Tapi..." Mbok Nan membulatkan matanya mendengar penuturan si Putri. Bahkan ia sendiri bingung harus menjelaskan dengan alasan apa.


Prang!!

__ADS_1


Suara frame poto terdengar hancur lebur di sudut nakas dekat tangga rumah itu.


"Dav," Ruth yang kaget mendengar keributan itu langsung melepas pagutannya dan mendorong tubuh sang suami agar melepaskan dirinya.


__ADS_2