Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 77. Semangat Untuk Ruth


__ADS_3

Wajah berseri-seri tampak jelas terlukis di wajah dua sosok yang tengah menikmati sejuknya udara pagi di Kota itu. Meski padatnya kendaraan selama perjalanan tak mengurangi pesona kota metropolitan yang terkenal padat penduduk itu.


Senyuman di wajah Ruth membuat semangat pada Dava semakin berkobar. Dava mendaratkan satu ciuman di kepala sang istri yang sedari tadi menyandarkan kepalanya pada bahu Dava.


Sementara mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.


"Dav," panggilnya lembut seraya menatap wajah sang suami yang tetap fokus menyetir.


"Hem. Ada apa, Sayang?" sahut Dava menoleh sekilas dan kembali menatap ke arah depan.


"Aku bahagia..." ujar Ruth mengeratkan pelukannya pada lengan sang suami.


Dava begitu senang melihat ekspresi sang istri yang perlahan mulai membaik dan melupakan hal yang pernah ia alami. Tangan besar itu melingkar di leher sang istri yang masih bersandar pada bahunya.


"Aku juga jauh lebih bahagia bisa melihatmu seperti ini, Ruth. Terimakasih." tuturnya manis.


Ruth yang mendengar kata terimakasih justru merasa heran. Bukankah itu hal yang terbalik jika Dava yang mengatakannya? Seharusnya dialah yang mengucapkan terimakasih karena telah menjadi suami yang baik dan menguatkannya hingga sampai pada tahap ini.


"Untuk?" tanyanya setelah lama berpikir dan menatap bingung sang suami.


"Untuk senyumanmu pagi ini. Aku sangat senang melihatnya." jawab Dava membuat Ruth tersipu mendengarnya.


Pipinya seketika memerah menahan malu. Namun ia juga merasakan hal yang bersamaan dengan malu, yaitu berbunga-bunga.

__ADS_1


Selama perjalanan ke kantor keduanya terus berbincang-bincang hangat hingga mobil kini sudah sampai di parkiran perusahaan milik ayah Ruth.


"Tunggu aku," Dava bersuara secepatnya sebelum wanita di sampingnya lebih dulu untuk turun dari mobil.


Dava keluar dan memutari mobil itu kemudian membukakan pintu untuk sang istri. Ruth terkekeh sembari menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang benar-benar membuat para tenaga kerja yang melihatnya jadi sangat iri.


"Ayo," tangannya ia ulurkan untuk mendapatkan genggaman sang istri. Ruth menyanggupi perintah sang suami dengan cepat ia menggenggam tangan besar yang sudah banyak bekerja keras untuknya.


Keduanya berjalan menelusuri kantor menuju lift. Beberapa pekerja yang sudah mulai dekat dengan keduanya terdengar menyapanya dengan penuh hormat.


Setelah perjalanan pendek, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang akan menjadi tempat mereka bekerja keras seperti hari-hari sebelumnya.


"Bagaimana? apa kau siap untuk meeting hari ini? Ini meeting perdana, Ruth. Jangan sampai kita mengecewakan investor asing ini. Mereka sangat percaya dengan tawaran kita, tinggal kita meyakinkan mereka saja." ujar Dava memperingatkan sang istri sebagai pemimpin meeting hari ini.


"Dav, apa harus aku?" tanyanya dengan wajah penuh keraguan.


Dava menganggukkan kepala lalu tersenyum. "Iya, memangnya ada apa, Sayang?" tanyanya dengan antusias berjalan menuju meja kerjanya yang tidak berjauhan dengan meja kerja sang istri.


"Aku...aku gugup. Bisakah kau saja yang memimpinnya?" Ruth menatap cemas sang suami. Ia sama sekali tidak berani mengambil resiko kali ini atas usaha yang sudah mereka kerjakan selama ini.


"Aku takut, Dav. Kalau sampai gagal bagaimana?" keluh Ruth denan mata yang tak lagi sebening seperti tadi.


"Hey," Dava melihat keseriusan di wajah sang istri segera berjalan mendekat kembali pada meja kerja sang istri.

__ADS_1


Tangan besar itu menangkup rahang tegas milik wanita bermata cokelat itu. Di tatapnya begitu dalam kedua bola mata indah itu.


"Jangan khawatir. Okey? Aku akan tetap bersamamu sekalipun saat meeting. Percaya padaku. Kita akan menghadapi ini bersama-sama." tutur Dava meyakinkan sang istri yang tampak pucat.


"Semalam sudah latihan. Masih ingat kan?" tuturnya memperingatkan hal apa saja yang mereka praktekkan malam tadi. Lalu Ruth pun menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terasa berat ia berikan pada Dava


Jika di ruangan kerja suami istri itu tengah mengalami ketegangan, berbeda halnya dengan Sendi yang sudah berada di ruangan kerjanya tengah bekerja dengan sangat giat.


Ia tak perduli jika hatinya panas terbakar melihat kedekatan Ruth dengan Dava yang semakin hari semakin menempel saja.


"Aku harus bekerja keras untuk perusahaan ini. Bukan hanya pria itu saja yang mampu menunjukkan keahliannya dalam dunia bisnis. Aku pun juga bisa." ujarnya tersenyum lebar menyemangati dirinya sendiri.


Dava tak perduli sedikit pun tentang keadaan sang istri yang saat ini dalam proses menjadi mantan istri.


Sejak saat tak sadarkan diri itu, Dina terpaksa di rawat kembali ke rumah sakit. Karena memang keadaannya belum pulih sepenuhnya.


Tangisan kesedihannya pun tak akan mampu mengembalikan semuanya yang ia minta untuk kembali termasuk Dava dan juga rahimnya.


Hanya satu harta yang paling berharga yang ia miliki, yaitu Ibunya.


Di sini, di ruangan bernuansa putih khas rumah sakit memperlihatkan seorang wanita paruh baya menggenggam erat tangan sang anak yang tidak ingin mengeluarkan suaranya sedikit pun.


Hatinya sakit melihat sang anak frustasi seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2