Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 53. Permohonan yang Sia-sia


__ADS_3

Di ruangan sidang semua wajah tampak serius. Namun Ruth masih saja mencuri-curi kesempatan melirik sang kakak yang duduk di seberangnya.


Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar pada keluarga korban. Ruth menjawab dengan penuh keyakinan. Di depan sana Iwan dan Deni menunduk mendengarkan segala keluhan anak dari korban yang mereka lenyapkan. Bahkan tangisan Ruth pun menggema di ruangan itu.


Kini persidangan pun berakhir dengan cepat. Sidang pertama yang di lakukan membuat sosok Ruth semakin terpukul. Tangisannya tak henti-henti sejak permintaan maaf Iwan dan Deni padanya di akhir persidangan sangat terlihat tidak tulus.


"Kami mengakui kesalahan kami berdua pada keluarga korban. Kami mohon maaf atas perbuatan kami di masa lalu. Oleh sebab itu kami mohon berikan pengampunan untuk kami." Deni berucap dengan menatap wajah wanita yang menatapnya juga sangat tidak terima.


"Bagaimana pun kata maaf untuk kalian sangat tidak kalian perlukan. Saya yakin itu, atas apa yang kalian lakukan selama ini pada keluarga saya dan juga saya. Saya yakin, rasa bersalah itu sama sekali tidak ada. Sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan kalian." Ruth berteriak sembari menatap wajah Sendi yang terus menunduk sedari tadi.


"Maafkan aku, Ruth. Bahkan aku tidak ada di sana bersamamu untuk menguatkanmu di saat-saat seperti ini. Tapi...apa benar jika aku adalah anak dari orangtuanya, dan aku adalah kakaknya?" Sendi masih tidak yakin apa yang di ungkapkan di ruangan persidangan oleh jaksa.


Sebelum semua keluar, Ruth berlari menghampiri Sendi yang masih duduk. "Kak." ucapnya tanpa bisa menahan air mata lagi.

__ADS_1


"Hem..." Sendi menghela napasnya kasar.


"Ruth, berhenti memanggilku seperti itu. Sampai saat ini pun aku masih tidak bisa merasakan jika aku benar-benar kakakmu seperti yang ku dengar barusan." tutur Sendi menolak sang adik yang ingin memeluknya.


Jika biasanya ia sangat senang mendapatkan pelukan dari wanita di depannya saat ini, berbeda halnya dengan saat ini.


Pelukan yang ia inginkan bukanlah pelukan dalam arti kasih sayang seorang saudara, melainkan ia sangat menginginkan pelukan dari arti sebuah cinta.


Ruth bahkan terisak melihat sikap Sendi padanya. "Kak, mereka telah memperdaya ingatanmu, Kak. Mereka sudah merencanakan ini semua. Tolong kendalikan dirimu, Kak Berson."


Pria itu melangkah mendekat pada istrinya yang kini sudah berlutut menangis di hadapan sang mantan yang sudah menjadi kakaknya.


"Ruth, biarkan dia pergi. Ayo pulang. Suatu saat nanti biarkan dia menyesali apa yang ia tolak hari ini." Dava menatap tajam pria di hadapan sang istri sembari tangannya menggenggam erat kedua bahu sang istri.

__ADS_1


Ruth menggeleng. Ia hanya ingin pulang dengan membawa satu keluarganya yang tersisa kali ini. Tidak menutup kemungkinan kesempatan bersama itu akan di rebut oleh nasib buruk lainnya yang akan memisahkan mereka.


"Sendi, fakta sudah terungkap. Terserah jika kau tidak mau pulang bersama adikmu. Jika kau terus menolak, itu hakmu. Tapi jangan salahkan aku jika aku yang akan menghalangimu suatu saat nanti sekalipun jika kau datang dengan mengemis untuk bertemu Ruth." Dava merangkul paksa sang istri.


Ia tidak akan terima istrinya tidak di anggap seperti itu.


"Kak Berson!" teriakan Ruth terus menggema di ruangan itu hingga akhirnya hilang seiring pandangan Sendi yang perlahan tak lagi melihat sang adik.


Di perjalanan, kini Ruth terdiam menahan tangisannya. Hanya air mata yang terus membanjiri kedua mata cokelatnya.


Jika ia memberontak, itu sangat tidakĀ  baik. Dava bukanlah suami yang pantas untuk di tentang. Sejauh ini Ruth sangat paham siapa suaminya dan seperti apa sikapnya.


Dava suami yang begitu sangat penyayang. Semua ucapannya tentu akan ada makna yang baik untuknya saat ini. Sekali pun Sendi adalah kakak satu-satunya untuk Ruth, tetapi ia tidak ingin gegabah untuk mengambil keputusan saat ini.

__ADS_1


"Ruth, jangan memaksanya. Jika kau memaksanya, bisa jadi Sendi akan merasa tertekan dan justru menjauh dari kita. Biarkan dia tetap hidup berdampingan dengan kita sementara waktu. Kau tahu kan? sarafnya sedang tidak baik. Aku pun paham bagaimana sakitnya kepala orang yang mengalami hal seperti itu..."


Ruth sontak menoleh mendengar ucapan sang suami. "Dari mana kau tahu rasa sakit itu, Dav?" tanyanya penasaran.


__ADS_2