
Perjalanan yang panjang kini berakhir sudah, janin yang sudah berlindung selama sembilan bulan sepuluh hari tampak bergerak sangat aktif.
Suara rintihan terdengar begitu membuyarkan seisi rumah saat jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Segala cerita indah di alam mimpi tiba-tiba terhenti begitu saja.
"Aaaaaa sakit!!"
"Aaaaaaa!"
Brak!! suara pintu terhempas hampir bersamaan.
"Shandy, apa yang terjadi, Nak?" Tarisya dan yang lainnya begitu panik saat menghampiri Ruth yang sudah terduduk di depan pintu.
Meringis kesakitan dan memegangi perut buncit yang terus terasa ingin mengeluarkan sesuatu. Tak perduli bagaimana paniknya seisi rumah kala itu, yang Ruth tahu ia sudah benar-benar tidak kuat lagi.
"Bunda, perutku sakit sekali?" ia bahkan tak kuasa mengatakan keluhannya dengan benar. Namun Tarisya yang melihat pergerakan bibir sang anak bisa membaca apa yang ia ucapkan saat itu.
"Berson! Berson, tolong siapkan mobil." pintah Tarisya dengan tidak sabarannya.
__ADS_1
"Sen, sebaiknya kau membantunya saja. Biarkan aku yang menyiapkan mobil di luar." Melihat keadaan sangat tidak memungkinkan untuk mengulur waktu, Sendi pun setuju dengan usul sang istri. Keadaan Ruth sangat mengkhawatirkan, tidak mungkin jika mereka membuang waktu lebih lama.
"Baiklah." sahutnya kemudian mengangkat tubuh sang adik menuju keluar rumah.
Beberapa saat berlalu, kini seluruh anggota keluarga Nicolas berada di depan ruang IGD, kecuali Mbok Nan dan juga Putri yang tetap berada di rumah. Di dalam, Tarisya tampak menemani sang anak di periksa oleh dokter.
"Ini sudah waktunya untuk menjalankan proses persalinan, Ibu. Pembukaan bahkan sudah lengkap." sang dokter mengatakan kebenaran usai memeriksa kandungan Ruth.
Tangisan dan juga teriakan terus terdengar tanpa henti. Tarisya hanya bisa memberikan dukungan pada sang anak hingga tanpa terasa air matanya pun juga ikut menetes.
Sayang, tidak ada respon dari sang pemilik tubuh selain menangis.
Sementara sang dokter dan timnya sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan persalinan.
Ceklek! Tiba-tiba saja suara pintu terdengar terbuka.
"Bunda, bagaimana dengan Ruth? dia baik-baik saja kan?" Sendi langsung menghampiri Tarisya saat wanita tua itu baru keluar dari pintu.
__ADS_1
Ia menghapus air matanya sekilas dan berkata, "Yah, Nak. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Bunda keluar ingin memberitahukan jika dokter akan melakukan tindakan persalinan normal terlebih dahulu. Semoga saja Ruth bisa melakukannya." ia menatap sang suami yang tak mengatakan apa pun saat ini.
Hanya ada gurat kecemasan di wajahnya.
Tanpa sadar, Dina yang melihat betapa antusiasnya sang suami tentang kondisi sang mantan. Ia hanya bisa menelan lagi dan lagi pil kekecewaan.
"Bahkan kau begitu mencemaskannya lebih dari apa pun, Sen." batin Dina berucap sedih.
"Baiklah. Bunda harus segera kembali ke dalam karena tidak ada yang menemani Ruth. Suaminya tidak ada." tutur Tarisya yang melangkah kembali ke dalam ruangan persalinan saat melihat para dokter dan tenaga kesehatan lainnya memindahkan sang anak ke ruang bersalin.
"Yang kuat, Sya." Tuan Wilson hanya bisa memberikan semangat pada sang istri.
"Iya, Ayah." ucap Tarisya dengan memberikan senyuman penuh arti pada sang suami sampai pada akhirnya ia pun meninggalkan semuanya.
Di sini, di ruangan yang begitu dingin. Hanya berbalut selimut tipis Rut merasakan tubuhnya seperti terpukul sangat kuat.
Berkali-kali ia meneteskan air matanya tak kuasa menahan sakit yang amat luar biasa ini.
__ADS_1