Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 208. Kelahiran Sang Buah Hati


__ADS_3

Keterkejutan semua yang ada di ruangan bersalin tak menghentikan langkah sosok pria yang terus mendekat.


Netra hitam legam miliknya menatap tetesan demi tetesan yang terus mengucur jatuh dari kening dan juga leher wanita tercintanya.


"Da-va..." ucap Ruth lirih.


Seketika air matanya pun menetes. Ini bukanlah yang ia harapkan. Tentu saja hanya sebuah angan-angan yang terpendam, pikirnya.


Ruth menggeleng dalam hati ia berpikir, "Tidak. Ini khayalan bodoh. Kau terlalu berharap tinggi, Ruth." ia merutuki penglihatannya saat ini.


Kehadiran pria yang seperti mimpi membuatnya merasa sangat nyata.


Namun, di detik berikutnya Ruth tersadarkan. "Ruth," panggilan Dava dengan suara yang khas membuat mata cokelat itu membulat.


Sentuhan tangan lembut dan hangat. Aroma tubuh yang begitu menyeruak ke dalam indera pendengarnya. Ini bukanlah mimpi, ini benar-benar nyata.


"Kau kuat sayang. Berjuanglah demi anak-anak kita." Dava mengusap seluruh peluh yang menghujani kening wanita di depannya kini.


Tarisya bahkan tak bisa berkata-kata lagi dan memilih keluar dari ruangan itu di iringi air mata yang banjir di wajahnya.


"Yah, ini aku. Dava. Aku datang untukmu, Ruth." senyuman yang selalu mampu menyejukkan hati wanita bermata cokelat itu kini terlihat lagi.


Semua para tim medis hanya bisa ikut menahan air mata kala melihat betapa harunya kisah dua pasangan yang baru saja bertemu itu.

__ADS_1


Dava memeluk Ruth yang terbaring lemah. Beberapa kali ia mengecup kening sang mantan istri.


"Aku kembali untukmu." ujarnya lagi dan pada saat yang sama terdengarlah teriakan yang memekakkan telinga.


"Aaaaaaa!!"


Semua yang terdiam menyaksikan kisah romantis dan mengharukan di depannya berhambur untuk siap menyambut kelahiran sang penerus generasi.


Hanya dengan satu kali tarikan napas, Ruth mampu melahirkan sang anak dengan sangat mudah.


"Oek oek oek oek!" nyaringnya tangisan sang bayi langsung terdengar hingga keluar ruangan.


"Alhamdulillah!"


"Alhamdulillah Ya Rabb," sujud syukur di ucapkan seluruh keluarga yang menunggu di depan ruang bersalin.


Tarisya pun mengangguk paham. "Iya, Ayah benar." sahutnya terharu.


Meski begitu masih banyak pertanyaan yang ada di benak mereka dengan kepergian Dava dan juga kedatangannya yang secara tiba-tiba.


"Allahuakbar, Allahuakbar x2


Asyhadu allaa illaaha illallaah x2

__ADS_1


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah x2


Hayya ‘alashshalaah x2


Hayya ‘alalfalaah x2....


Terkejut dan juga sangat terharu, kini Ruth terlihat tak menyangka dengan apa yang terjadi di depan matanya saat ini.


Lantunan yang sangat terdengar merdu dan penuh pemahaman ia dengar terucap dari bibir pria yang jelas ia tahu apa agamanya.


Adzan yang di perdengarkan pada indera pendengar bayi itu membuatnya berhenti dari tangisnya seketika.


"Masya Allah...anak kita benar-benar soleh, Ruth. Lihat dia tenang saat mendengarnya." Dava tersenyum dan segera memberikan bayinya pada dokter yang ingin membawa anak mereka ke sebuah ruangan khusus bayi.


Tak ada kata yang mampu Ruth katakan saat ini. Ia hanya terdiam seribu bahasa. Air matanya pun terus menetes.


"Katakan," ucapnya dengan bibir yang sudah bergetar menahan sesak dalam dadanya.


Dava menghentikan senyuman di wajah tampannya lalu ia duduk di sisi ranjang bersalin. Tangannya bergerak memeluk tubuh wanita yang selalu membuatnya merindu.


"Maaf." Dava mengatakannya usai melepas pelukan itu. Ia tertunduk penuh rasa bersalah karena tidak mengatakan apa pun sebelum pergi dari rumah.


Seketika, isakan tangis Ruth pun menjadi kala mengingat perjuangannya yang begitu menyakitkan selama beberapa waktu sebelum kehadiran pria di hadapannya kini. Bahkan pada detik-detik terakhirnya sekali pun.

__ADS_1


"Maaf, permisi Bapak. Kami akan membersihkan sisa persalinannya. Setelah itu Ibu bisa di pindahkan ke ruang rawat." salah seorang bidan tampak meminta waktu sejenak pada Dava. Dan itu membuat perbincangan menyedihkan mantan suami istri itu terhenti begitu saja.


"Oh iya, silahkan." ucap Dava yang memilih untuk meninggalkan Ruth terlebih dahulu.


__ADS_2