Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 125. Keadaan Mengkhawatirkan


__ADS_3

Suara guyuran air di kedua tubuh polos itu pun terhenti setelah sekian banyaknya tetesan air tumpah seiring dengan suara ******* yang menghilang seketika.


Dava mengejankan tubuhnya kala menikmati sisa-sisa hasil pergulatannya dengan sang istri. Sementara Ruth sudah tampak berpegangan pada dinding kamar mandi.


Matanya terpejam antara merasakan kenikmatan di tambah juga kepala yang terasa begitu pening seketika.


"Dav," panggilnya lirih.


Tubuhnya terasa dingin dan lemas.


Dava yang masih terasa terbang di langit ke tujuh langsung sadar seketika. "Ada apa? Hei Ruth, kenapa?" Ia mendadak panik melihat ekspresi sang istri yang tak lagi seperti tadi.


Ruth memegangi kepalanya dan terpejam. "Kepalaku sakit, Dav. Pusing banget." keluh Ruth yang tak kuasa lagi untuk tetap berdiri.


Ia menjatuhkan tubuhnya pada dinding dan terjongkok begitu saja. Dava sangat ketakukan, dengan gerakan cepat tangannya pun meraih handuk yang tergantung di dalam kamar mandi.


"Sayang, bertahanlah. Tunggu sebentar." Ia berucap sembari menggendong tubuh polos yang sudah ia tutup dengan piyama mandi.


Dava berlari cepat menuju tempat tidur. Ia letakkan tubuh Ruth pada kasur dan kemudian menutupinya dengan selimut.


"Astaga...apa yang ku lakukan?" Dava mondar mandir panik.


"Baju, iya pakai baju." Satu pasang bajunya dan satu pasang baju sang istri.


"Ah...aku tidak bisa memakaikan mu, Sayang. Tunggu sebentar. Bertahanlah, aku akan memanggil Mbok Nan sebentar."


Dava berlari tergesa-gesa. Ia mencari sosok wanita tua renta itu. Berlari terus ke dapur.


"Dimana  Mbok Nan? Apa di kamar Putri?" gumamnya kembali berlari lagi dengan wajah yang sangat panik.


"Mbok!" panggilnya tak bisa lagi sabaran.


"Mbok Nan!" panggilnya lagi.


Di sini, Mbok Nan yang tengah memakaikan pakaian Putri segera berdiam saat mendengar seseorang berteriak-teriak memanggilnya.

__ADS_1


"Kayak suara Ayah, Mbok." Putri ikut mencermati suara yang ia dengar dari luar kamarnya.


"Iya yah, sebentar. Mbok lihat dulu yah?" Mbok Nan melangkah keluar kamar.


"Mbok,"


"Iya, Tuan Dava. Ada apa? Kok wajahnya panik begitu? Bukannya barusan ngadon yah? Eh." Segera saja Mbok Nan membungkam mulutnya yang asal bersuara itu.


"Em...maaf, Tuan."


Dava acuh dan tidak menggubris perkataan Mbok Nan. Ada yang jauh lebih penting saat ini dari pada menjelaskan.


"Mbok, tolong ke kamar ikut saya sekarang. Ayo, Mbok." Dava berlari menggandeng tangan Mbok Nan menuju kamar dimana sang istri berada saat ini.


"Eh...ya ampun...kok rasanya jadi seperti di film india sih, Tuan Dava ini. Lari sambil gandengan tangan gini. Untung suami Non Ruth. Kalo enggak hehehe naksir sedikit boleh mungkin."


Di sela-sela keadaan genting, Mbok Nan yang terus berandai-andai tidak tahu apa yang membuat Dava si pria tampan itu sampai harus menarik tangannya begitu erat.


Matanya pun membelalak saat sampai di dalam kamar. "Ya ampun...Non Ruth. Tuan Dava, ada apa ini, Tuan?" tanyanya sangat panik dan berlari mendekati Ruth yang terbaring lemas.


Di sini Ruth hanya mengaduh kesakitan, kepalanya begitu pusing berputar-putar hingga pandangannya tak bisa melihat dengan jelas.


"Pusing...kepalaku sakitt!" rintihnya menggeliat terus menerus di atas tempat tidur.


"Non, yang kuat yah. Non Ruth dengan kata Mbok. Ayo Non istighfar..."


"Aduh Non Ruth kan bukan islam lagi. Ya Allah kok Mbok Nan suruh istighfar sih?" batin Mbok Nan yang keceplosan mengatakannya.


Kini ia pun memilih untuk bungkam. Sementara kedua tangannya mulai bergerak memakai kan Ruth baju yang sudah Dava siapkan.


"Mamah!" Tiba-tiba saja Putri datang menyusul Mbok Nan.


Ia menangis saat mendapati Ruth yang berteriak kesakitan dan menangis di tempat tidur.


"Mbok, Mamah kenapa, Mbok?" tanyanya dengan air mata yang sudah banjir berjatuhan di kedua pipi gendutnya.

__ADS_1


"Putri, jangan nangis sayang. Mbok jadi makin bingung ini. Yah? Mamah Putri nggak papa ini dedek bayinya cuman lagi rewel jadi Mamah juga ikutan nangis." bujuk Mbok Nan tetap fokus memakaikan pakaian untuk Ruth.


"Mamah..." Suara Putri yang terus saja menangis sambil mendekat ke arah Ruth lalu ia memeluknya,menciumnya dan mengusap air mata di kedua pipi sang Mamah.


"Kasihan sekali kamu, Putri. Kasihan Mbok lihatnya, Nak. Non Ruth bukan Ibu kandungmu...tapi kamu sangat sayang padanya." Mbok Nan yang tampak sibuk masih bisa teralihkan perhatiannya pada Putri saat melihat adegan menyayat hati itu.


Ruth bahkan tidak bisa mendengarkan tangisan sang anak. Kepalanya terasa sangat pusing. Entah apa yang menjadi penyebabnya kali ini.


"Mbok, sudah selesai?" tanya Dava yang barusan saja masuk ke dalam kamar itu.


'Iya, Tuan. Ini sudah selesai. Ayo Tuan." Mbok Nan pun segera membantu Dava untuk menggendong Ruth menuju mobil yang sudah Dava siapkan sebelumnya.


Sementara Putri yang menangis kini mengikuti langkah mereka keluar rumah dengan suara tangisan yang semakin histeris.


Rasanya baru saja ia merasakan kebahagiaan bersama Ruth, kini tangisannya mulai terlihat lagi dengan segala kekhawatiran di hatinya.


Jika sampai terjadi sesuatu dengan Ruth, siapa lagi yang akan mau menyayanginya dengan tulus. Ibu kandungnya pun sampai saat ini entah kemana perginya.


"Mamah, jangan tinggalin Putli, Mah." isaknya sembari berjalan dan ikut masuk ke dalam mobil.


Mbok Nan sudah memangku kepala Ruth di dalam mobil bagian belakang. Sedangkan Dava sudah fokus menyetir mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.


Wajahnya sangat panik. Pasalnya baru saja mereka melakukan pergulatan panas di kamar mandi.


"Sayang, bertahanlah. Kita akan segera sampai di rumah sakit." tutur Dava melirik ke arah spion mobilnya di bagian depatn.


"Sakit, Dav! Sakit. Kepalaku pusing sekali." Ruth terus menangis.


"Mamah kuat yah? Putli telus doain Mamah sepanjang jalan. Mamah akan sampai lumah sakit bental lagi kok." Putri tersenyum mengusap peluh di kening Ruth meski air matanya sendiri begitu deras menetes. Seolah ia sangat baik-baik saja saat ini, yang terpenting adalah keadaan wanita yang sangat ia cintai.


"Putri, kamu kenapa ikut, Sayang? Mamah baik-baik saja. Di rumah sakit tidak baik untuk anak sekecil kamu." Ruth mengerang sakit setelah mengatakan perhatiannya pada sang anak.


"Ssss Ah sakiiiit!" teriaknya begitu kuat.


"Non, Ruth. Kita sebentar lagi akan sampai." tutur Mbok Nan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Tuan, hati-hati nyetirnya, Tuan."


__ADS_2