
Malam yang kelam, kini tangisan, hingga teriakan seorang Dina sama sekali tidak menyentuh sedikit pun hati sang suami yang benar-benar menyala bagai kobaran api.
Sendi menatap penuh emosi, "Ayo! Jangan pernah memohon denganku, Dina. Kamu tahu itu tidak akan berpengaruh sedikit pun padaku." ucapnya dengan geram.
Dina hanya mampu menunduk meratapi nasibnya dan juga nasib sang anak yang belum saja genap berusia satu bulan di dalam rahimnya.
Keduanya kini sudah keluar dari dalam kamar, Sendi terus menyeret sang istri keluar menuju pintu utama rumah miliknya. Beberapa pelayan hanya menunduk tanpa berani bersuara kali ini.
Pura-pura buta dan tuli, atau hilang mata dan telinga. Seperti itulah kata ancaman yang tepat jika mereka berani bersuara dalam rumah tempat di mana mereka mencari rezeki selama ini.
Sendi yang menarik paksa tangan sang istri terhenti kala mendengar suara yang mampu menghentikan aksinya saat itu juga.
"Sendi!" Suara teriakan yang menggema di ruangan itu terdengar membuyarkan suasana yang begitu tegang kala itu.
"Ayah," ucapnya lirih sembari manik matanya menatap ke arah atas tangga rumah megah tersebut.
Dari atas, Tuan Deni berjalan perlahan di ikuti dengan sang istri, Wuri Prameswari.
"Sendi, ada apa ini Nak?" tanya sang Ibu tampak mengerutkan keningnya dan melangkah mendahului sang suami.
Ia berhenti melangkah tepat di depan sang anak dan juga menantunya. Kedua tangannya menggapai bahu sang menantu lalu berkata sembari memeluk, "Dina, ada apa Sayang? apa masalah kalian sampai harus ribut seperti ini?" tanyanya.
Dina masih belum memberikan jawaban. Hanya isak tangis yang terus terdengar ia tahan sekuat tenaga. "Ibu, Ayah, sampai kapan pun aku tidak akan mau menerima siapa pun wanita mengandung anakku. Apa pun caranya, aku harus melenyapkan anak itu, Bu!"
Sendi menunjuk perut rata milik sang istri yang kini di peluk sang Ibu.
Sontak mendengar perkataan Sendi, Wuri dan juga Deni benar-benar terkejut mendengarnya. Wajah mereka terlihat murka dan juga menatap tajam pada Sendi.
Plak!
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Sendi. Apa kamu pikir ini cucu hanya angin yang bisa kamu lenyapkan kapan saja? hah! Dimana hati kamu, Sendi? Ibu tidak pernah mengajarkan hal segila itu denganmu, Nak?" Wuri benar-benar tidak menyangka anaknya bisa bersikap menyakitkan seperti itu pada istrinya sendiri.
Selama ini mereka kenal betul bagaimana sang anak selalu bersikap hangat dengan Ruth. Yah, hanya dengan Ruth saja. Namun, apa sebegitu berubahnya kah Sendi jika berubah wanita?
"Cih! Bahkan kalian mengajarkanku hal yang jauh lebih busuk dari hal yang ku perbuat bukan? Jangan kalian pikir aku tidak tahu ini semua rencana kalian? Semua bukti sudah ku berikan dengan Ayah. Dan Ibu, aku benar-benar tidak menyangka jika kalian semua yang merencanakan ini."
Setelah berucap, Sendi memilih meninggalkan seluruh penghuni rumah megah itu dan melajukan mobilnya tanpa arah. Kakinya pun terus menginjak pedal gas hingga lampu-lampu yang menghias jalanan tampak menjadi bayangan cahaya saja.
"Mengapa semuanya jadi seperti ini, Ruth? Dari awal aku bahkan begitu mencintaimu dengan tulus. Mengapa semuanya terasa hampa setelah kita berpisah? Tidak adakah kesempatan lagi untukku kali ini?" Sendi benar-benar putus asa. Cintanya yang sangat tulus pada sang mantan tak pernah terbayangkan akan menjadi hancur seperti ini.
Rasa di hati yang sangat sakit kali ini benar-benar menyesakkan dada pria tampan itu. Sejenak bayangan indahnya dengan sang kekasih terputar di benaknya.
Setiap bulan, senyuman indah selalu saja terlihat kala keduanya merayakan hari anniversarry bulanan mereka. Bahkan tiap akhir pekan, keduanya seringkali bepergian untuk sekedar piknik dan lain sebagainya.
"Janji? kamu nggak akan pernah ninggalin aku Sayang?"
Senyuman teduh dan anggukan pelan namun jelas terlihat meyakinkan terbit di wajah Sendi Sandoyo.
"Itu janjiku denganmu, Sayang. Kau cukup menjadi wanitaku yang baik. Dan aku selebihnya yang akan mengurus semuanya." lanjutnya kemudian.
Ruth tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa yakin dengan sang kekasih jika mereka akan bersama kedepannya tanpa keraguan lagi.
Dan nyatanya kini semua terasa sia-sia. Tak ada sedikit pun yang tercapai dari impian mereka. Bahkan perpisahan yang mereka dapatkan jauh dari kata baik-baik saja.
Kepercayaan. Satu kunci hubungan yang sangat penting menjadi dasar dalam mempertahankan sebuah hubungan.
Tanpa terasa setetes air mata tampak jatuh dengan sendirinya dari kelopak mata Sendi. Air mata penyesalan yang kini sama sekali tidak bisa mengembalikan apa pun lagi padanya.
Mata yang penuh penyesalan kini mendadak tampak membulat kala mengingat satu nama 'Ruth'.
__ADS_1
"Ruth, yah aku ingin bertemu denganmu malam ini juga. Semoga dia belum tidur." Mobil yang berjalan perlahan kini kembali melaju dan berbalik haluan.
***
Di sisi lain, tampak sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumah yang tidak begitu luas. Gerakan tubuh yang terus gelisah di dalam mobil tak mampu membuat tubuh seorang Dava mengalah untuk beranjak dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah sang istri.
Netra indah miliknya menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hem..,sudah jam satu malam. Masa iya ngetuk pintu? terus mau bilang apa? mau tidur di kamar kamu gitu? ahhh tidak! Apa bilang gini aja? Aku ngantuk, di mobil sempit. Hah jangan konyol Dava. Itu memalukan." umpatnya terus berkelahi dengan dirinya sendiri.
Mau di taruh dimana wajahnya pikirnya jika harus kembali masuk ke dalam rumah sang istri dan masuk ke kamar untuk ikut tidur bersama Ruth.
"Ayolah berpikir, tubuhku sudah lelah ini."
"Em, permisi. Aku mau istirahat."
"Tidak! itu sangat kaku."
"Ruth, aku boleh tidur di kamar ini?"
"Yang benar saja aku bertanya? jelas boleh. Tapi apa dia akan menjawab?"
"Ehem, tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu."
"Gila! Ini semua bukan yang tepat. Lalu apa yang harus ku katakan?"
"Apa sebaiknya aku masuk diam-diam saja setelah Mbok Nan membukakan pintu?" Senyuman ceria pun terbit di wajah tampan pria tersebut.
"Yah, good idea."
__ADS_1
Dava membuka pintu mobil lalu turun, kemudian kembali mentupnya lagi. Satu langkah berikutnya tiba-tiba terhenti kala debaran jantungnya berdebar begitu kencang.
Ia terdiam dan memegang dadanya sejenak. "Apa ini tandanya aku jantungan? Tidak. Ini benar seperti yang kata orang debaran jantung kalau gerogi atau jatuh cinta." tuturnya tanpa sadar tersenyum setelah mengatakan hal itu dalam hatinya.