
Di dalam ruangan rawat yang berbeda kini terjadi kerusuhan yang terdengar hingga membuat seluruh penghuni rumah sakit tersebut merasa terganggu.
"Siapa yang membawaku kemari? Lepas!!"
"Tidak. Sendi, aku mohon jangan seperti ini..." Dina menangis melihat suaminya melempari segala isi dalam ruangan tempat ia di rawat. Di sini, Dina memegang erat kedua kaki sang suami saat ia hampir saja melihat Sendi keluar dari ruangan rawatnya.
Meski baru saja sadar, Sendi sama sekali tidak ingin berada di rumah sakit. Tubuh lemasnya terus saja di paksa untuk pergi.
Terlebih ia di rawat dengan istri yang sudah mengotori tubuhnya dengan pria lain. Sedikit pun Sendi tidak akan rela tubuh kotor Dina menyentuhnya.
"Lepas!!" pekiknya menghentakkan kakinya agar sang istri terhempas.
Dina hanya bisa menangis meratapi kepergian sang suami saat ini. Tubuhnya yang tersungkur tak mampu mengejar langkah suaminya.
Deraian air mata perlahan pun mengering berubah menjadi tatapan penuh kebencian. Di usapnya mata sembab itu.
Seringaian licik terbit begitu saja. "Lihatlah Sendi, aku tidak akan membiarkan air mataku terbuang sia-sia begitu saja." lirihnya kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut.
Di sudut rumah sakit yang lain, Sendi berjalan tertatih-tatih memegangi kepalanya yang terasa masih berdenyut keras.
__ADS_1
Pandangan matanya terlihat tertuju pada dua sosok wanita yang duduk di depan ruangan rawat pasien.
"Putri? Mbok Nan? Ada apa mereka di rumah sakit ini?" lirihnya mengusap kedua matanya yang terasa tidak terlalu jelas.
Sendi kembali menyipitkan matanya agar menajamkan pandangan. Benar. Penglihatannya tidak salah sama sekali.
"Ruth...ini pasti karena Ruth mereka ada di sini." Sendi berubah menjadi sangat cemas.
Langkah yang berat terus ia paksakan untuk mendekat pada sosok Mbok Nan dan Putri yang saling berpelukan di depan ruangan rawat tersebut.
"Mbok, apa yang terjadi pada Ruth?" Suara Sendi yang serak dan berat terdengar mengejutkan kedua wanita yang tengah tertawa cekikikan di depan ruangan tersebut.
"Tuan Sendi..." Mbok Nan langsung menatapnya penuh arti.
Jika dulu ia begitu tidak menyukai hubungan Ruth dan Sendi, kini berubah. Sendi adalah saudara dari Ruth dan anan dari majikannya dahulu. Tentu ia harus menyayangi Sendi seperti ia menyayangi Ruth juga.
"Dimana, Ruth?" Sendi masih acuh dan bertanya seperlunya.
Mbok Nan yang terdiam beberapa saat kala melihat wajah tampan itu kini sudah tumbuh sangat besar langsung tersadar kembali dari lamunannya.
__ADS_1
"Em...Non Ruth di dalam Tuan masih istirahat..." Sendi langsung membuka pintu ruangan rawat tanpa mau menunggu penjelasan lebih lengkap dari Mbok Nan.
Ia sangat mengkhawatirkan sang mantan yang masih terus berada di dalam hatinya tanpa tergeser sedikit pun.
Ceklek!
Deg!
Sendi terdiam melihat suasana di dalam ruangan kala pintu ruangan rawat Ruth terbuka. Di sana Ruth tengah merasakan dan menikmati hangatnya pelukan dari pria yang saat ini sudah menjadi suaminya. Sendi merasakan dadanya seperti terhempas batu yang berujung sangat tajam.
Sakit. Ia sangat sakit melihat sang mantan begitu bahagia bersama pria lain dan bukan dengan dirinya. Ingin marah, namun ia tak memiliki hak apa pun untuk melarangnya. Tangannya begitu gemetaran mengepal ingin melayangkan tinjuan pada Dava.
"Ruth!" panggilnya dengan rahang yang bergemetaran.
"Kak Berson," Ruth melepas pelukan itu dengan sangat cepat saat melihat sang kakak tiba-tiba menghampirinya.
Dava membalikkan tubuhnya melihat siapa pria yang datang. Dan ternyata adalah mantan kekasih sang istri sekaligus kakak iparnya.
__ADS_1
Jika dulu ia bisa mengusir seenaknya saja, kali ini berbeda. Ia harus menghormati sosok Sendi yang akan menjadi kakaknya juga.