Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 124. Peraduan Kenikmatan


__ADS_3

Suasana yang begitu menyejukkan mata sore itu seakan mampu menghapus segala penat yang Dava bawa dari tempat kerjanya.


Tubuh tegap itu tertunduk saat ingin mencium dua wajah yang sangat menggemaskan saat memejamkan mata mereka masing-masing.


Di ciumnya bergantian wajah Ruth dan Putri di depannya. Dava tersenyum kemudian saat mendengar lenguhan lembut dari bibir sang istri.


"Hemm..." Ruth menggeliat pelan. Perlahan kedua mata cokelatnya terbuka dengan sedikit demi sedikit.


"Dav," ia begitu kaget melihat suami tampannya sudah berada di depannya.


Dava tersenyum lembut dan meletakkan jari telunjuknya di bibir merah itu. "Sssst."


"Jangan ribut. Putri nanti bangun." ucapnya dengan suara yang begitu kecil nyaris tak terdengar.


Ruth perlahan meletakkan tubuh Putri di tempat tidurnya. "Kapan pulang? Baru saja? Maafkan aku ketiduran, Sayang." Ruth pun bangkit dari tempat pembaringan.


Ia memeluk erat tubuh Dava yang berdiri di depannya kini. Ada perasaan bahagia yang luar biasa ia rasakan saat melihat sosok pria saat baru membuka matanya.

__ADS_1


Ruth memeluk manja tubuh tegap Dava.


Begitu pun Dava, ia membalas pelukan sang istri dengan tersenyum lembut.


"Ayo temani aku mandi." bisik Dava di telinga sang istri.


"Hehehe...kau ini. Mandi sendiri sana. Aku masih harus ke bawah bantu Mbok Nan memasak, Dav." Ruth yang ingin berlalu pergi di cegah oleh genggaman tangan sang suami.


"Mbok Nan sudah selesai memasak di bawah. Lagi pula kau tidak lihat ini sudah jam berapa? Ayolah temani suamimu yang tampan ini. Hem?" Dava menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Dav, ah...geli." Ruth terkekeh karena merasa sangat geli saat sang suami menjahilinya.


Sore yang menyenangkan memang bagi mereka. Tak perduli dengan sosok bocah kecil yang kini terduduk di atas kasur dengan pandangan mata yang berkerut.


"Mamah sama Ayah kelahi yah? Tapi kok di kamal mandi cih?" tuturnya bergumam dengan wajah masih mengantuknya.


Pintu kamar yang terbuka membuatnya melihat sosok wanita yang baru saja lewat di depan kamar dengan sebuah pel lantai.

__ADS_1


"Mbok Nan," Putri bergegas turun dari tempat tidur lalu mendekati wanita yang asik bersenandung sembari mengepel lantai.


"Mbok,"


"Eh, Putri. Ada apa? mau mandi? Ayo Mbok Nan mandikan." ajaknya dengan segera menghentikan aktifitasnya dan menggandeng tangan mungil itu menuju kamarnya sendiri.


Di sela-sela langkah mereka, "Mbok, Ayah sama Mamah belantem di kamal mandi. Putli kan takut, Mbok."


"Hah berantem? Di kamar mandi?" tanya Mbok Nan tidak percaya dengan indera pendengarannya. Putri pun mengangguk dengan cepat.


"Iya, Mbok." jawabnya dengan mantap.


"Oh, itu bukan berantem. Sudah Putri belum waktunya tahu, sekarang ayo Mbok Nan mandiin. Bau acem ini keteknya." Mbok Nan menunjuk ketiak bocah itu dengan wajah tertawanya.


Keduanya pun berlalu pergi dari tempat tersebut meninggalkan dua pasangan yang berada di dalam kamar mandi tengah beradu kemesraan.


Tubuh polos keduanya berguyur air di bawah shower yang terasa begitu hangat menyentuh setiap tubuh mereka.

__ADS_1


Dava yang entah sejak kapan sudah memulai permainan itu tampak begitu menikmati dengan setiap kenikmatan yang di berikan sang istri. Keduanya seakan lupa dengan kondisi mereka masing-masing.


Lelah tak lagi Dava rasakan kini, matanya terpejam menikmati setiap hentakan tubuhnya yang menghantam tubuh Ruth. Semua beban di pikirannya pun hanyut berjatuhan dengan derasnya air shower.


__ADS_2