Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 74. Mengetahui Ruth Yang Membayarkan


__ADS_3

Langkah demi langkah melewati lorong rumah sakit yang panjang, sampailah Sendi pada bagian administrasi. Langkahnya begitu terburu-buru sampai terdengar napas yang sangat memburu.


"Silahkan, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita dengan wajah anggun nan ramahnya.


Sendi yang sama sekali tidak tertarik akan hal itu bersuara dengan tergesa-gesa. "Mba, tolong ini...ini kartu saya. Tolong segera lakukan pembayaran untuk pasien yang bernama Dina Salhuteru." tutur Sendi.


Wajah wanita itu yang sesaat tersenyum dan melihat tangannya yang mengecek di daftar pasien tampak mengernyit. Dengan tenang ia kembali menatap Sendi. "Maaf, Tuan. Pasien atas nama Dina Salhuteru sudah melakukan pelunasan hingga biaya untuk operasinya juga." terangnya menunjukkan bukti pembayaran yang baru saja terjadi sebelum kedatangannya.


"D Group? Perusahaan Ruth?" lirihnya melihat nama yang tertera sebagai pembayaran tagihan sang istri.


Kini Sendi berlari mendatangi sang Ibu tanpa mengatakan apa pun pada wanita tadi. Sepanjang langkahnya ia terus memikirkan apa tujuan sang mantan melakukan hal itu. "Ruth, apa yang kau lakukan? Apa dengan cara seperti ini kau memintaku pergi perlahan dari kehidupanmu dan memulai semuanya dengan Dina? Tidak. Tidak akan, Ruth. Aku tidak akan semudah itu meninggalkanmu dan berpindah kelain hati. Hatiku benar-benar sakit kau perlakukan seperti ini, Ruth." Sendi terus melangkah hingga tak begitu fokus pada arah jalan di depannya.


Brak!!

__ADS_1


Suara benda terjatuh membuatnya sangat kaget.


"Maaf, maaf, Dokter." Sendi gelagapan dan segera memunguti banyaknya tumpukan kertas di lantai.


"Tidak apa-apa." jawab sang dokter dengan wajah tersenyum namun tetap membantu Sendi untuk memungut barang-barangnya.


Setelah beberapa saat selesai, kini Sendi mendekat pada sang Ibu yang sudah terduduk cemas menunggu kepulangannya.


Sendi bahkan sama sekali belum mengatakan apapun, hatinya benar-benar layu terlihat tidak ada sama sekali semangat di kedua matanya.


"Bu, maaf. Bukan Sendi yang membayarnya..." Wuri tersenyum melihat sang anak yang masih berekspresi datar di depannya saat ini.


Dilepasnya pelukannya dan beralin menggenggam kedua bahu sang anak. "Ibu sangat bangga memiliki anak sepertimu, Sen. Ibu sayang bangga." ujar Wuri tersenyum lalu menggenggam jemari anaknya.

__ADS_1


"Ayo, temani Ibu ke depan ruang operasi istrimu. Kasihan Dina, Sen." Sendi kini hanya mengikuti langkah sang Ibu.


Namun, di tengah-tengah perjalanan ia menghentikan langkah itu. Wuri menatap sang anak yang berada di belakangnya. "Ada apa, Sen?" tanyanya penasaran.


"Bu, Ruth telah melunasi semua tagihan Dina. Sendi keduluan dari dia tadi." terangnya dengan wajah yang begitu tak bisa di artikan lagi.


Wuri tampak membulatkan matanya, bibirnya tercengang hingga wajahnya sangat syok. Ia tak bisa lagi mengatakan apa pun saat ini. Semua bagaikan tamparan keras yang menghantam wajahnya.


"Ruth?" tanyanya lirih dan memastikan apa pendengarannya tidak salah kali ini.


Sendi melihat wajah sang Ibu yang sudah meneteskan air mata. "Sendi, Ibu malu. Ibu sangat malu dengan Ruth, Sendi. Mengapa Allah menghukum Ibu seperti ini, Nak?" tangisannya pun pecah seketika.


Ia jatuh ke dalam pelukan sang anak hingga tak perduli semua orang yang berlalu lalang memperhatikan keduanya yang berpelukan di tengah lorong rumah sakit itu.

__ADS_1


__ADS_2