Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 200. Sarapan Pagi Yang Lengkap


__ADS_3

Setelah semuanya terlewati, hari ini adalah hari dimana semuanya akan berkumpul kembali di kediaman Nicolas. Pagi yang sejuk seakan ikut menyambut kehangatan di kediaman tersebut.


Semua sudah tampak segar usai mandi dan berkumpul di ruang keluarga.


"Nyonya, Tuan. Sarapannya sudah siap." Mbok Nan yang baru saja berjalan dari arah dapur segera menginformasikan pada sang majikan untuk segera sarapan.


Ini adalah hari minggu, untuk pertama kalinya mereka semua libur dengan kegiatan jalan pagi di sekeliling rumah. Begitu pun sosok bocah kecil yang sedari tadi tersenyum senang.


"Iya, Mbok. Sudah nanti kita sarapannya. Sekarang kita duduk berkumpul di sini dulu." Tarisya memanggil Mbok Nan untuk ikut serta duduk di sana.


Sendi, Dina, Tuan Wilson serta istri, Mbok Nan, dan juga Sarah bersama Wuri sedang duduk saling diam. Putri yang posisinya duduk di pangkuan sang nenek hanya fokus pada boneka barbie yang ia pegangi rambut panjangnya.


"Assalamualaikum..." suara sosok pria yang terdengar di ambang pintu seketika membuat semuanya menoleh ke sumber suara.


Disana tampak Dava yang menuntun Ruth berjalan dan semakin memasuki rumah tersebut.


Inilah tamu yang sudah di nanti-nantikan kedatangannya sedari tadi.


"Waalaikumsalam..." jawab semuanya dengan serentak terkecuali Putri yang langsung berteriak heboh.

__ADS_1


"Mamah!" Ia berlari dengan cepat sembari merentangkan kedua tangannya lalu menghambur memeluk tubuh Ruth yang sudah segar kembali.


Ada yang berbeda dari senyuman wanita itu saat ini. Ia tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Tentu saja, selama berada di rumah sakit, seakan penderitaannya hilang kala selalu mendapatkan perhatian dan seluruh waktu dari Dava ia berikan padanya.


"Sayang, jangan terlalu lama. Mamah harus segera duduk istirahat yah?" sahut Dava yang sejak tad berdiri di samping Ruth.


"Iya, Ayah. Maafkan Putri yah, Mah? Habisnya Putri kangen banget sama Ayah dan juga Mamah." tuturnya seraya menggenggam tangan sang mamah.


Ruth menatap genggaman tangan mungil itu. Lalu ia mengikuti pergerakan langkah Putri yang sengaja menuntunnya ke arah sofa dimana semua anggota keluarga berada.


Dava yang berada di sampingnya pun ikut melangkah di belakang Ruth.


"Selamat datang kembali sayang di rumah ini." Tarisya berdiri dan semuanya pun ikut berdiri. Wajah mereka tersenyum begitu lebar melihat Ruth sudah sangat baik.


Kedatangannya kembali di rumah begitu di sambut sangat antusias oleh para keluarga.


"Sekarang kita baru boleh sarapan. Semuanya sudah lengkap." Tarisya melepaskan pelukannya pada tubuh Ruth dan beralih mendorong kursi roda sang suami untuk ikut makan bersama.


"Bagaimana keadaanmu, Shandy?" Tuan Wilson pun bertanya dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semuanya baik Ayah." jawab Ruth mengembangkan senyumannya ke arah sang ayah yang sudah duduk di samping kursi sang bunda.


Meski ia belum terlalu kuat untuk berjalan tetapi semuanya sudah jauh lebih baik saat ia berbicara bisa dengan lancar.


"Syukurlah, Ayah sudah bisa lancar berbicaranya. Shandy sangat senang mendengarnya, Ayah."   Semuanya ikut tersenyum mendengar perbincangan anak dan ayah itu.


Tidak ada yang berubah memang. Semuanya akan tetap baik-baik saja seperti yang Tarisya dan sang suami harapkan.


Suasana pun kembali hening ketika mereka menikmati hidangan sarapan yang di masak oleh Mbok Nan tentunya di bantu oleh Dina. Menantu satu-satunya di rumah itu.


"Kita masak subuh-subuh loh ini, Mah." celetuk bocah tengil yang tentu saja adalah Putri.


"Oh iya? Putri ikut masak?" Ruth bertanya dengan wajah tertawa.


Siapa di rumah itu yang tidak tahu segala tingkah tengil si bocah menggemaskan itu.


Putri mengangguk cepat dan tersenyum lalu ia menjawab lagi, "Bagaimana, Mah? Enak kan? Semuanya spesial buat Mamah dan dedek bayi di dalam perut Mamah loh. Putri sampai ngantuk jam segini gara-gara bangun cepet. Tapi Putri senang banget Mamah sudah pulang lagi." ia terlihat akting menguap.


Sontak semua yang ada di meja makan tertawa terbahak-bahak seraya menggelengkan kepala mereka.

__ADS_1


"Maafkan Mamah yah, Nak? Mamah sudah bikin Putri mengantuk." ia memasang wajah memelas.


"No, Mah. It's okey. Because, I love you and i miss you." kilahnya pandai bersilat lidah.


__ADS_2