
Masih berlanjut di tempat Deni, ayah dari Dina di tahan hingga saat ini.
"Ayah salah. Dina dan Sendi sudah berpisah sebelumnya. Dina sangat malu menyadari betapa egoisnya keluarga kita selama ini. Apa Ayah tidak pernah berpikir bagaimana jika yang mereka alami, justru terjadi pada keluarga kita?" Dina menangis menggelengkan kepalanya.
Mengapa sesulit ini berbicara dengan ayahnya. "Sekarang Ayah berpikirlah dengan baik. Akui segala kesalahan Ayah, dan Dina mohon dengan sangat pada Ayah. Tolong, Ayah berhenti berpikiran memaksakan kehendak Ayah lagi."
"Ayah sama sekali tidak memaksakan apapun, Dina. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan Sendi kedepannya."
Mendengar penuturan pria itu, tentu saja membuat telinga siapapun yang mendengarnya akan sakit.
"Cukup. Sen, ayo kita pulang. Kepalaku mau pecah lama-lama di sini." Dina beranjak dari tempat duduknya dengan mata yang sudah sangat menyipit akibat terlalu lama menangis. Bahkan ia tak ingin lagi menatap wajah pria di depannya saat ini.
"Ini makanan untuk Ayah. Kami pulang dulu. Semoga apa yang Dina katakan akan bisa masuk ke dalam pikiran Ayah secepatnya."
__ADS_1
Deni menggelengkan kepala tak percaya. Satu-satunya orang yang masih menganggapnya ada hanyalah Dina. Jika sampai Dina pun murka padanya, siapa lagi yang akan mau datang menjenguknya ke tempat terkutuk itu.
"Dina, dengarkan Ayah dulu. Dina!" Ia berteriak ingin mencegah kepergian sang anak. Namun polisi yang bertugas menjaga mereka sudah lebih dulu mencegahnya.
"Maaf, Pak. Silahkan kembali ke sel. Ayo."
Di sini, di dalam mobil Dina menangis terisak saat merasakan malu yang luar biasa pada sang suami. Kunjungannya hari ini sangat ia harapkan bisa membuat sang Ayah mengakui kesalahan dan meminta maaf pada suaminya.
Itulah tujuan Dina membawa Sendi bertemu sang ayah. Sayang, harapannya jauh dari yang ia duga.
"Maaf," tutur Dina menggenggam tangan sang suami yang ingin menggenggam rem tangan mobil miliknya.
Sendi menoleh menatapnya. Ia melihat gurat kekecewaan yang begitu mendalam di wajah sang istri.
__ADS_1
"It's okey. Din. Tidak masalah." ungkapnya kemudian segera menyalakan mesin mobil dan pergi dari tempat itu.
"Aku malu padamu. Aku berharap hari ini Ayah akan meminta maaf padamu dan kita bisa memulai semuanya dengan baik." Dina menatap wajah tegas yang masih fokus pada jalanan di depanya.
"Sudahlah. Aku tidak inginĀ memikirkan hal itu lagi. Mengertilah, Dina." tutur Sendi dengan tatapan yang begitu sulit di artikan.
Semakin ia mengingat hal itu, tentu saja semakin besar rasa tidak terimanya jika ia bukanlah anak dari Deni, dan itu tandanya ia adalah kakak dari wanita yang begitu ia cintai. Ruth.
Perjalanan yang kini menjadi sunyi senyap lantas membuat mata sembab Dina tampak terasa lelah. Laju mobil yang seakan mengayun tubuhnya kini berhasil membawanya ke alam mimpi. Sungguh kasihan, wanita yang di besarkan dalam lingkungan hidup dengan cara yang salah kini harus bisa menerima keadaan dan memperbaiki semuanya dalam keadaan yang sangat pahit.
Dikala kebenaran tentang takdir yang pahit harus ia jalani dengan sekuat hati, kini ia harus berjuang menata diri dalam keadaan keluarga yang hancur lebur.
Namun Tuhan yang begitu baik memberikannya semangat hidup baru. Mengirimkan sosok pria yang tiba-tiba kembali ke dalam kehidupannya. Sungguh, Dina sangat mensyukuri akan hadiah yang Tuhan berikan untuknya.
__ADS_1
Kehidupan memang selalu seperti itu. Saat sosok baru akan datang mewarnai kehidupanmu, tentu sosok yang lama akan menghilang dengan membawa luka. Itu sebabnya akan ada hujan setelah pelangi. Semua yang hilang akan ada timbal baliknya dan jauh lebih indah.