Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 127. Di rumah Sakit Part 2


__ADS_3

Tampilan layar di ponsel milik Dava seolah menjadi ancaman yang begitu membuatnya patah semangat.


Semenjak ia memutuskan untuk membantu perusahaan sang istri, Dava sudah menyerahkan seluruh aset perusahaannya untuk menjadi salah satu penanam saham pertama di perusahaan D Group. Namun, bukanlah keuntungan yang berlipat ia dapatkan. Justru keadaan keuangan yang masih belum bisa bergerak pesat seperti perusahaan pada umumnya.


"Delapan bulan lagi Ruth akan melahirkan. Bagaimana aku harus menambah nominal uang ini jika keadaan perusahaan masih belum stabil?" Dava menatap sesaat layar ponsel miliknya.


"Permisi, Bapak. Apa pembayaran bisa di lakukan sekarang juga?" Dava tersentak kaget mendengar suara wanita di depannya.


"Eh, ia baik. Maafkan saya." Dava menatapnya dan mengatakan permintaan maaf karena ia baru saja berdiam membiarkan administrasi tertunda untuk sesaat.


Tangan besarnya menyerahkan kartu atm yang baru saja ia cek mbangking di dalam ponselnya tadi.


Tak lama kemudian wanita itu menyerahkan rincian pelunasan yang baru saja Dava bayar. "Ini Bapak. Terimakasih atas kunjungannya semoga sehat selalu."


"Baik. Terimakasih."


Di sini, di dalam ruangan tempat Ruth di periksa.


"Mbok, ayo keluar. Saya sudah merasakan enakan kok." ajak Ruth yang bangun dari tidur singkatnya.


"Eh Non Ruth. Tunggu Tuan Dava dulu, Non. Nanti Non sakit lagi." Mbok Nan segera menahan bahu wanita itu untuk menunda bangun dari tempat tidur.


Ruth sedikit terdengar mendesis kala merasakan sesuatu yang bergejolak di kepalanya. "Tadi pas saya baring rasanya baik-baik saja, Mbok. Kok di pakai bangun langsung berdenyut gitu yah?" keluhnya merasakan hal yang tak biasa terjadi.


Mbok Nan tentu paham akan hal itu. "Non Ruth kalau mau bangun harus pelan-pelan sekali. Jangan langsung gegabah begitu. Peredaran darah Non saat ini sedang tidak stabil kata dokter."

__ADS_1


"Ayo Putli bantu, Mamah." Putri bergerak memapah tubuh Ruth yang ingin duduk bersamaan dengan Mbok Nan di sebelah kiri sana.


Ceklek. Suara pintu terdengar terbuka.


"Ruth, sayang." Dava pun langsung siap siaga memapah tubuh sang istri yang terlihat tidak begitu baik.


"Aku baik-baik saja, Dav." tuturnya dengan tersenyum lemah.


"Sudah jangan bangun dulu. Kita tunggu keadaanmu sampai membaik baru kita pulang." titahnya enggan menangggung resiko jika sampai sang istri dan calon bayinya kenapa-kenapa.


"Dav, aku ingin pulang. Aku benar baik-baik saja..."


"Maafkan aku, Dav. Aku tahu keuangan kita sangat menipis saat ini. Tapi mengapa tubuhku justru sangat lemah di saat seperti ini. Ya Tuhan, berikan kekuatan dan kesembuhan untukku."  Ruth menatap sendu wajah sang suami yang penuh kecemasan padanya.


"Tuan, benar kata Non Ruth. Ini semua baik-baik saja. Hanya saja kita harus bisa ekstra menjaganya saja. Non Ruth harus makan yang bergizi saat ini." tambah Mbok Nan.


Suara dering ponsel pun terdengar membuyarkan perdebatan mereka di ruangan tersebut.


Dava menatap ponselnya dan melihat ada satu nama kontak yang kini menghubunginya melalui panggilan whatsapp.


"Sebentar, Sendi menelpon." tuturnya pada sang istri.


Dava segera menggeser tangannya pada layar ponsel itu.


"Halo," jawabnya datar.

__ADS_1


"Aku ada di rumah untuk mengantarkan persiapan meeting besok pagi. Kemana semua orang di rumah?" tanya Sendi tanpa mau berbasa-basi lagi.


Dava pun menjawab singkat. "Kami di rumah sakit." pasalnya ia tahu Sendi saat ini tidak ingin terlibat dalam rumah tangga mereka tentunya.


Jarang pulang hingga keluar dari rumah tanpa mengatakan sepatah-kata pun, tentu saja Dava bisa membaca isi hati adiknya itu.


Sendi tidak ingin melihat tentang rumah tangganya dengan Ruth, wanita yang sama-sama kakak beradik itu cintai.


"Dirumah sakit? Apa terjadi sesuatu dengan Ruth?" tanya Sendi dengan wajah cemasnya. Masa bodoh di dirinya musnah seketika saat hatinya mendadak berdegup kencang.


Belum sempat Dava menjawab, Sendi kembali bertanya, "Dav, apa kau tidak menjaganya dengan baik?"


"Halo- Ha-" Sambungan pun terputus.


Dava tidak ingin mengatakan apa pun dengan Sendi di depan sang istri. Kini ia mengirimkan pesan teks pada sang adik.


"Aku akan ke kantor setelah ini." begitulah isi pesan yang ia tulis.


Tiga pasang mata kini memandang ke satu titik yang sama.


"Siapa, Sayang?" tanya Ruth yang sudah duduk tegap di bantu oleh Mbok Nan dan juga Putri.


Dava menerangkan penglihatannya yang hampir saja menjatuhkan air mata. "Hah? Oh ini aku harus ke kantor untuk memeriksa persiapan rapat besok pagi dengan beberapa investor. Kau harus tetap istirahat. Biarkan aku dan Sendi yang mengatasinya besok."


"Terimakasih, Dav. Jasamu begitu berarti untuk kami dan kedua orangtua kami..." Ruth memeluk tubuh Dava yang sudah mendekat padanya.

__ADS_1


"Mereka mertuaku dan tentu saja juga adalah orangtuaku, Ruth." Tangannya mengusap lembut pipi sang istri sembari bermonolog dalam hatinya.


"Mereka adalah orangtua ku juga. Orang tua kita, Adikku..."


__ADS_2