Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 170. Penganiayaan


__ADS_3

Ramainya kendaraan di penjuru jalanan malam itu tak menyurutkan semangat sosok pria yang ingin menepati janjinya pada keluarga untuk suatu tujuan.


Manik mata hitam legam terlihat beberapa kali melirik ke arah kiri maupun kanan mencari sosok yang membuatnya sangat khawatir.


"Dimana kau berada, Dav? Bunda dan Ruth sangat mencemaskanmu..." lirih Sendi tampak gelisah.


Ia sudah berjanji untuk mencari sang kakak yang pergi entah kemana. Kekhawatiran yang tentu tertuju pada Ruth seorang bahkan membuat Sendi rela menelusuri padatnya kota malam ini.


Perginya sosok Dava dari rumah membuat semua keluarga begitu cemas, sungguh tak biasanya ia pergi tanpa pamit dari sang bunda.


Lagi-lagi mobil yang di kendarai Sendi tak bisa bergerak kala melihat padatnya kendaraan roda dua maupun roda empat di jalanan itu.


"Ah sial! Macet segala lagi." umpatnya mengusap kasar wajahnya.


Di sini Sendi yang terlihat kesal dengan berbagai macam cobaan dalam kesabarannya tak melihat apa yang sudah terjadi pada sosok Dava di tempat lain.


"Hei, kau!" teriakan beberapa pria bertubuh tegak kala melihat pria tampan dengan tampilan sangat rapi baru saja mengacaukan meja mereka.


Minuman berjajar rapi dengan beberapa gadis yang bergelayut manja di lengannya tampak sangat suasana tidak baik untuk kekacauan yang di perbuat Dava barusan.


Dengan pandangan mata yang samar-samar, Dava menyipitkan matanya kala melihat beberapa pria bertubuh tegak berdiri di depannya.


"Maaf. Maafkan saya." tutur Dava sembari menangkupkan kedua tangannya melihat wajah yang tidak begitu jelas sangat menatapnya tajam.


"Kau pikir hanya dengan kata maaf semua bisa selesai? Hah! Dasar baj*ngan!"


(Suara pecahan botol minuman menggema seketika di ruangan itu)


"Maaf, Bos. Ada apa ini?" tanya pria yang menjadi bagian keamanan di tempat hiburan tersebut. Wajah sangarnya seketika terlihat ketakutan dan penuh dengan rasa hormat.


"Pergi dari sini. Biarkan aku sendiri yang menyelesaikannya." pintahnya menunjukkan tangan yang penuh dengan gerakan emosional.


"Baik, Bos." jawab keamanan tersebut.


Sedangan Dava yang melihat betapa hormatnya pria itu dari perbincangannya bisa menjelaskan jika pria yang bermasalah dengannya kali ini adalah orang ternama.


Sadar diri dengan kedudukannya yang bukan siapa-siapa, Dava berusaha menyadarkan dirinya dari rasa mabuknya.


"Maafkan saya...saya benar-benar tidak sengaja." ia kembali merendahkan diri lagi.

__ADS_1


"Hahahaha..." Suara tawa terdengar menggema hingga beberapa mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah meja tersebut.


Plak! Bug! Plak! Bug! suara pukulan bertubi-tubi menyerang tubuh tegap Dava yang saat ini sudah terlihat membungkuk memegangi perutnya. Wajah sakit itu masih belum ia perlihatkan, hanya beberapa kali alisnya tampak mengernyit karena rasa alkohol yang begitu tidak enak.


Kembali lagi suara pukulan tangan dan tendangan di layangkan pada sosok pria tampan yang sama sekali tidak melakukan perlawanan.


Keadaan yang di bawah pengaruh alkohol membuatnya tak bisa melindungi diri dan bersikap tegas. Dava sungguh menyesali akibat dari aksi minum di tempat seperti ini.


"Ah...ampun. Maafkan saya. Saya tidak-"


Bug! Plak! Bug!


Dengan kesadaran yang tidak begitu terkuasai, kini akhirnya Dava tumbang di lantai marmer cafe tersebut. Cafe yang lebih menjadi club hanya memperlihatkan orang-orang yang menjadi penonton di sana.


Setelah pukulan usai, barulah mereka tertawa begitu senangnya.


"Hahahaha...berani-beraninya dia bermain dengan kita..." seru salah seorang yang menjadi ketua geng tersebut.


Rambut panjang yang ia ikat di belakang dengan jas hitam dan kaos berwarna senada memperlihatkan penampilannya yang semakin sangar itu.


"Ayo, kita lanjut lagi pestanya." tuturnya merangkul dua wanita di kiri dan kanannya.


Dava menatap perlahan dengan setetes air mata yang jatuh di pelupuk matanya.


"Aku mencintaimu, Ruth..."


"Tuhan, kembalikan cintaku lagi saat ini. Aku benar-benar tidak kuat menahan perasaan ini." Dengan segala keputusasaan akhirnya Dava menutup matanya.


Wajah tampan yang selalu terlihat segar dan menyenangkan kini hanya terlihat luka lebam dan kebiruan di sana. Sungguh miris terlihat, namu itulah sosok pria yang berhati besar mencintai istrinya dengan segenap jiwanya.


"Angkat dia!" suara seorang yang ternyata adalah pemilik cafe tersebut memberikan perintah pada sang bawahan dengan tegas.


"Semuanya kembali dengan acara kalian. Semua baik-baik saja. Oke?" serunya memerintahkan dengan suara dj yang kembali bersorak di depan sana.


Suara dentuman musik akhirnya perlahan tak terdengar lagi seiring tubuh Dava yang menjauh setelah di seret keluar dari tempat itu.


"Kita buang dimana ini?"


"Sudahlah jangan buang waktu. Lempar saja di pinggir jalan sana." tunjuknya dengan bibir sedikit manyun.

__ADS_1


***


"Nak, mau kemana kamu?" tanya sosok wanita berwajah begitu cemas melihat sang anak yang sudah buru-buru melangkah ingin menggapai gagang pintu rumah.


Langkah kaki Ruth seketika terhenti, ia menoleh dan melihat sang bunda sudah melangkah cepat ke arahnya.


"Bunda..." sahut Ruth dengan wajah cemas.


"Kamu mau kemana, Shandy? Ini sudah malam. Apa perlu Bunda telepon Berson untuk menjemput dan mengantarmu jika kau ada keperluan mendesak, Sayang?" tuturnya begitu lemah lembut.


Ruth menggelengkan kepala dengan cepat. Tentu saja dari kedua mata cokelat itu, ia bisa memperlihatkan raut sangat sedihnya.


"Tidak, Bunda. Aku...aku hanya khawatir saja dengan Kak Jeff." ia berucap dengan menundukkan kepala. Rasa khawatir yang jelas sang bunda pasti mengetahuinya juga.


Khawatir sebagai seorang istri, bukan sebagai adiknya.


"Baiklah. Pergilah, Nak. Tapi dengan syarat kau tidak boleh terlalu jauh perginya. Ini sudah sangat malam. Bunda percaya padamu, kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Tapi, ingat ada bayi di sini yang juga harus kau jaga, Sayang." Dengan berat hati Tarisya memberikan ijin pada sang anak.


Ia tahu mungkin dengan menahan atau menemani sang anak keluar, tidak akan membuat hati seorang Ruth tenang.


"Baiklah, Bunda. Shandy pergi dulu." ia ingin meraih tangan sang Bunda, namun wajahnya seketika terkejut kala melihat sang Bunda yang berteriak.


"Dina!" panggilnya dengan pelan namun terdengar jelas di rumah yang tak begitu besar tersebut.


Dengan lari kecil, Dina pun akhirnya sampai di tempat suara yang memanggilnya.


"Iya, Bunda. Bunda memanggil saya?" tanyanya.


"Temani kakak iparmu, Sayang. Pastikan dia dan calon keponakanmu baik-baik saja." Mendengar perintah sang bunda, dengan senang hati Dina pun tersenyum dan segera menganggukkan kepalanya.


Dina berjalan cepat ke kamar setelah mengucapkan, "Tunggu sebentar yah, Kak. Mau ambil handpohe di kamar dulu." ia pun segera berlari meninggalkan sang mertua dan kakak iparnya yang hanya menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit di artikan lagi.


"Bunda," Ruth menatap sang bunda dengan suara terdengar lemas.


Tarisya mengangguk pelan dan mengusap kepala anaknya.


"Biarkan Bunda melihatmu pergi dengan tenang. Bunda harus menjaga Ayahmu. Biarkan adik iparmu yang menjagamu, Sayang." ucapnya memohon dengan penuh harapan.


Meski berat, akhirnya Ruth hanya bisa pasrah dan menurut apa yang di pintahkan sang bunda. Tidak mungkin ia menolak perintah dari sang bunda yang akan membuat hati wanita itu akan cemas sepanjang waktu malam ini.

__ADS_1


__ADS_2