
Saat semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, berbeda halnya dengan pria yang sedari tadi masih setia di dalam kamar tanpa mau keluar.
Rasa sakitnya mengalahkan segala tenaga dalam tubuhnya kali ini, jika biasanya ia memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja. Tidak kali ini.
Untuk berdiri dari tempat tidur punĀ ia sudah tak sanggup lagi. Kedua kaki yang selalu melangkah tegas itu tiba-tiba kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh tegapnya.
Mata sembab yang terkena sorot mentari sore hari itu tampak terlelap dengan nyamannya tanpa tahu jika waktu sudah bergerak begitu cepat. Rasa lelah yang lupa ia rasakan selama ini akhirnya mampu membuat tubuhnya beristirahat dengan lelap.
"Tidak. Kita tidak boleh berpisah."
"Jangan lakukan itu, Ruth."
"Tidak. Kau tahu aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu tetap bersamaku?"
Meski tubuh terlihat tidur dengan nyenyak, tetapi hati dan pikiran masih tetap bekerja keras memikirkan segala masalahnya yang terjadi dengan sang adik. Dava memiliki hati yang begitu rapuh saat ini.
Lelah. Sungguh sangat lelah rasanya jika terus mendapatkan cobaan dalam masalah tentang hati. Andai ia bisa memilih, mungkin Dava memberi tanda merah pada masalah percintaan. Ia sudah benar-benar muak jika terus di permainkan dengan cinta lagi.
Kreeek!! Tiba-tiba terdengar suara pintu berdecit dengan sangat pelan setelah ucapan salam yang tak mendapatkan jawaban dari sang pemilik kamar.
"Masuk saja, Tante. Seperti Kak Dava kelelahan." pintah Dina saat mengantar sosok Sarah ke kamar putra angkatnya itu.
Ia datang bersama dengan Wuri, namun ia memilih menunggu di depan beberapa saat untuk memberikan mereka waktu berbicara dari hati ke hati. Pasalnya ia juga merasa segan jika harus datang berhadapan dengan Tuan Wilson. Pria yang menderita akibat ulah suaminya dan juga suami dari Wuri.
"Terimakasih, Nak." sahut Sarah menatap Dina yang begitu sopan dan lembut. Ia tersenyum sekilas lalu melangkah masuk seorang diri.
Usai mengucapkan terimakasih, akhirnya Dina pun memutuskan untuk menutup pintu kamar kakak iparnya kembali. Ia meninggalkan Sarah seorang diri di kamar itu.
Langkah demi langkah ia jangkau hingga akhirnya kini di langkah terakhir ia membungkam bibirnya yang menahan suara isakan tangis.
Air mata seketika jatuh begitu saja melihat anak angkatnya yang sudah begitu lama tidak ia lihat. Dava benar-benar sangat baik, sikap hormatnya pada sang ibu selama ini membuat Sarah tak bisa melupakan begitu saja anak angkatnya.
__ADS_1
Ia menangis tersedu-sedu melihat wajah tak berdosa Dava. Benar kata orang, jika ingin melihat wajah yang begitu tulus dan sangat tulus, lihatlah ketika orang itu terlelap. Sungguh semua amarah bahkan kebencian pasti akan luluh saat melihat wajah yang terlelap seperti Dava saat ini.
"Ayah...mengapa kau lakukan ini pada anakku? Mengapa? Dia anakku yang begitu baik, Ayah?" tangis Sarah mengingat sikap sang suami yang begitu tega pada anak angkatnya.
Perlahan ia kembali mengusap air mata yang sudah banjir di kedua pipinya. Ia pun berjalan dengan wajah sembab menuju jendela kamar Dava. Di tariknya tirai jendela yang membuat wajah Dava tersorot cahaya matahari sore itu.
Menoleh ke belakang dimana pria tampan itu masih mendengarkan dengkuran napasnya yang teratur. Tersenyum dan melangkah kembali lalu duduk di sisi tempat tidur.
Senyuman lembut Sarah begitu terlihat tulus kala netra mata senja itu menatap wajah teduh sang putra. Sudah sangat rindu hatinya ingin membelai rambut klimis milik Dava. Putranya kini sudah tumbuh begitu dewasa tanpa terasa.
Sepasang alis tebat itu seketika mengernyit saat merasakan ada yang menyentuh kepalanya. Sarah masih tersenyum dan terus mengusap kepala sang anak.
Ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu saat usia Dava masih menginjak delapan tahun. Dimana ia sudah harus mempelajari banyak hal dengan menyita waktu istirahat bahkan mainnya. Iwan, sang suami mendidiknya dengan sangat keras. Les di sela jam istirahat pun terus ia paksakan demi sang anak bisa menjadi penerus perusahaan yang sudah ia bangun dengan jalan yang licik.
Hanya ada Sarah yang memberikan perhatian pada Dava kecil saat itu saat ia ingin tidur malam. Sering kali Dava merasakan sakit kepala saat ingin tidur malam karena kepalanya yang terlalu banyak menerima pelajaran.
Flashback on
"Tidurlah, Dav." pintah Sarah malam itu. Ia sudah beranjak dari kamar sang anak saat ingin mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
Tentu saja Sarah tidak keberatan. Ia tersenyum dan mengangguk lalu membawa kepala sang anak untuk berbaring di pangkuannya.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Sarah dengan perhatian.
Dava kecil pun mengangguk lemah. "Kepalaku sangat sakit, Bu. Ayah terus memintaku untuk menghafal semua yang sudah ku pelajari dan besok harus ku jelaskan kembali. Sedangkan besok Dava ada kuis dengan Mr. Born." ia menekuk wajahnya dengan lesu.
Malam adalah waktunya untuk istirahat, tapi bagaimana mungkin ia bisa terlelap dengan tenang sementara beban di kepalanya masih harus terus ia kelola sampai esok berhadapan dengan sang ayah kembali.
Dan perlahan-lahan tangan Sarah pun mampu menidurkan sang anak dengan cepat. Setiap malam terus ia lakukan hal yang sama. Datang menemani sang anak hingga menidurkannya dengan tangan lembutnya ia mengelus kening hingga rambut hitam Dava kecil.
Flashback off
__ADS_1
Sentuhan tangan yang sangat familiar lama sudah rasanya tak Dava dapatkan. "Ibu..." lirihnya kala sepasang mata itu masih terus terpejam menikmati sentuhan yang sangat ia rindukan.
Sungguh senang hati Sarah kala mendengar panggilan yang bahkan ia pun tak menyangka jika Dava masih sudi menyebutnya dengan panggilan sayang itu.
Yah, Ibu adalah panggilan sayang menurut Sarah.
Di bukanya sepasang mata itu dan Dava terasa seperti mimpi saat melihat wajah sang ibu berada di hadapannya saat ini.
Kembali mata sembab itu menerangkan lebih lebar pandangannya. Benar-benar sang ibu yang ia lihat. Sekali lagi Dava mengusap kedua matanya yang terasa kaku.
"Maafkan Ibu jika datang dengan lancang..." sahut Sarah menyadari pertemuannya terakhir kali dengan Dava sangatlah tidak baik.
Mereka bahkan hidup masing-masing layaknya dua orang yang tak saling mengenal.
Keadaan Dava yang saat ini tengah rapuh membuatnya tak bisa mementingkan egonya. Ia bangkit dari tidurnya dan langsung menghambur memeluk sang ibu di depannya.
Betapa terkejutnya Sarah mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang anak. Ia sungguh tak habis pikir. Wajahnya terlihat syok dengan bibir yang sudah tercengang menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
Terdengar isakan Dava yang begitu pilu di dalam pelukan sang ibu. Ia benar-benar menangis mencurahkan segala sakitnya saat ini.
Tanpa terasa Sarah pun ikut meneteskan air mata. Dadanya ikut terasa sesak menyadari betapa sakit yang Dava rasakan, jelas terdengar dari cara ia memeluk tubuh Sarah dengan erat dan suara tangis yang begitu bergetar.
Perlahan tangan Sarah meraih punggung sang anak untuk membalas pelukannya.
Di usapnya berkali-kali punggung bidang itu. "Katakan...katakan, Nak. Siapa yang membuatmu terluka seperti ini?" tanyanya dengan nada bicara yang lemah.
Dava masih belum mampu bersuara. Ia terus membungkam bibirnya menahan suara bariton miliknya agar tidak terdengar keluar kamar.
"Dav..." sahut Sarah kembali. Ia menjauhkan tubuhnya setelah berhasil melepaskan pelukan itu.
Di tatapnya wajah sang anak. "Ada apa? Katakan pada Ibu." kedua tangan miliknya yang sudah tampak berkeriput berusaha menangkup wajah tampan Dava yang terus ingin menghindar darinya.
__ADS_1
Hal yang tak disangka, jika kedatangan Sarah saat ini ke kediaman sang anak mendapatkan pertunjukan menyedihkan seperti ini. Bahkan ia selalu berpikiran jika Dava hidup dengan bahagia selama ini bersama keluarga barunya. Nyatanya semua berbanding terbalik saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Dava sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ia tengah sangat rapuh hidupnya.