Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 190. Janji Dava


__ADS_3

Pelukan serta tangisan pilu terdengar saling bersahutan di ruangan itu. Sungguh, saat ini Dava maupun Ruth sama sekali tidak bisa menahan diri lagi untuk mengendalikan perasaan mereka.


Kerinduan yang terpendam selama ini tumpah di dalam pelukan erat yang menyatukan tubuh mereka.


Ruth menangis hingga terdengar sesenggukan. "Aku tidak kuat, Dav. Aku benar-benar tidak kuat seperti ini." keluhnya menyadari betapa rapuhnya hatinya menjalani kehidupan seorang diri.


Hati memang terkadang begitu banyak inginnya. Kala sendiri, ia mungkin berkata akan kuat. Namun ketika ia menemui titik lemahnya, ia akan menyadari betapa rapuhnya saat itu.


Tangisan dan gelengan kepala tentu menjelaskan jika ucapannya barusan tidaklah bohong. Ruth benar-benar kehilangan kemampuannya saat ini untuk bertahan.


"Maafkan aku, Ruth. Maafkan aku yang membuatmu banyak menderita." tuturnya dengan sangat lemah.


Dava menangkup wajah ayu yang sembab itu. Di kecupnya lama kening Ruth sembari ia memejamkan matanya. Betapa nyeri hatinya saat ini melihat wanita yang begitu ia jaga hatinya, yang begitu ia takutkan jika air matanya tumpah, kini benar-benar menjalani hidup yang penuh dengan derita.


"Kuatlah, Ruth. Demi anak kita, Sayang." di pegangnya perut yang tampak menggunung di bawah sana.


Di dalam lubuk hatinya, sungguh ada rasa keinginan yang besar untuk tetap menjalani kehidupan bersama wanita yang ada di depannya kini. Namun, Dava sadar itu sangat sulit jalannya.


Perlahan demi perlahan, di elusnya punggung wanita di depannya. Hingga beberapa saat suasana di ruangan rawat pun kembali hening.

__ADS_1


Dava terus menatap wajah yang tertunduk, ia tahu jika Ruth akan jauh lebih tenang jika ada dia di sampingnya. Namun, hal itu tidak mungkin terus terjadi, karena mereka bukanlah pasangan suami istri lagi.


"Sekarang makanlah, aku akan menyuapimu." tutur Dava meraih piring yang terlihat masih belum ada berkurang isinya.


Piring yang sedari tadi ia sempat liat di pegang oleh Sendi ketika dirinya baru saja tiba di ruangan rawat Ruth.


"Tidak, Dav." tolaknya dengan lemah.


Ruth sadar perutnya begitu lapar, namun indera perasanya seolah menolak semua yang ada di depannya kini. Lidahnya terasa begitu pahit.


"Sedikit saja, makanlah. Ayo." sekali lagi Dava membujuk.


"Hei, ayo." Dava meraih dagu milik Ruth dan meluruskan ke arahnya lagi.


Satu suapan Dava berikan dan Ruth dengan enggan menerima makanan tersebut. Dalam diam, Dava terus menatap wajah cantik yang tak lagi sesegar dulu.


"Aku akan membahagiakanmu, Ruth. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Untuk wanita yang sudah berjuang banyak untuk pria sepertiku. Aku janji itu."


Satu suapan kembali ia berikan meski sejenak Ruth sempat bungkam. Dengan kesabaran yang Dava miliki, akhirnya perlahan-lahan piring itu habis tak tersisa. Ruth memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Sekarang ayo beristirahatlah. Agar kau bisa segera pulang ke rumah." pintah Dava tak lupa ia memberikan senyuman yang begitu tulus. Ruth memejamkan matanya dengan tenang. Hatinya begitu lega karena sangat di perdulikan oleh Dava.


Jelas inilah yang selalu membuatnya tak bisa menahan kegelisahan, perhatian Dava yang begitu hangat seolah membuatnya merasa sangat kehilangan semenjak perpisahan mereka.


Perpisahan yang sungguh menyakitkan saat saling mencintai, namun keadaan memaksa harus berpisah.


Ruth memilih memiringkan tubuhnya memunggungi sang mantan. Ia perlahan memejamkan mata itu meski ada tetesan air mata yang jatuh beberapa kali.


Tak dapat di pungkiri, hatinya terasa sedikit lebih tenang berada di dekat Dava.


Begitu pun sebaliknya, Dava yang menunggu Ruth terpejam tampak berdiri untuk menyelimuti tubuh wanita di depannya. Di peluk dan din kecupnya kening Ruth lalu ia kembali duduk untuk sesaat.


Ada tatapan yang tak bisa di artikan saat Dava menatap nanar punggung milik Ruth.


Sunyi senyap membuat Dava dapat mendengar dengan jelas dengkuran napas Ruth yang mulai teratur. Bisai di pastikan jika wanitanya telah tertidur dengan lelap.


Pelan-pelan, Dava beranjak pergi meninggalkan ruangan dengan langkah pelan dan menutup pintu dengan penuh hati-hati. Takut jika Ruth akan kembali terbangun.


Ceklek. Suara pintu terdengar tertutup.

__ADS_1


Kini tinggallah Ruth seorang diri di dalam ruangan tersebut.


__ADS_2