
Saatnya hari yang paling di tunggu dan sangat bersejarah terjadi kembali di kediaman Nicolas pagi itu. Cerahnya mentari siang seakan mampu membaca setiap raut wajah yang sangat bahagia.
Seluruh keluarga yang ada di rumah tampak penuh semangat menyiapkan hidangan makan siang yang sangat nikmat dan lezat. Bukan tanpa alasan, tentu saja mereka sangat antusias menyambut kehadiran penerus keluarga Nicolas. Cucu pertama yaitu Rava Sanjaya Nicolas.
"Itu, yah yang itu. Letakkan di sini, Dina." pintah Tarisya pada sang menantu.
"Kemari, biar ku bantu." tutur Sendi membantu sang istri. Tak lupa ia mengembangkan senyumannya pada sang istri, meski Dina masih tak ingin berbicara sepatah kata pun padanya.
Perjuangan kerasnya memohon maaf pada sang istri saat di kediaman Wuri, sang ibu hanya berhasil membuat wanita itu ikut kembali ke rumah. Tidak untuk berbaikan seperti layaknya suami istri.
Dina melangkah menata hidangan mendahului sang suami. Bagaimana pun ia tidak ingin terlihat marah di depan seluruh keluarganya.
"Bunda, ini sudah sangat banyak?" ucap Sendi yang menatap seluruh isi meja makan dengan hampir penuh.
"Eits...Berson jangan seperti ini. Rava harus melihat kemeriahan kita saat menyambutnya ke rumah ini. Dia cucu pertama Bunda, Nak." seru Tarisya tersenyum sangat gembira.
Rasanya sungguh tidak sabar untuk menunggu kepulangan anak-anaknya dan juga cucunya yang tampan itu.
"Iya, Bunda. Benar kata Berson. Ini sudah cukup sangat banyak. Biarkan Mbok Nan mengakhiri masaknya di dapur." sahut Tuan Wilson yang juga bisa melihat sangat banyak makanan dan jika tidak habis sangat sayang untuk di buang.
Mengingat kehidupannya saat di sekap sangat kesulitan untuk memakan nasi dan minum segelas air saja. Tidak ada salahnya jika mereka akan menjadikan hal itu sebagai pelajaran yang sangat berharga di sisa hidupnya saat ini.
Tak berselang lama, akhirnya suara sapaan dari depan pintu utama rumah tersebut pun terdengar.
"Assalamualaikum..." suara lembut wanita dan juga pria yang tentu saja mereka tahu siapa pelakunya.
"Waalaikumsalam..." seru semua anggota keluarga dengan segera mereka berjalan menuju pintu rumah tersebut.
__ADS_1
Senyuman di wajah seluruh keluarga membuat Ruth dan juga Dava membalas senyuman begitu hangat. Wajah keduanya tampak sangat berseri-seri.
"Sayang...akhirnya kalian datang juga. Bunda sangat tidak sabar." tutur Tarisya memeluk anak perempuannya dengan erat.
"Mamah!" seru Putri yang sudah berlari memeluk kedua kaki sang ibu yang tidak bisa berjongkok seperti biasa untuk membalas pelukannya.
"Sayang...maafkan Mamah, Nak. Tidak bisa memelukmu." Ruth merasa kasihan dengan sang anak yang harus membagikan kasih sayang ibunya dengan sang adik mulai saat ini.
"No problem, Mah. Putri sangat bahagia, ada dedek yang sudah lama Putri tunggu-tunggu. Putri kangen banget sama Mamah." ia menengadah menatap wajah sang ibu yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.
"Sayang, apa kau tidak merindukan Ayah?" suara berat dan hangat khas seorang Dava membuat Putri tersadar seketika.
Mata hitamnya yang besar membulat seketika dan bibir mungilnya tercengang tak menyangka.
"Hah? Ayah!" teriaknya histeris hingga membuat semua yang ada di rumah begitu sangat terkejut.
Namun tak di duga, Putri segera menggelembungkan kedua pipi tembemnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Putri kesal sama, Ayah." celetuknya dengan sangat jelas jika ia sedang marah saat ini.
Ruth menggelengkan kepala tak percaya, pasalnya selama kepergian Dava anaknya masih terlihat baik-baik saja. Lalu apa yang terjadi pada Putri saat ini?
"Sayang, mengapa berbicara seperti itu, Nak?" tanya Ruth dengan sangat lembut memberikan teguran pada sang anak.
"Mamah, selama ini Putri diam. Karena Putri ingin Mamah tetap kuat berkat Putri. Tapi, Ayah? Ayah kemana? Ayah pergi ninggalin kita, Mamah." Secepat kilat, Putri berlari menjauh dari kerumunan para keluarga yang tengah ingin merayakan kebahagiaan mereka siang itu.
Bahkan Dava sangat terkejut mendengar penuturan sang anak, hingga ia terdiam membisu. Hanya mata hitamnya yang menatap mantan istri penuh tanya.
__ADS_1
"Dina, bisa aku titip Rava sebentar?" Ruth merasa saat ini dirinya lah yang harus berbicara pada sang anak.
"Sini, Ruth." sambut Dina dengan cepat.
"Biarkan aku yang-" Dava memegang lengan sang mantan istri yang sudah melangkah menyusul sang anak.
"Ssstt. Aku akan segera kembali dengan Putri. Kalian bisa lanjutkan dulu. Hanya sebentar kok." Ruth berlalu begitu saja setelah Dava melepaskan tangannya untuk mencegah kepergian Ruth.
Ia berfikir jika ini semua memang salahnya, dan ia sendirilah yang harus menyelesaikan pada sang anak.
"Jeff, kemari!" panggil Tuan Wilson yang sudah meminta Sendi untuk mendorong kursi rodanya menuju ruang tengah kembali.
Semua pun berjalan menuju ruang tengah sembari menunggu kembalinya Ruth dan juga Putri.
Di dalam kamar, Putri sudah menangis terisak sembari memeluk bantal gulingnya. Hatinya begitu senang kala melihat kehadiran sang ayah di rumah itu lagi, namun entah mengapa di saat yang bersamaan, ia juga merasa kecewa karena satu-satunya pria yang selalu ia harapkan bisa menjaga sang mamah justru meninggalkan mereka di saat-saat hari lahiran sang adik sudah sangat dekat.
"Ayah jahat. Ayah jahat." rutuknya dengan memukul-mukul bantal gulingnya.
"Sayang..." Ruth memeluknya dari belakang. Di usapnya rambut panjang sang anak yang begitu lembut di kepalanya.
"Ayah tidak seperti itu, Nak. Ayah sangat banyak urusan sampai harus meninggalkan kita." jelas Ruth mulai membuka pembicaraan.
"Mamah mau bilang, Ayah adalah orang yang sangat baik. Tapi kemarin, Ayah permainin hati Putri, Mah. Ayah bikin Putri sakit sekali. Putri harus pura-pura kuat di depan Mamah biar Mamah juga kuat." bocah itu menangis semakin sesenggukan saat membalas pelukan sang mamah sembari mengeluarkan segala unek-uneknya.
Di saat tangisan yang begitu menyedihkan, Ruth merasa ingin tertawa kala mendengarkan ucapan sang anak yang sangat sok dewasa dan penuh kata-kata yang di dramatisir sepertinya.
"Astaga, Sayang. Bahasamu, Nak...seperti orang putus cinta saja." Ruth terkekeh dalam hati sembari mengatakan itu semua.
__ADS_1