
Di tengah ramainya pejalan kaki, sepasang netra yang berkilau itu hanya bisa terdiam bersandar pada mobil mewah miliknya. Kedua tangan ia lipat di depan dadanya, tak ada ekspresi lain selain gurat kesedihan di sana.
Lalu lalang kendaraan mulai sepi perlahan-lahan menyisahkan pejalan kaki yang tampak pulang dari aktifitasnya masing-masing.
"Bulan, apa kau menertawakanku saat ini? Tuhan, apa ini semua akhir dari kisah cintaku? Apa aku benar-benar tidak ada harapan untuk mempertahankan rasa cinta ini?" Sendi menengadah menatap bulan yang begitu cerah di malam yang dingin.
Sendi yang sedih dengan keadaannya saat ini tersadar kembali saat ada suara teriakan dari arah yang tidak jauh darinya.
"Tolong! Tolong!"
"Saya mohon jangan ambil. Saya mohon!"
"Pak, kasihani saya. Saya mohon, Pak. Saya sangat lapar." teriakan dan tangisan yang begitu lemah membuat Sendi berjalan kaki segera meninggalkan mobilnya.
Langkahnya semakin cepat saat mendengar dengan jelas arah suara tangisan itu.
"Hei!" teriaknya berlari menghampiri wanita yang berlutut dengan menangis memohon untuk mendapatkan kembali nasi bungkus yang sudah di hamburkan di udara.
"Hiks hiks hiks," ia hanya bisa terisak tanpa bisa melawan melihat makanan yang sudah tercecer di jalanan tersebut.
Matanya hanya berlinangan menelan susah payah salivahnya yang terasa sangkut karena tenggorokan yang sangat kering.
"Berikan yang ku minta. Cepat!"
"Kau jangan ikut campur. Ini urusan kami." teriak pria berambut gondrong itu.
Sendi menatap punggung wanita yang sudah menangis tersedu di depan hamparan nasi bercampur kotoran itu.
"Beraninya kau dengan wanita! Rasakan ini!"
Bug! Bug! Bug!
Bertubi-tubi Sendi memukul dan menendang pria jalanan itu hingga ia mengangkat tangan meminta ampun.
"Ampun!"
"Ampun, Tuan!"
"Ampun!" teriaknya dengan bersusah payah menahan sakit di tubuhnya.
__ADS_1
Sendi akhirnya menghentikan aksinya saat melihat wanita di depannya ingin berdiri dari duduknya. Masih dalam pososi membelakangi Sendi, wanita itu berdiri dengan tubuh lemas tak berdaya.
Sendi menatap punggungnya tanpa berucap apa pun. Sementara pria yang sudah tidak mendapatkan pukulan itu, kini segera lari dengan terpincang-pincang.
"Hei," sapa Sendi dengan ragu.
Wanita itu ingin menghadap padanya, namun baru separuh gerakan tubuh ia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Penglihatannya sangat gelap, bahkan kepalanya terasa sangat berat kali ini.
Brukkk!!
"Astaga! Dina!" Sendi sangat terkejut saat melihat wanita yang hampir saja jatuh di depannya. Ia menangkap tubuh yang lemas dan tak sadarkan diri itu.
"Dina!" memanggil dengan menggoyangkan pipinya yang pucat.
Kerja seharian tanpa makan dan memilih memberikan makanan jatah dari kantor itu pada sang ibu yang menderita magg, membuat Dina memilih untuk mencari kerjaan sampingan di luar untuk membeli makanan.
Dan kini makanan yang ia beli dengan susah payah harus terbuang sia-sia hanya karena preman jalanan yang tidak bertanggung jawab.
Sendi cemas melihat keadaan Dina, ia segera menggendongnya ke arah mobil. Di sana, Sendi membaringkan Dina di dalam mobilnya dan berusaha untuk menyadarkan wanita tersebut.
"Din,"
"Dina!"
"Ini pasti karena kelaparan. Bisa-bisanya laki-laki itu berbuat seperti itu pada wanita." umpat Sendi yang terasa sangat kesal melihat sikap kasar pria tadi.
Setelah cukup lama, akhirnya Dina pun mulai mengerjapkan kedua matanya yang masih terasa berat. Ia memijit keningnya yang sangat pusing sembari berkata, "Auh...perutku." rintihnya saat merasakan bagian perut yang perih dan mual.
Sendi yang sedari tadi duduk di sebelahnya langsung menoleh. "Dina,"
Dina menoleh pada calon mantan suaminya. "Sendi," ucapnya lirih.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sendi dengan seriusnya.
Dina mengangguk lemah. "Yah, aku baik-baik saja. Maafkan aku merepotkanmu."
"Mau kemana?" Sendi menarik tangan sang istri yang saat itu ingin membuka pintu mobil di sampingnya.
"Aku harus pulang, Sen." tutur Dina menghindari pria di sampingnya.
__ADS_1
Ia ingat apa yang harus ia lakukan demi kenyamanan orang-orang di sekitarnya.
"Tidak. Diamlah dan aku akan membawamu ke suatu tempat." Sendi segera melajukan mobilnya tanpa mengatakan kemana mereka akan pergi.
Setelah beberapa saat perjalanan, di sinilah mereka berada saat ini.
"Cream soup, chicken steak, dan satu lagi...asparagus." Sendi menyodorkan buku menu yang ia pegang kini.
"Ada lagi, Tuan?" tanya seorang pelayan di restauran itu.
"Air mineral satu. Itu saja." tambah Sendi kemudian.
Sementara Dina terlihat hanya menunduk tak berani menatap wajah di depannya saat ini.
Keduanya duduk berhadapan dalam diam. Tak ada perbincangan sedikit pun terdengar. Sendi terus menatap dalam wanita yang menunduk di depannya.
Suasana hening menambah hawa dingin malam yang semakin larut itu. Bahkan restauran pun sudah sangat sepi pengunjung malam itu. Beruntung, Sendi tahu tempat yang sedikit larut malam bukanya.
Matanya yang menatap dalam seolah memerintahkan bibir itu untuk mulai bersuara.
"Apa masih ada kesempatan untuk hubungan kita saat ini?"
Sungguh, rasanya tidak bisa percaya saat seorang Sendi Sandoyo meminta apa yang selama ini sangat tidak ia inginkan ada di antara mereka berdua.
"Hah?" Dina terperangah kaget mendengarnya. Ia sampai tidak bisa membungkam mulutnya saat mendengar perkataan sang suami.
"Em...maksudku..." Sendi tergagap saat mendapati tatapan mata sang istri padanya. Ia malu, gugup bercampur bingung harus berkata apa saat ini.
"Aku akan memberikan mu kesempatan yang terakhir. Kita akan memulai semuanya dari awal. Dan aku tidak mau ada kebohongan dalam hubungan kita." Ruth membulatkan matanya tak percaya dengan yang Sendi katakan.
Apakah ini adalah jawaban dari kesabarannya selama ini? Apakah secepat itu Sendi bisa merubah perasaannya kembali? Rasanya ini sangat mustahil bagi Dina.
Dina tersenyum penuh haru. Ia membungkam bibir pucatnya dan menangis mendengar ucapan sang suami. Dengan cepat, ia memeluk sang suami setelah meninggalkan kursi yang ia duduki.
"Apa aku tidak salah mendengar, Sendi? Apa itu artinya kita tidak akan bercerai?" tanyanya kembali memastikan semuanya.
Sungguh ini adalah mimpi terindah bagi Dina, ia tidak akan mau bangun dari mimpi indah ini sampai kapanpun itu.
"Mungkin ini jawaban dari semua pertanyaanku padamu, Ya Allah. Kau kembali mempertemukanku dengannya saat keadaanku sangat terpuruk. Kali ini biarkan aku mencoba memulainya dari awal. Biarkan aku berusaha membuka hati ini untuknya dan merelakan Ruth dengannya." Sendi tampak memejamkan matanya beberapa saat tanpa perduli jika tubuhnya saat ini sedang di peluk oleh sang istri yang menangis haru di sana.
__ADS_1
"Terimakasih, Sendi. Terimakasih. Aku janji tidak akan mengecewakanmu kali ini. Aku janji, aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Terimakasih sayang." Dina memeluknya dengan semakin erat. Tak perduli jika pelukan itu tidak mendapatkan balasan.
Yang terpenting baginya, Tuhan sudah berbaik hati memberikannya kesempatan untuk menatap pernikahan mereka kembali.