Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 82. Malam Panjang Milik Dava


__ADS_3

Alis wanita itu berkerut tak mengerti maksud ucapan sang suami. "Tenaga?" tanyanya tak mengerti.


Ruth yang menyadari setelah mengatakan hal itu mendadak tak bisa lagi mengontrol degupan jantungnya yang terdengar berdebar sangat kencang.


 


"Ya Allah...eh Ya Tuhan, apa tujuannya mengatakan seperti itu? Kenapa bulu tanganku jadi berdiri semua? Tapi..."  Ruth sempat terdiam namun ada gurat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya ia sadar kembali dari pikiran anehnya.


 


"Aduh...apa-apaan sih ini kepala isinya kok jadi mes*m begini. Iya sih, tapi memang aku suka hehehe lagian suamiku memang paling pandai soal itu." Ruth terkikik dalam hati jijik dengan pikirannya yang mendadak menerima dengan baik keinginan sang suami.


Beberapa saat setelahnya...


 


Kini semua yang berada di ruang makan sudah berada di kamar mereka masing-masing. Hari yang sangat melelahkan bagi masing-masing.


 


Putri yang lelah dengan sekolah, bermain, dan lesnya di temani oleh Mbok Nan. Dan Ruth, Dava, juga Sendi yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Membuat rumah itu menjadi hening di malam yang belum begitu larut.


 


Ceklek.


 


Suara pintu kamar yang baru saja terbuka dan kembali tertutup dengan iringan kunci yang terputar untuk mengunci kamar tersebut.


 


Ruth sontak menoleh ke arah tangan besar yang memutar pintu itu. Lalu manik matanya bergerak ke arah wajah tampan yang sudah tersenyum lembut kepadanya.


 


"Dav," tuturnya lirih.


 


Namun Dava tak mengatakan sepatah katapun pada wanita itu. Dan perlakuan Dava tentu saja membuat sang istri menjadi benar-benar gemetaran karena gugup.


 

__ADS_1


Ia membawa sepasang tangan besarnya untuk menuju satu titik, yaitu dagu lancip Ruth. Wanita yang selalu dan selamanya akan terus ia cintai.


 


"Berikan satu malam ini untukku...boleh?" ucapnya menatap begitu dalam netra cokelat yang berembun karena gugup.


 


Ruth tak menjawab. Untuk meneguk salivahnya pun ia terasa sangat keras.


 


"Aku...emp-" Pukulan lembut namun tak membuat pria itu menghentikan pergerakan lidah dan bibirnya di sekitar bibir sang istri.


 


 


Di sesapnya dengan penuh cinta rasa manis di bibir sang istri yang membuatnya selalu dan selalu ingin merasakannya.


 


Tak perduli jika Ruth terus saja memohon untuk memberinya jeda menarik nafas. Kali ini Dava sudah benar-benar berkobar semangat untuk menjamah istri cantiknya.


 


 


"Ruth, nikmatilah." Suara berat nan serak membuat Ruth reflek memejamkan matanya dan menggeliat merasakan rasa geli yang teramat sangat.


 


Berkat bantuan tangan sang suami, ia mulai memainkan tangan liarnya di punggung sang suami yang juga masih mengenakan kaos polos berwarna putih miliknya.


 


 


Di mulai dari bibir yang tampak basah dengan salivah, kini Dava mulai liar menjelajahi setiap area leher sang istri yang mengeluarkan aroma sangat segar. Aroma body lotion yang Ruth pakai sangat Dava sukai.


 


"Dav...tunggu dulu." ucap Ruth bergetar menahan hasrat yang ia tahan kala indera perasa sang suami terus memberikan sentuhan nikmat pada tubuhnya.

__ADS_1


 


"Ada apa, Sayang?" sahut Dava terdengar tak kalah bergetar. Bahkan matanya sudah sayup-sayup menatap sang istri.


 


Meski ia menantikan jawaban sang istri, namun bibirnya tak henti-hentinya untuk merasa seluruh lekuk tubuh wanita cantik yang berada dalam kendalinya saat ini.


 


"Aku...ah...Dav, aku-mau-pi-pis." Ruth bersuara putus-putus di iringi ******* yang ia tahan sekuat tenaga.


 


Dava tak menghentikan aktifitasnya, meski sang istri meminta waktu untuk ke kamar mandi sekali pun.


 


Melihat aksi sang suami yang tidak memberinya kesempatan, Ruth tidak bisa menahan diri lagi, sekuat tenaga ia mendorong sang suami dan berlari menuju ke kamar mandi.


 


"Dav, aku kebelet." ucapnya menoleh ke belakang saat menyadari Dava sudah berdiri di belakangnya mengekor bak anak itik.


 


Dava menempel pada tubuhnya tanpa mengatakan apapun. Kembali ia bereaksi merasa tengkuk leher sang istri.


 


"Cepat ayo masuk, Sayang. Tapi, jangan memintaku untuk menjauh." Ruth tercengang kaget mendengar permintaan sang suami.


 


Jadi maksudnya ia harus duduk di closet dengan suaminya yang terus menempel dengannya? Dava sudah benar-benar tidak bisa menghentikan aksi panasnya kali ini.


 


Niat hati ingin melakukan pemanasan yang panjang pada sang istri, namun justru dirinya yang sudah kepanasan dari awal.


 


"Dava, hei...tunggu sebentar di sini, aku cuman di kamar mandi sebentar saja." ucap Ruth yang melihat wajah merah bak kepiting rebus sang suami.

__ADS_1


 


"Ruth, aku sudah tidak tahan. Ayo masuk berdua saja." tolak Dava memohon pada sang istri dengan wajah yang sudah memelah. Matanya sudah jelas terpancar gairah yang tertahan di sana.


__ADS_2